
Saat masih menikmati Family Timenya di taman bermain.Tanpa sengaja kedua mata Tasya melihat sahabatnya bergandengan mesra dengan seorang cowok.Sepontan saja Tasya memanggil Brain siapa tahu suaminya kenal dengan cowok yang jalan bersama Debby.
Brain langsung menoleh memperhatikan arah telunjuk istrinya.Ternyata Brain mengenali cowok yang bersama Debby saat ini.Cowok itu adalah murit sekolah lain yang di kenal Brain sangat playboy.Tentu saja Tasya mendadak kawatir setelah mendengar ucapan suaminya.
Tasya tahu jika sahabatnya sangat menyukai cowok-cowok ganteng.Oleh karena itu Boy sahabat Brain yang terlihat tulus malah di abaikanya.Memang sih penampilan Boy tidak sekeren Brain.Tapi kalau di lihat-lihat sebenarnya Boy juga ganteng.
Tanya hendak menghampiri sahabatnya,tetapi di larang oleh Brain.Brain melarangnya untuk tidak usah ikut campur.Belum tentu Debby mau mendengarkan kata-katanya tentang cowok yang sedang ia kencani.
"Tapi aku tidak ingin Debby menjadi korban cowok Playboy itu,mas."
"Kita lihat saja,kalau kelewatan baru kita bertindak."
"Tapi kan kita tidak bisa tahu kegiatan mereka selama dua puluh empat jam."
"Tenang saja,kita pinjam alat-alat canggih kak Axel.Rugi jika punya kakak jenius jika tidak di manfaatkan."
"Maksudmu kita pinjam cctv dan alat rekaman tersembunyi milik kak Axel."
"Hemmm."
"Tapi hanya aku yang boleh lihat rekaman cctvnya.Takutnya pas Debby sedang ganti baju kamu lihat."
"Astaga Sya,fikiranmu jauh banget sampai ke situ.Mana mungkin aku tertarik,kamu saja sudah bikin aku kelepek-kelepek."
"Pokoknya hanya aku yang boleh lihat."
"Iya sayang,lagian masih juga rencana belum juga ngomong sama yang punya."
"Ayo kita pulang,aku sudah kawatir dengan Debby."
__ADS_1
Tidak ada pilihan lain selain menuruti kemauan istrinya.Tasya jika sudah panik,pasti bakalan ngomel terus kalau tidak di turuti.Alhasil acara family time hari ini hanya berlangsung sebentar saja.
Namun saat mereka akan meninggalkan taman bermain.Brain melihat Boy,diam-diam sahabatnya ternyata mengikuti Debby.Bisa di lihat dari gepalan tanganya.Sepertinya sahabatnya saat ini sedang memendam kemarahan.
"Kenapa berhenti,Mas?"
Tanpa menjawab,Brain langsung meminta istrinya diam.Telunjuk tanganya mengarah kepada seseorang di sebrang sana.Tasya memperhatikan baik-baik,ternya yang di tunjuk suaminya adalah Boy.
"Ngapain dia,Mas?"
"Ngelihatin sahabatmu pacaran lah,Sya."
"Ngapain juga dia kayak gitu?"
"Jadi kamu gak tahu?si Boy selama ini demen sama Debby."
Tasya menggeleng,karena dia memang benar-benar tidak tahu.Yang ia tahu,Boy anaknya suka usil.Meskipun dia sempat mendengar bahwa dia menyukai sahabatnya.Tasya fikir hanya bercanda,ternyata sahabat suaminya memang serius menyukai sahabatnya.Sedangkan Debby,Tasya tahu persis tipe cowok seperti apa yang di sukainya.Tentu saja penampilan Boy tidak masuk dalam kriteria cowok idaman sahabatnya.Meskipun jika di perhatikan,Boy aslinya ganteng.Hanya saja penampilanya terlalu sederhana.
Setibanya di rumah,Tasya lebih dulu melangkahkan kaki masuk sambil menggendong baby cessa.Brain menyusul di belkangnya sambil menggendong baby Anxel.Saat Brain baru saja masuk ke dalam rumah.Istrinya sudah tidak terlihat lagi batang hidungnya.Brain menebak,pasti Tasya sedang menemui Axel kakaknya.Dan benar saja saat Brain sudah berada di ujung anak tangga.Ia telah mendapati istrinya sedang mengobrol dengan kakaknya.Apa lagi yang ia bahas kalau bukan soal Debby dan alat-alat canggih milik kakaknya.
Brain hanya menunggu di depan pintu kamar mereka berdua.Tanpa repot-repot merayu kakaknya,ternyata istrinya lebih dulu bertindak.Terlihat wajah riang istrinya setelah keinginanya telah di dapatkan.Boy hanya menggelengkan kepala.Sebegitu semangatnya Tasya demi sahabatnya.
"Mas,di mana anak-anak?"
"Lagi bobok di kamar!Capek banget,aku tidur dulu.Nanti bangunin dua jam kemudian,ya."
"Iya deh,aku mau ngetes alat-alat ini dulu.Besok pagi aku akan memberikan gelang ini pada Debby."
"Gelang?"Tanya Brain penasaran
__ADS_1
"Ya ini yang di kasih kak Axel tadi!Gelang ini sudah di pasang alat perekam.Jadi,satu untuku dan satunya untuk Debby."
"Oh begitu!Iya sudah kalau begitu kita rahat bentar.Memangnya kamu gak capek?sini temani suamimu rebahan."
Brain langsung menarik tubuh tasya,membaringkanya di ranjang.Dia hanya mengajak Tasya tidur.Karena seharian membuat matanya sangat lelah.Apa lagi dengan memeluk istrinya yang memberi kenyamanan pada Brain.Tidak butuh waktu lama,kini dengkuran halus terdengar nyaring di telinga tasya.
Sebenarnya Tasya merasa kurang nyaman dengan posisi begini.Melihat gurat kelelahan di wajah suaminya,iapun tidak tega.Tasya memiringkan tubuhnya menatap suaminya.Kemudian ia benamkan wajahnya di dada bidang Brain.Tak lama Tasyapun ikut memejamkan matanya.
Dua jam yang mereka bilang telah terlewatkan saking pulasnya.Sehingga suara tanggis baby cessalah yang membangunkan mereka berdua.
_________________
Ke esokan harinya,ketika Brain dan Tasya yang baru saja tiba di depan kelas Tasya.Mereka tidak sengaja mendengar pertengkaran antara Boy dan Debby.
"Apa-apa'an sih lo,Boy!Gak usah ngurusin hidup gua,kenapa?"
"Gua gak mau lo salah milih cowok,Deb!gua sayang sama elo.Meskipun lo gak suka sama gua,setidaknya lo cari cowok yang jelas,gak kayak si Reno."
"Memangnya kenapa Reno?Oh,atau jangan-jangan lo iri gua jadian sama dia?"
"Di cowok Playboy asal lo tahu."
"Lo kalau iri bilang aja,gak usah jelek-jelekin cowok gua di depan gua.Reno lebih segalanya dari pada lo,Boy."
Ucapan Debby benar-benar merendahkan diri Boy.Boy semakin emosi setelah mendengar ucapan Debby.Tanganya menggepal seketika dinding di sampingnya menjadi sasaran.Brain dan Tasya yang mencuri dengarpun segera menghampiri mereka.Terlihat tangan Boy yang berdarah setelah memukul dinding.Debby di buat kaget dengan sisi lain dari Boy.
Brain segera menyeret sahabatnya dan membawanya ke UKS.Bukanya menurut,Boy malah menepis tangan sahabatnya.Boy melangkah menghampiri Debby kembali.Di tatapnya mata Debby lekat-lekat.
"Sebagai seorang cowok,harga diri gua benar-benar lo rendahin.Persetan dengan perasa'an gua ke elo.Suatu saat lo sendiri yang akan mengemis cinta pada gua.Lo juga gak akan bahagia selain bersama gua."
__ADS_1
Setelah mengucapkan kata-kata yang seperti sebuah kutukan bagi Debby.Boy melangkah meninggalkan mereka bertiga.Tidak mempedulikan tanganya yang berdarah.Cowok yang biasanya selalu ceria dan usil,kini nampak sisi lain dari dirinya.Boy tidak menuju Uks maupun kelasnya.Dia melangkah lurus keluar dari gerbang sekolah.Saat Brain hendak mengejar sahabatnya,Tasya melarang.Tasya tak ingin suaminya sampai ikutan bolos sekolah.Mungkin Boy butuh sendiri untuk menenangkan dirinya.