
Sehari setelah kejadian itu,Tasya menghampiri sahabatnya.Karena kemarin rencananya gagal,Tasya akan mencobanya lagi hari ini.Tasya melihat binar bahagia di wajah sahabatnya saat berbalas chating yang dia yakini adalah Reno.Tasya duduk di sebelah sahabatnya sambil memberikan gelang pemberian Axel.
"Ini maksudnya gimana,Sya?"
"Buat kamu Debby,ini gelang couplean sama aku.Nih lihat punyaku,kamu wajib pakai dan jangan sampai di lepas.Jika sampai kamu lepasin,jangan anggap aku sebagai sahabatmu."
Akhirnya rencana Tasya berjalan dengan lancar berkat ancaman recehnya.Setidaknya dia sudah bisa bernafas lega.Mulai sekarang Tasya bisa tahu di manapun Debby berada.Tasya juga bisa mendengar setiap percakapan Debby dengan orang lain.
Saking senangnya,Tasya mengajak Debby makan bareng di kantin.Debby tidak menolak,dia bahkan dengan senang hati mengikuti sahabatnya.
Semenjak kemarahan Boy waktu itu dan membuatnya meninggalkan sekolah begitu saja.Boy yang biasanya ceriwis dan selalu bertingkah usil.Seakan kebiasaanya telah menghilang dari dirinya.Terlebih saat berpapasan dengan Debby di kantin.Bahkan Boy enggan meliriknya ataupun menatapnya.
Sedangkan Debby yang melihat sikap Boy seperti itu kepadanya.Debby malah bersyukur,karena ia akhirnya terbebas dari gangguan Boy.Benny dan Brain yang melihat sikap Debby,merasa kesal.Saat Brain ingin menegur Debby,Tasya mencegahnya.Dia berkata,lebih baik dirinya saja yang menasehati sahabatnya.
Debby yang dari awal tidak menyukai Boy pun,tidak mendengarkan nasehat sahabatnya.Saat ini Debby sedang bucin-bucinya dengan Reno siswa sekolah lain.Jadi percuma saja Tasya menasehatinya panjang kali lebar.
Sedangkan Boy telah masuk ke dalam kelas dengan wajah dinginya.Brain dan Benny merasa kehilangan keceriaan sahabatnya.Tetapi keduanya tidak akan menyerah,hingga sahabatnya kembali seperti dulu.
"Woy,kutil sapi."Teriak Benny memanggil Boy
"Hmmm."Jawabnya singkat
"Gak asik lo!Kemana Boy yang seperti biasanya,woy."
Boy hanya diam saja,tidak menanggapi teguran dari Benny.Namun ketika Brain yang angkat bicara,sontak saja Boy langsung menatap Brain.Boy mulai tertarik dengan Brain yang membahas soal Debby.Namun tiba-tiba wajahnya berubah malas saat Brain juga membahas Reno.
"Udah,biarkan saja,gua sudah gak peduli sama dia."
__ADS_1
Jawaban singkat Boy tak membuat Brain diam begitu saja.Brain sudah mengenal Boy cukup lama.Jika Boy berkata tidak,itu artinya kebalikanya.Begitu pula ketika Boy berkata tidak peduli lagi dengan Debby.Itu berarti Boy sangat peduli pada Debby.
"Lo harus bisa bikin Debby putus dari Reno."
Boy yang mendengar perintah Brainpun hanya bisa memutar bola matanya malas.Sepenting dan seberharga apa,dia bagi Debby.Mana mungkin dia bisa membuat Debby putus dari Reno.
"Rubah gaya rambut lo,karena sebenarnya lo gak jelek-jelek banget,Boy."
"Pletak."
"Sialan lo,lo mau muji atau malah bikin guwa insecure,sih."
"Sudah,lo tinggal nurut saja sama perintah gua.Lama-lama gua jahit mulut lo kalau njawab terus."
Setelah bel pulang sekolah berbunyi,Brain dan Benny menyeret Boy memasuki mobil Benny.Mereka bertiga sepakat akan merubah penampilan mereka.
Ke esokan harinya saat threeo B memasuki gerbang sekolah.Mereka bertiga mengendarai motor sport yang sama.Hingga motor ketiganya berjejer rapi di parkiran.Sedangkan sang empunya melangkah bak model yang membuat mata para siswi terpana.
Jika melihat Brain yang nampak lebih keren itu biasa.Yang membuat mereka terkagum-kagum adalah penampilan Boy.Kini mereka semua memandang sisi lain pada diri Boy.Jika biasa penampilanya biasa saja.Jika biasanya Boy terlihat usil dan ceriwis.Boy yang sekarang jauh berbeda dengan Boy yang kemarin.Boy yang sekarang terlihat cool dan tampan.Itu semua berkat kedua sahabatnya.
Mereka bertiga berjalan dengan gaya coolnya melewati semua siswi yang melihatnya.Tasya yang melihat suaminyapun segera berhambul kepelukanya.Kini dia tidak sungkan-sungkan lagi bermesra'an di depan semua siswa.Sedangkan Debby yang berjalan di belakang Tasyapun menganga memperhatikan perubahan Boy.
"Gila,kenapa dia jadi sekeren itu."Gumam Debby
Boy dan Benny berjalan meninggalkan Brain yang masih kecantol ceweknya.Boy melirik Debby yang kini tak berkedip memandangnya.Tanpa tersenyum ataupun sekedar menyapa.Boy berlalu melewati Debby begitu saja.Jika biasanya dia selalu bersemangat menyapa Debby.Kini Boy bersikap dingin saat melihat gadis yang telah merendahkanya.
"Ya ampun,aku benar-benar tidak menyangka.Apakah dia benar-benar Boy?kenapa dia berubah sekeren itu."
__ADS_1
"Sumpah,mereka bertiga ganteng-ganteng semua."
"Sayangnya si Benny gak bisa di deketin."
"Ya,dia kan cowok aneh!Tidak pernah tertarik dengan lawan jenis."
"Kalau begitu Boy saja,dia ganteng banget e.Bahkan gak kalah ganteng sama prince Brain."
Begitulah suara omongan para siswi yang memuja Boy.Semua ucapan mereka terdengar jelas di telinga Debby.Entah kenapa,Debby menjadi kesal,saat para cewek mengaguminya.Tanpa dia tahu,Brain dan Tasya,diam-diam memperhatikanya.
"Sayang,kamu lihat juga,kan?"
"Ya yank,sepertinya sebagian rencana kita berhasil."
Semua ini memang bagian dari rencana Tasya dan Brain.Mereka lebih mendukung Debby dengan Boy,daripada Debby dengan Reno.Karena Boy lebih segalanya dan tulus kepada Debby.Sedangkan Reno,seorang playboy yang hanya mempermainkan Debby.
Tasya berfikir,lambat laun,Debby akan menyadari ketulusan Boy.Dan berharap sahabatnya bisa membuka mata lebar-lebar.Bahwa di lelaki tampan belum tentu yang terbaik untuknya.
Setelah menemui istrinya,Brain berjalan melangkah ke dalam kelas,bergabung dengan kedua sahabatnya.Tasya dan Debby juga telah memasuki kelas mereka sendiri.
"Sya,beneran itu tadi,Boy?"Tanya Debby
Tasya hanya menjawabnya dengan anggukan,sambil tanganya mulai membuka-buka buku pelajaran yang akan di ajarkan.Sesekali ia melirik Debby yang seperti memikirkan sesuatu.Tasya yakin,saat ini yang di fikirkan sahabatnya adalah Boy.
Pada saat jam istirahat sekolah,Tasya mengajak Debby ke kantin.Dengan sengaja,Tasya bergabung dengan suami dan kedua sahabatnya.Mereka duduk saling berdekatan dan berhadapan.Tasya yang sudah berpindah di samping Brain.Debby yang duduk di samping Benny dan berhadapan langsung dengan Boy.
Lagi-lagi Debby memandang wajah Boy yang menarik perhatianya.Sedangkan Boy membalas pura-pura tidak melihatnya.Brain memang menyuruh Boy untuk bersikap cuek kepada Debby.Tanpa di suruhpun,Boy yang masih kecewa pada Debby,enggan menatapnya.Debby merasa kesal saat mendapati Boy yang acuh kepadanya.Berbeda dengan Boy seperti biasanya yang selalu semangat jika berhadapan denganya.Merasa ada yang hilang pada sosok Boy,membuat Debby mendadak sedih.
__ADS_1