
Akhirnya Brain dan Axel sampai ke tanah air, setelah melewati beberapa hal yang membuat mereka lelah.Sengaja mereka naik taxi untuk sampai ke kediaman dirgantara.Sesuai rencana, ini adalah suprise untuk istrinya tercinta.Axel hanya menuruti saja kemauan adiknya.Ia sangat lelah, satu hal yang ia inginkan hanya ingin cepat sampai ke rumah.Memeluk istri dan kedua anaknya yang beberapa hari ia tinggal.
Sesampainya di kediaman dirgantara, Axel masih harus berdrama seperti kemauan Brain.Sambutan hangat dari Verlee dan kedua naknya, membuat Axel senang.Di susul kedua orang tuanya yang menghadangnya penuh tanya.Tentu saja mereka mengkhawatirkan nasib putra bungsunya.Axel hanya menjawab dengan jawaban beres.Yang artinya masalah memang benar-benar Beres.
Axel menanyakan di mana keberada'an Tasya saat ini.Callista dan Verlee memberitahu, dia sedang melamun di taman belakang.Akhir-akhir ini Tasya sering melamun memikirkan suaminya.Bahkan beberapa hari ini, dia tidak masuk kuliah.Tidak mau makan dan hanya menangis.Axel yang mendengarnyapun memberi kode pada Brain untuk masuk.Verlee, Jonatan dan Callista kaget melihat keberada'an Brain.Brain memberi isyarat untuk diam, karena ia kan memberi suprise untuk istrinya.Mereka semua menutup mulut masing-masing sambil melihat Brain yang melangkah pelan menghampiri istrinya.
Di taman inilah Tasya menangisi Brain hingga mata cantiknya berubah membengkak.Brain yang melihat keadaan istrinya, hatinya berdenyut sakit.Di peluknya tiba-tiba tubuh Tasya dari belakang.Di ciumnya pipi Tasya dengan lembut.Tasya tergelak segera membalikan badan, melihat siapa yang berani memeluk dan menciumnya.Matanya menatap tak percaya dengan keberada'an suaminya.
"Kenapa di saat seperti ini, bayanganmu seperti nyata, mas?"gumamnya lirih
"Ini memang nyata, sayang."Sahut Brain menatap dalam manik mata istrinya.
Tasya langsung membekap mulutnya karena ingin teriak.Tentu saja ia merasa senang suaminya pulang.Namun sejenak ia berfikir, apakah suaminya izin pulang.
"Apa kau tidak merindukanku? apa dengan memandangku saja, kau merasa puas? tidak inginkah kau memeluk suamimu ini?"
__ADS_1
Tasya langsung berhambur ke pelukan Brain.Aroma yang sangat ia rindukan, kini tercium dari indra penciumanya.Sosok pria yang sangat ia cinta dan ia rindukan kini hadir kembali di hadapanya.Sosok pria yang beberapa hari ini menguras fikiranya, telah kembali.Tasya tak tahan untuk tidak menangis kembali.
"Sebentar, aku ingin memandang mata istriku yang membengkak karena menangis."
"Mas, jangan ngeliatin aku seperti itu, apa lagi aku pasti jelek saat ini.Pasti di sana kamu melihat cewek yang lebih cantik dariku."
"Sayang, kamu percaya sama aku, kan?"tanya Brain dan Tasya hanya mengangguk, saat kemudian Brain mengambil alih tangan Tasya dan mencium punggung tanganya.
"Aku tidak akan membandingkanmu dengan wanita lain, sayang.Kamu adalah wanita tercantik bagiku setelah mommy.Jika aku memilihmu, berarti aku hanya ingin hidup bersamamu, bukan dengan yang lain.Hatiku sudah berhenti di kamu, meskipun banyak wanita yang menyukaiku, aku tetap milih kamu, sya."
"Aku tidak apa-apa mas, aku percaya sama kamu.Bahkan Tasya masih bisa tersenyum saat ia masih menangis.Brain memeluk kembali istrinya, meresapi dan menuntaskan kerinduanya.
"Di mana putri kita, sayang?"
"Dia sedang tidur mas, apa kau ingin melihatnya?"tanya Tasya di angguki Brain.Mereka berjalan melewati keluarganya yang masih menunggu jawaban dari Brain.Axel menyarankan nanti saja, ada waktu untuk membahas semuanya.Melihat Brain masuk kamar, Axelpun ikutan menarik istrinya masuk kamar.Jonatan dan Callista hanya menggeleng melihat kelakuan kedua putranya.Apa lagi anak-anak merek di titipkan semua pada Jonatan dan Callista.Mereka sudah bisa menebak, apa yang ingin di lakukan kedua putranya.Karena mereka juga pernah muda, jadi mereka faham betul.
__ADS_1
Malam harinya ketika mereka semua berkumpul di ruang keluarga.Brain dan Axel menjawab pertanyaan dari mereka semua.Bahwa kejadian itu murni jebakan dan Brain tidak melakukan hal seperti yang mereka fikirkan.Semua merasa lega dengan jawaban keduanya termasuk Tasya.Rasa takutnya jika suaminya berpaling hati, membuatnya setres.Kini Tasya merasa lega, suaminya hanya miliknya dan selamanya hanya miliknya.
Tidak hanya itu, ternyata Brain juga membahas rencana resepsi pernikahanya.Brain tidak ingin ada lagi Arabella-arabella yang lainya.Ia tidak mau istrinya bersedih lagi.Maka dari itu dia memutuskan mempublikasi hubunganya dengan Tasya.Menyelenggarakan pesta resepsi pernikahan yang sangat mewah.Kalau bisa acaranya di buat live agar semua orang tahu dirinya milik siapa.
Jelas semua keluarganya terkejut mendengar kabar mendadak dari Brain.Kecuali Axel yang memang sudah tahu semuanya.Jonatan dan Callista hanya menyerahkan semua keputusan pada putra bungsunya.Melihat Tasya dan Brain bahagia, merekapun tersenyum.
Lagi pula putra bungsunya sudah dewasa, bukan lagi anak SMA.Dia juga sudah mandiri, memiliki bisnis yang bercabang di berbagai daerah.Untuk apa lagi menyembunyikan setatus yang sudah lama di persatukan.
Bagi Brain, Tasya juga wanita yang sabar dan kuat.Dia tetap mencintainya meskipun dulu di hatinya hanya ada almarhum mona.Dia juga mencintai dan menyayangi putrinya, meskipun bukan darah dagingnya sendiri.Dia bahkan rela mengorbankan kebahagiaanya sendiri demi orang yang ia sayangi.Hal seperti itu hanya di miliki oleh perempuan yang tulus dan kuat seperti Tasya.Tidak di pungkiri, ketulusanyalah yang membuat Brain menyayanginya.Bahkan semua orangpun yang melihat ketulusanya akan langsung menyukainya.Kadang beberapa orang tidak sadar, bahwa dari ketulusan itulah yang membuat kita merasa nyaman.Sebrengsek apapun seorang pria, pasti akan memilih wanita baik-baik sebagai pendampingnya dan ibu dari anak-anaknya.
"Kapan resepsinya di selenggarakan? Daddy akan menyiapkan pesta yang mewah untukmu."
"Tidak usah Dad, aku akan menyiapkanya sendiri.Kalian semua cukup persiapkan diri kalian untuk memeriahkan pesta pernikahan kami."Ucap Brain, semua keluarganya hanya mengangguk saja.Bagaimanapun Brain ingin membuat pesta atas keinginanya dan Tasya.Tanpa ikut campuran Orang tua bahkan kakaknya.
Brain menatap wajah Tasya yang dari tadi terus memperhatikanya.Wajah ayunya yang cemakin cantik dari hari ke hari.Lalu pandanganya berpindah pada gadis kecil bergaya tomboy yaitu Cessa putrinya.Brain tersenyum setelah melihat putrinya, seketika ia mengingat almarhumah mona.Gadis cantik dengan cirikas gaya tomboynya yang tidak mengurangi kecantikanya.Namun putrinya bukan hanya tomboy saja.Sepertinya, kelak jika dia sudah dewasa akan menjadi wanita tak terkalahkan.Semua sudah terlihat semenjak Cessa masih kecil.Mewarisi ketomboyan Mona, wajah yang mirip Brain dan Bakat keturunan dari Axel unclenya yang jenius.Namun karena didikan dari Tasya yang sabar dan lembut.Cessa kecil juga menuruni hati selembut Tasya ibu sambungnya.
__ADS_1