
Sesampainya di rumah, Tasya langsung tidur di ranjang king sizenya. Tidak tahu kenapa, semenjak hamil bawa'anya ngantuk terus. Brain yang melihat istrinya sudah pulas, membantu Tasya yang lupa melepas kaos kakinya. Bahkan baju saja, dia belum sempat menggantinya.
Tasya tidur sudah menyerupai mayat hidup. Bahkan ketika Brain membuka seluruh bajunyapun, Tasya sama sekali tidak terganggu. Brain membantu menyeka seluruh tubuh istrinya, mulai dari wajah hingga telapak kaki. Setelahnya, ia membantu Tasya berganti baju rumahan.
Brain melihat perut istrinya yang masih datar, karena kehamilanya masih berusia beberapa minggu. Di elus dan di ciumnya penuh sayang, berharap istri dan calon bayinya selalu di beri kesehatan. Terbesit di fikiranya membayangkan tentang masalalu. Bagaiman masa-masa sulit sahabatnya dulu, ketika mengandung putri pertama mereka. Pasti sangatlah sulit, bahkan Mona menjalaninya sendiri tanpa bantuan Brain.
Brain akan menebus semuanya dengan menjaga kehamilan Tasya dengan sebaik-baiknya. Dia akan menjadi suami siaga, hingga bayinya terlahir ke dunia. Dia juga akan menjadi orang pertama yang menggendong bayinya setelah di lahirkan.
"Baik-baik di dalam perut bunda, nak! Ayah akan selalu melindungi kalian berdua," ucap Brain, memandang perut datar istrinya.
"Ayah pergi sebentar, jangan biarkan bunda bangun sebelum ayah pulang," pamit Brain kepada calon bayinya.
Brain pergi ke cafe pusat, untuk mengecek laporan bulanan. Mumpung istrinya sedang tidur, karena jika Tasya terbangun, pasti tidak akan mengizinkan Brain pergi. Dengan mengendarai motor sport kesayanganya, Brain bisa leluasa mencari jalan pintas. Karena jika Brain memilih jalan utama, maka kemacetan yang akan ia dapati.
Tidak lama setelah itu Tasya terbangun dari tidurnya, dan mendapati dirinya sudah berpakaian berbeda. Tasya melihat ke sekeliling ranjang, tidak mendapati sosok suaminya. Tasya keluar kamar sambil menangis mencari suaminya. Semenjak hamil, Tasya lebih sensitif dan mudah menangis. Verlee yang berpengalamanpun, ketika melihat adik iparnya menangis, ia langsung menghampirinya.
"Kenapa, Sya?" tanya Verlee sambil menggendong putra keduanya.
"Kak Ver, lihat suamiku, gak?" tanya Tasya
"Tadi ku lihat dia keluar, kurang lebih setengah jam yang lalu," jawab Verlee
Lalu Callista yang sedang bermain dengan cucu-cucunya, menghampiri kedua menantunya. Melihat Tasya menangis mencari Brain, Callistapun segera menelpon putra bungsunya.
__ADS_1
Panggilan pertama tidak di jawab oleh Brain, membuat Callista menelponya lagi hingga lima kali. Namun tiada satupun yang di angkat oleh Brain. Melihat itu, Tasya semakin menangis menghawatirkan suaminya. Bahkan bukan hanya Tasya yang menngis saat ini. Putra kedua Verlee juga ikutan menangis, membuat kediaman Dirgantra menjadi ramai dengan suara tangisan.
Tak lama orang yang di cari-cari dari tadi pulang. Terdengar dari suara motor sportnya yang sedang masuk di di dalam garasi. Tasya langsung berlari menghampiri suaminya. Brain langsung melotot ketika melihat istrinya berlari.
"Stop," teriak Brain, membuat Tasya menangis kembali karena kaget. Tasya mengira suaminya sedang membentaknya. Padahal Brain hanya reflek karena takut terjadi sesuatu pada istri dan calon bayinya. Melihat istrinya menangis, Brainpun segera menghampirinya dan memeluknya.
"Sayang ma'af! Bukan maksutku membentakmu, papa hanya kawatir denganmu dan kehamilanmu. Jangan lari-lari lagi, kamu harus hati-hati, ada bayi kita di dalam sini," ucap Brain pelan, sambil tanganya mengelus perut datar istrinya. Tasya yang baru sadarpun, meminta maaf pada Brain.
Brain mengajak masuk istrinya, dan di dalam sudah ada Callista yang menunggu putranya untuk ia omeli. Melihat tanda-tanda bahaya, Brain segera mengajak Tasya ke kamar mereka. Namun percuma saja, mommynya sudah menyuruhnya berhenti di tempat. Mau tidak mau, Brainpun berhenti dan siap mendengarkan omelan dari mommynya.
"Kemana saja kamu Brain? Istri kamu nyari'in kamu sampai nangis," tanya Callista sambil berkacak pinggang.
"Ngecek data bulanan di cafe pusat, Mom," jawab Brain.
Selesai mendengarkan omelan mommynya, Brin mengajak istri dan putrinya ke dalam kamar mereka. Brain meminta istrinya untuk duduk dulu di ranjang. Sedangkan dia akan membantu mandi putrinya. Namun gadis kecil itu menolak di mandikan ayahnya. Dia meminta di mandikan oleh Tasya, bundanya. Karena takut terjadi sesuatu pada istrinya. Apa lagi putrinya yang satu ini sangat super nakal dan aktif. Brain memberi nasehat pelan-pelan kepada Cessa. Berharap putrinya yang nakal ini bisa memahami ucapanya.
"Sayangnya ayah, bunda sedang mengandung, di dalam perut bunda ada adik bayi, jadi mulai sekarang, papa yang mandi'in, Prince," ucap Brain sengaja memanggil putrinya dengan sebutan Prince. Karena saat merayu putrinya, dia harus memanggilnya Prince, agar putrinya menuruti permintaanya.
"Kenapa harus begitu, ayah?" tanyanya polos.
"Karena bunda harus banyak istirahat! Jadi Prince harus menjadi calon kakak yang baik. Prince ingin adik bayi dan bunda selalu sehat, bukan?" tanya Brain, Cessapun mengangguk. Bahkan gadis kecil itu ingin mandi sendiri tanpa bantuan siapapun. Brinpun membiarkan saja kemauan putrinya. Tapi dia tetap berjaga-jaga di depan pintu kamar mandi, hanya sekedar menemani dan mengawasi. Takut putri kecilnya terjatuh atau membutuhkan sesuatu.
Setelah selesai mandi, Cessa juga menolak ketika Brain membantunya memakai kaos dan celananya. Semenjak mendengar nasehat dari papanya, Cessa berubah menjadi gadis yang manis dan mandiri. Bukan itu saja, bahkan biasnya ia selalu meminta bundanya untuk menyuapinya saat makan. Kini bocah kecil itu memakan sendiri makananya.
__ADS_1
"Duh cucu grandma kok makin pintar, sih," puji Callista
"Kata ayah, aku harus jadi kakak yang baik, melindungi bunda dan adik bayi, jadi kakak yang baik harus bisa makan sendiri, grandma," ucap Cessa, saat mulutnya penuh dengan nasi beserta lauknya. Membut bocah nakal itu menjadi makin menggemaskan.
"Wah, Cessa pintar sekarang, ya," puji Jonatan, langsung kena omel cucunya, karena memanggilnya Cessa. Semua menertawai lelaki yang tidak lagi muda itu. Namun tetap terlihat gagah di usianya yang tak lagi muda.
Mereka semua memang suka lupa harus mengganti panggilan Cessa menjadi Prince. Anak Brain yang satu ini memang sangat special nakalnya. Walaupun nakal, Cessa sangat jenius, mirip bnget dengan unclenya.
"Anxel, coba lihat Prince! Bukankah Prince semakin pintar karena makan sendiri," ucap Verlee pada putra pertamanya.
"Anxel tidak mau seperti Prince, Anxel maunya tetap di suapin bunda," tolak Anxel
Callista tertawa melihat kedua cucunya, Jonatan langsung bertanya, hal apa yang membuat istrinya tertawa. Ternyata Callista mengingat masa kecil kedua putranya. Namun dalam versi yang terbalik, karena sifat putra-putranya kini di warisi pada kedua cucunya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Akhirnya anak nakal pintar juga🤭
Penasaran dengan anak Brain dan Tasya, yang ke dua
Kira-kira mirip siapa, ya?
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
__ADS_1