
Menurut perkira'an, Tasya akan melahirkan dua bulan lagi. Bahkan Brain selalu siaga menemani istrinya di rumah. Setiap pagi, Brain selalu mengajak istrinya jalan-jalan pagi. Kata Mommynya, mengajak jalan ibu hamil, akan mempermudah saat persalinan.
Brain dan Tasya, sudah tidak sabar menanti kelahiran sang buah hati. Brain ingin menjadi orang pertama yang menyaksikan kelahiran anak keduanya. Ia ingin selalu berada di sisi istrinya , ketika Tasya berjuang melahirkan bayi mereka. Bahkan untuk meninggalkan Tasya sebentar saja, Brain merasa takut.
Tasya sudah berkali-kali mengatakan bahwa ia tidak akan kenapa-kenapa. Ia tidak ingin suaminya terlalu menghawatirkanya. Karena Tasya telah meyakinkan Brain, Brainpun pamitan sebentar untuk sekedar mengecek cafe pusat miliknya. Dengan menitipkan istrinya kepada mommynya, setidaknya Brain tidak akan cemas lagi.
Satu jam setelah kepergian suaminya, Tasya mengeluh sakit pada perutnya. Bahkan Tasya mengeluh kesakitan. Saking sakitnya, keringat dingin bercucuran di dahinya. Bahkan wajahnyapun terlihat sangat pucat. Callista sangat menghawatirkan keadaan menantunya. Jonatan segera meminta supir untuk menyiapkan mobil untuk mereka. Callista dan Jonatan, akan membawa menantu mereka ke rumah sakit.
Tasya terus saja mengerang kesakitan, Callista semakin menghawatirkan menantunya. Bahkan Jonatan mencoba berkali-kali menghubungi Brain. Brain belum juga mengangkat telpon dari daddynya. Sedangkan Tasya terus-menerus memanggil-manggil nama suaminya. Akhirnya Jonatan menghubungi Axel yang sedang mengajak anak-anaknya jalan-jalan.
"Mom, sakit banget, mom," Tasya masih mengerang kesakitan.
"Sabar sayang, ya! Sebentar lagi kita akan sampai," ucap Callista.
Setibanya di rumah sakit, Tasya terpaksa harus di oprasi. Padahal kehamilanya masih menginjak usia delapan bulan. Namun sebelumnya pihak rumah sakit ingin meminta persetujuan dari suami pasien.
"Maaf pak, bu! Mana suami nona Tasya?" tanya Dokter.
"Suaminya sedang dalam perjalanan menuju kesini, dok. Memangnya ada apa dok? Apa menantu kami baik-baik saja?" tanya Callista kawatir.
"Maaf, nona Tasya harus segera di operasi caesar, karena masalah dengan plasentanya. Kami harus segera mendapatkan izin dari suami pasien, sebelum melakukan operasi," ucap sang Dokter menjelaskan.
"Mom, Dad! Doketer bagaimana kondisi instri saya?" tanya Brain ngos-ngosan karena berlari agar cepat sampai ke ruang bersalin.
"Anda suami nona Tasya? Maaf, istri anda harus segera di operasi caesar. Karena masalah dengan plasenta, apakah anda mengizinkan?"
"Lakukan, dok! Lakukan apa saja, asal istri dan bayi saya bisa selamat," ucap Brain dalam kondisi panik.
Setelah mendapat izin dari sang suami, dokterpun segera melakukan oprasi caesar. Brain ikut masuk bersama dokter dan para suster ke dalam ruang operasi. Di sana Brain melihat istrinya akan di beri suntikan bius. Brain mendekati istrinya yang sangat pucat. Tentu saja hal itu menambah kekawatiran pada diri Brain. Namun Brain mencoba untuk bersikap biasa, agar istrinya tidak mencemaskanya.
"Yank, jangan tinggalin aku! Tetap temani aku di sini," pinta Tasya, Brain mengangguk meyakinkan sang istri.
__ADS_1
Setelah obat bius di suntikan ke tubuh Tasya, kini penglihatan Tasya mulai kabur. Tidak lama setelahnya, Tasyapun tertidur. Brain ingin menutup matanya, ketika pisau bedah mulai menggores perut buncit istrinya. Brain benar-benar ikut merasakan kesakitan sang istri, walau hanya menyaksikanya. Sang dokter dengan cekatan telah menggores tubuh Tasya.
Brain terus berdoa demi keselamatan istri dan bayinya. Di luar ruang oprasi, Callista dan jonatan tak henti-hentinya berdoa, demi keselamatan menantu dan juga cucu mereka.
Axel datang bersama istrinya, putra-putranya dan juga Cessa. Mereka baru mendengar Tasya di bawa ke rumah sakit. Setelah mendengarnya, merekapun langsung menuju ke rumah sakit.
Tidak lama kemudian, suara tangis bayi menggema sangat keras. Membuat mereka semua bersyukur, terutama Brain di dalam ruang oprasi menangis haru. Dia baru tahu dan menyaksikan sendiri pengorbanan seorang ibu ketika melahirkan.
"Selamat tuan Brain! Putri dan istri anda selamat," ucap Dokter
Brain mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya kepada dokter yang telah membantu oprasi istrinya. Sehingga sang istri dan sang buah hati bisa terselamatkan.
"Karena nona Tasya belum siuman dan kondisi bayi masih lemah, kami akan membawa bayi anda ke ruangan bayi dan menghangatkan tubuhnya di inkubator," ucap Dokter.
Brain segera mencium sang istri, tak lupa ia juga mengucapkan terimakasih kepada istrinya. Tak lama kemudian, Tasya sudah di pindahkan ke ruang rawat. Semua keluarga masuk ke ruang rawat Tasya. Tak lama Tasyapun membuka matanya perlahan. Matanya menyusuri ruangan, meraba perutnya dan mencari bayinya.
"Sayang! Kau sudah sadar?" tanya Brain yang merasa perherakan istrinya.
"Sya, kamu sudah sadar, nak," ucao Callista bersyukur.
"Di mana bayi kita, yah?" tanya Tasya pada Brain.
"Bayi kita di ruang bayi, sayang! Dia berada di inkubator, agar tubuhnya hangat," ucap Brain.
"Aku ingin melihatnya, yah! Dia perempuan atau laki-laki?" tanya Tasya, karena selama ini mereka sengaja didak memeriksakan jenis kelamin sang bayi.
"Bayi kita perempuan, sayang! Kita memiliki dua putri, sekarang," jawab Brain, membelai lembut pipi istrinya.
Brain terlihat sangat mencintai istrinya, hal itu di saksikan sendiri oleh kedua orang tua dan kakaknya. Mereka sampai heran, Brain yang dulu usil dan pecicilan, ternyata bisa menjadi sosok ayah dan suami yang baik. Terlihat dari cara dia memperlakukan istrinya sekarang.
Cessa mendekat ke ranjang bundanya, Brain segera menggendong putrinya ke pangkuanya.
__ADS_1
"Ayah, Bunda! Dimana adik bayinya?" tanya Cessa.
"Adik bayi sedang tidur di ruangan bayi, sayang," jawab Brain.
"Aku ingin melihat adiku, ayah."
"Tunggu Dokter mengizinkan, karena adik bayi sekarang masih sangat kecil. Jadi, kita belum bisa menggendongnya kemari," ucap Brain memberi pengertian pada putri pertamanya.
"Oh begitu! Siapa nama adiku, ayah?"
Brain memandang istrinya, Tasyapun menyerahkan nama putrinya pada Brain.
"Nama adik bayinya adalah Queenie Aileen yang berarti ratu cahaya," jawab Brain.
"Nama yang bagus! Selamat untuk kalian berdua, adik-adiku," ucap Axel
"Selamat, dek," ucap Verlee mencium kedua pipi Tasya.
Setelah itu, karena kondisi Tasya masih lemah, dokter meminta Tasya untuk beristirahat. Callista, Jonatan, Axel, Verlee beserta anak-anak keluar dari ruangan. Kini tinggal menyisakan Brain yang menemani istrinya tidur. Sebelumnya, Cessa sempat merengek ingin tetap menemani bundanya. Axel menakut-nakuti, jika ia tetap tinggal, maka Dokter akan menyuntik bokongnya. Gadis kecil itupun takut dan akhirnya mau ikut pulang bersama Axel.
Brain masih terjaga, ia tidak ikut tidur, ia takut jika istrinya membutuhkan bantuanya. Oleh karena itu Brain tetap terjaga menemani istrinya. Sesekali ia merasa kasihan atas semua perjuangan istrinya, demi melahirkan putri kedua mereka. Membayangkan pada saat oprasi tadi, Brain berjanji tidak akan menyakiti hati Mommy dan juga istrinya. Mengingat perjuangan mereka begitu besar dalam melahirkan seorang bayi.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Selamat untuk Brain dan Tasya, atas kelahiran putri ke dua.
Bay the way, nama putri kedua Brain dan Tasya bagus, kan?
Queenie Aileen yang berarti ratu cahaya
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
__ADS_1