Secret Married With My Ex Boyfriend

Secret Married With My Ex Boyfriend
di introgasi


__ADS_3

Suasana di dalam UKS saat ini seperti di sebuah taman bunga yang di penuhi beraneka jenis bunga yang sedang bermekaran. Seperti halnya hati Tasya saat ini yang sedang berbunga-bunga. Kebahagiaan Tasya kali ini sangat sulit untuk di ungkapkan. Bagaimana tidak bahagia jika membayangkan suaminya tadi membelanya, menolongnya, mengobatinya. Bahkan yang menurut Tasya paling sweet adalah ketika Brain menggendongnya ala bridal style.


"Kira-kira boleh gak ya aku berharap di perlakukan seperti tadi lagi," gumam Tasya dalam hatinya.


"Jangan berharap terlalu tinggi jika akhirnya lo terjatuh, Sya. Mungkin tadi Brain memperlakukanmu dengan sangat manis. Fikirkan nanti, besok dan seterusnya dia akan kembali pada mode awal,"(kata hati tasya sisi kiri)


"Lo harus perjuangin suami lo,sya.Luluhkan hatinya,,jangan mudah putus asa.Karena cinta untuk di perjuangkan bukan di biarkan begitu saja," (kata hati tasya sisi kakan)


"Ya kalian berdua benar semua, jadi intinya aku harus tetap berjuang demi meluluhkan hati Brain tetapi harus tetap kuat menghadapi sikapnya saat ini," gumam Tasya dalam hati.


"Apa lo gila senyam senyum sendiri? perasa'an yang luka betis lo. Tapi kenapa kepala lo yang konslet?" ucap Brain blak-blakan tanpa di saring.


Tuh benar kan apa kataku, dia sudah kembali ke mode awal(bisik hati sebelah kiri)


"Brain, thanks ya! sudah nolongin aku, tadi. Mungkin jika kamu gak datang, pasti kamu sekarang sudah menjadi duda di tinggal mati istri karena di dorong fans bar-bar suaminya dari rooftop sekolahan.


Brain menyentil kepala Tasya karena omonganya semakin ngaco. Tasya mengaduh membalas dengan memukul lengan Brain.


"Sakit tahu, suka banget nyentil kepalaku."


"Biar fikiran lo encer gak halu mulu."


"Jangan meragukan otaku ya, gini-gini aku adalah siswi ter pintar di sekolah ini."


"Sombong," timpal Brain menyebikan bibirnya


"Kali ini memang harus sombong biar kamu ngerti, Brain."


"Diem, cerewet banget, dasar wanita," grutu Brain melirik Tasya sebentar kemudian fokus pada handphonenya.


"Brain, anterin aku ke kelas ya? aku takut ketinggalan pelajaran. Lagian kamu kok masih di sini? entar anak-anak lain tambah curiga."


"Kaki lo masih sakit, lo tidur di sini saja. Gua udah nyuruh teman lo, siapa namanya gua lupa. Yang seperti ubur-ubur terdampar di tepi pantai."


"Wkwkwkwk! kamu tuh hobby banget ceplas ceplos dan ngatain orang. Dia namanya Debby, dia teman terbaiku dari awal masuk SMA.


"Apa dia tahu tentang kita? awas lo ember ke dia tentang hubungan kita.


"Gak! yang dia tahu kamu adalah mantan pacarku."


"Oke, bagus."


Seolah panjang umur orang yang baru di bicarakan tiba-tiba datang menghampiri Tasya. Debby yang terlihat cemas langsung mendekati Tasya.


"Sya, kondisi lo gimana? sorry gua baru bisa kesini."


"Udah gak papa kok Deb, gak usah kawatir."


Debby melirik Brain yang duduk di kursi dekat lemari obat. Debby mencoba menyapa Brain, entah bagaimanapun nanti responya.

__ADS_1


"Hai prince Brain."


Brain melihat sebentar sambil menganggukan kepalanya tanpa menyapa balik.


"Ya elah, Sya, nih orang kok kayak bunglon ya?bisa berubah-ubah dalam waktu sekejap," bisik Debby.


"Hahaha nah tu tahu," timpal Tasya.


"Ehemmmm! gua balik ke kelas, dan lo jagain dia," pesan Brain pada Debby.


"Siap prince!" sahut Debby dengan mata berbinar.


"Duh, Sya! ganteng banget kan prince Brain? Sayang banget dia tipenya gak kayak gua."


"Eh gua sampai kelupaan mau tanya sama lo. Tumben banget prince Brain tadi belain lo? atau jangan-jangan kalian balikan ya?"


"Eh, bantuin aku jalan ke kelas yuk Deb, bosen aku di UKS baring terus," Tasya mencoba mengalihkan pertanya'an Debby namun percuma saja.


"Jawab dulu pertanya'an gua."


"Kita gak pacaran kok."


"Serius, Sya? jadi masih ada kesempatan dong buat gua deketin prince Brain."


"Dia sudah punya pacar," timpal Tasya gak mungkin dia jawab sudah beristri. Pasti sahabatnya yang satu ini bakalan heboh dan seluruh penjuru sekolah akan geger.


"What? siapa pacarnya? cantik mana sama elo?"


Debby percaya begitu saja dengan jawaban Tasya. Padahal Tasya secara tidak langsung menunjukan bahwa dirinya sendirilah yang ia maksud.


"Ayo bantuin aku jalan, Deb."


"Nanti kalau prince Brain marah gimana, Sya?bukanya elo di suruh di sini tadi."


"Nanti aku yang hadapin dia, udah ayo bantuin aku jalan.


Mau tidak mau Debby akhirnya membantu tasya karena sahabatnya yang satu ini terus-terusan merengek minta di bawa ke kelas.


Saat mereka berjalan menelusuri koridor, mereka berpapasan dengan Acnes. Namun kali ini Acnes hanya melirik tanpa menghampiri Tasya. Mungkin karena ancaman Brain tadi pagi.


"Nenek gayung kayaknya udah kapok, Sya."


"Syukurlah kalau dia gak gangguin aku terus."


Semua mata memandang Tasya, hingga tasya menjadi risih. Mike yang baru keluar dari kantin melihat Tasya dan langsung berlari menghampirinya.


"Sya, berhenti," teriak Mike berlari.


Dengan nafas yang ngos-ngosan, Mike menghampiri Tasya.

__ADS_1


"Sya, gimana kaki lo? masih sakit? sini aku bantu jalan."


"Gak usah Mike, makasih! ini aku mau ke kelas sama Debby.


"Sya, tunggu! gua mau tanya sama elo, lo harus jawab jujur. Sebenarnya apa benar elo tunanganya sepupu Brain?


"Pasti ini ulah Brain," gumam Tasya dalam hati.


"What? elo udah tunangan sama sepupunya prince Brain, Sya? lo kok gak cerita sama gua sih?"


"Jawab, Sya," Mike lagi-lagi meminta jawaban dari Tasya.


"Siapa yang bilang? Brain?"


"Ya, dia yang bilang sama gua dan dia yang nglarang gua buat deketin elo. Tapi gua rasa yang tunangan elo bukan sepupunya melainkan Brain sendiri. Gua lihat dari cara dia belain elo tadi pagi."


Tasya ketar ketir sendiri kalau sudah di desak seperti ini. Pengen rasanya teriak memanggil Brain agar cowok itu mau membantunya menjawab pertanya'an Mike. Di tambah lagi Debby menatapnya dengan tatapan menyelidik.


"Sya, di tanya Mike tuh kok lo diem? gua juga jadi curiga jangan-jangan tunangan elo sebenarnya prince Brain, kan?"


"Aduh kalian berdua kan sudah di kasih tahu Brain kalau aku tunangan sepupunya. Jadi wajar dong jika Brain belain aku tadi pagi."


"Kalau gitu kasih lihat kita foto tunangan lo sya," ucap Debby membuat Tasya mendadak menelan salavinanya.


"Duh, mampus aku! gimana nih? lagian aku gak punya foto cowok yang bisa buat bohongin mereka. Apa gua kasih fotonya sepupu gua aja kali ya, kan lumayan ganteng si Haikal," gumam Tasya kemudian merogoh handphonenya memperlihatkan fotonya bersama Haikal.


"Nih lihat kalau kalian masih gak percaya."


Tasya menyerahkan handphonenya pada Debby. Mike pun penasaran langsung mengambil alih handphone Tasya.


"Buset, Sya, ganteng banget kalau ini, gila lo ya di kelilingi cowok ganteng-ganteng semua."


Mike yang melihat foto Haikalpun menggepalkan tanganya. Tentu saja ia kalah ganteng di banding Haikal yang wajahnya blasteran kebule-bulean.


Setelahnya Mike langsung pergi begitu saja meninggalkan Debby dan Tasya begitu saja.


"Eh kok langsung pergi dia, Sya?"


"Kalah ganteng kali makanya minder, hahahaha."


"Kalau gitu prince Brain buat gua ya, Sya?" ucap Debby berharap.


"Kan udah aku bilang dia sudah punya pacar. Mending kamu sama Mike, Boy atau Benny, tuh kan juga ganteng-ganteng.


"Kalau sama Mike atau Benny sih oke-oke aja. Tapi kalau sama sih Topeng monyet ogah gua."


"Hahaha, jangan gitu, nanti berjodoh loh kalian."


"Amit-amit sampai ke cucu-cucuku entar jangan sampai gua berjodoh sama, Boy."

__ADS_1


Tasya tetap tertawa terbahak-bahak hingga ia tidak sadar kini mereka berdua sudah sampai ke dalam kelas.


__ADS_2