
Brain membawa buah mangga begitu banyak dari pekarangan rumah Benny. Hari sudah malam, menunjukan pukul sepuluh malam. Istri cantiknya mendadak menginginkan rujak mangga. Mangganyapun harus di petik langsung dari pohonya. Untung saja, pohon mangga di pekarangan rumah Benny, sudah berbuah. Jadi, Brain tidak akan susah-susah mencarinya.
Ngomong-ngomong soal buah mangga yang di petik dari pekarangan Rumah Benny. Membuat Brain teringat waktu kakak iparnya nyidam anak pertamanya.
Flasback on
Pada saat itu, sepulang sekolah, Brain langsung kelabakan karena mendapat telpon penuh ancaman dari kakak iparnya. Kakak iparnya memintanya mencarikan buah mangga yang langsung di petik dari pohonya. Lebih repotnya lagi, kakak iparnya harus menyaksikan pada saat Brain memanjat pohon dan memetik buah mangga. Saking kesalnya, Brain terus-terusan mengumpat.
"Gak sekalian suruh manjat pohon kelapa sekalian kak?"
"Gak usah, pohon mangga aja sudah cukup hehehehe.
Rasanya brain pengen kabur saja saat ini. Ngidam kakak iparnya sangat aneh dan merugikanya.
"Apa aku ngungsi aja kemana gitu ya, sampai kak verlee lahiran biar gak minta yang aneh-aneh melulu sama gua," batin brain menggerutu
"Terus pertanya'anya pohon mangga siapa yang harus ku panjat kak?"
"Nah itu kita cari." sahut verlee membuat brain semakin pusing dan memutuskan untuk menelpon kakaknya.
Brain:Kak, istrimu gangguin aku terus toloooooooooong.
"Axel: Kenapa dengan istriku?"
"Brain: Noh, hamilnya sama kakak tapi kenapa ngidamnya terus-terusan minta ke aku sih. Nih istrimu minta rujak mangga yang mangganya harus aku sendiri yang manjat dari pohonya. Dan dia tidak tahu pohon mangga siapa yang harus di panjat.
"Axel: hahahaha, rasa-rasanya anaku sangat menyayangimu dek. Dia kasian sama ayahnya capek kerja. Mumpung ada omnya ya minta omnya deh."
"Brain: Dasar pasutri aneh nyusahin gua melulu. Cepat kesini mumpung kesabaran aku masih lima puluh persen.
Axel tertawa terbahak-bahak di ruangan kerjanya. Istri dan adiknya benar-benar sangat lucu. Tak mau lama-lama keburu adiknya makin emosi. Axel segera menuju ke cafe milik adiknya. Sesekali ia mencari info siapa pemilik pohon mangga yang boleh di petik buahnya.
Sesampainya di cafe Brain, Axel di sambut hangat oleh istrinya. Verlee memeluk tubuh suaminya sesekali mengendus aroma maskulin tubuh suaminya.
"Sayang kangen banget," ucap verlee manja
__ADS_1
"Duh manjanya buuuuk," ucap nana melihat kemesra'an pasutri di depan umum
"Biarin,iri kan lo na," timpal verlee
"Pelukan aja terus noh,,,biar gak jadi sekalian manjat pohonya," ucap brain yang baru keluar dari ruanganya
"Gimana dek sudah nemu yang punya pohon mangga?" tanya verlee
"Ada di rumah teman aku si beny."
"Ya udah kita langsung saja kesana, mana sambalnya kamu bawa sekalian ya dek," perintah verlee kepada brain.
"Ya tuan putri," ucap brain sambil menghentak-hentakan kakinya karena kesal
"Lihat tuh sayang,,,brain gak ikhlas.," ucap verlee mengadu pada Axel
"Brain," ucap Axel
"Ya kak, ayo kita berangkat, nih sambelnya satu gentong sudah ku siapkan. Nanti buat ngabisin mangga satu pohon sekalian cukup nih sambalnya," sahut brain jengkel dan membuat Axel,Verlee dan juga nana tertawa karena sikap brain yang lucu.
Mereka menuju rumah beny bersama-sama dalam satu mobil. Axel yang menyetir, brain duduk di samping kemudi.Sedangkan verlee dan nana duduk di kursi belakang.
Cukup lima belas menit jarak tempuh dari cafe ke rumah Benny. Untung saja rumah beni sepi, hanya ada beny di rumah. Pasti mereka malu jika sampai orang tua beny ada di rumah.
"Tok, tok, tok, woy bocah buka pintunya, ini gua brain."
"Jegrek," suara pintu terbuka menampakan anak laki-laki seumuran brain memakai baju bolanya.
"Woy bro, cepat banget lo sampai, padahal gua mau tidur," ucap beny kepada brain.
"Noh, kakak ipar gua yang lagi ngidam pengen ngabisin mangga muda lu yang ada di pohon tuh."
"Hehehe kak sialahkan masuk, maaf ya kak rumahnya berantakan," ucap beny malu
"Terimakasih dek kita duduk di luar sambil menyaksikan brain memanjat pohon," sahun verlee antusias
__ADS_1
"Jadi ceritanya aku langsung manjat nih kak?" tanya brain memastikan
"Iya dong, udah ileran nih lihat mangga yang minta segera di cicipin," sabut verlee
"Kak, kalau terjadi sesuatu sama aku, aku nitip baby cessa ya. Bilangin ayahnya sayang banget sama dia," ucap brain sebelum memanjat pohon mangga.Sedangkan Axel menahan ketawa melihat adiknya memanjat pohon. Dan verlee bersorak antusias menyemangati adik iparnya.
Sesekali Axel mencuri photo brain untuk dia simpan sebagai senjata. Karena adiknya yang jahil itu perlu di jahilin juga.
"Kak Er, yang mana yang di petik?" teriak brain di atas pohon mangga
"Yang itu di samping tangan kananmu dek,'' teriak verlee menunjuk mangga yang ia inginkan
"Kak, banyak rangrang, aku gak mau di gigit entar badanku bentol-bentol semua," teriak brain menolak
"Tapi aku maunya yang itu," teriak verlee tetap pada keinginanya.
"Duh bocah, masih di dalam perut bunda lu aja udah nyusahin ommu.Bagaimana ceritanya kalau lo udah lahir. Jangan nyusahin ommu ya nak, ommu ini sudah susah jangan di tambah susah," gerutu brain memberanikan diri memetik buah mangga yang di inginkan kakak iparnya tanpa mengganggu rangrang yang ada di sebelah buah mangga itu.
Setelah berhasil memetik buah mangga, badan Brain terasa gatal-gatal semuanya. Ini adalah kali pertama ia memanjat pohon mangga. Brain tidak akan mau mengulangnya lagi.
Flashback off
Mengingat itu saja, sudah membuat Brain pusing. Untung saja Tasya tidak meminta terlalu aneh seperti kakak iparnya. Setelah memetik secukupnya, Brain segera pulang, membuatkan rujak mangga untuk istri tercinta.
Tak lama mobil Brain sudah memasuki garasi mobil di kediaman Dirgantara. Dia berjalan keluar sambil menenteng buah mangga dari hasil memetiknya. Kali ini tubuh Brain tidak merasa gatal-gatas seperti sebelumnya.
Tasya yang melihat kepulangan suaminyapun merasa senang. Di intipnya dari balik jendela kaca kamarnya, untuk melihat suaminya membawa buah mangga yang ia inginkan.
Brain langsung menuju dapur, mengupas dan memotongi mangga hasil petiknya. Setelahnya, Brain mengulek sambal untuk pelengkap rujak mangganya. Di rasa rasanya cukup enak, Brainpun segera membawa rujak mangga buatanya, menuju ke kamarnya.
Ketika baru saja masuk, Brain langsung di sambut dengan mata penuh binar bahagia. Tentu saja karena suaminya mengabulkan keinginanya.
"Terimakasih, sayang," ucap Tasya, tubuhnya memeluk tubuh suaminya. Brain melepaskan pelukan istrinya sebentar. Brain meletakan rujak mangganya di atas meja. Setelahnya, ia kembali menghampiri Tasya dan memeluknya tidak terlalu erat. Karena takut menyakiti bayi di dalam perut istrinya, Brainpun melepaskan kembali pelukanya pada Tasya.
"Yuk, yank! Di makan rujak buahnya," pinta Brain, Tasya yang sudah menahan air liur dari tadipun, langsung mengiyakan.
__ADS_1
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️