Secret Married With My Ex Boyfriend

Secret Married With My Ex Boyfriend
Kesalah fahaman


__ADS_3

Seperti kata brain sore tadi bahwa malamnya mereka akan melanjutkan penyatuan panas mereka.Dan benar saja karena ulah suaminya yang di anggap maniak Sexs membuat tubuh tasya terasa sakit semua.Alhasil terpaksa hari ini tasya izin tidak masuk sekolah.


Saat ini tasya bersandar di sofa kamar mereka sambil membaca buku.Sesekali ia melirik ke arah perutnya.Tasya langsung bergidik saat membayangkan jika perutnya membuncit karena kejadian semalam.


Brain hari ini juga izin tidak masuk sekolah demi menemani istrinya.Persetan dengan anggapan teman-temanya.Niatnya hari ini hanya ingin menemani istrinya yang masih susah berjalan karena perbuatanya.


"Ngapain ngliatin perus terus?"


"Tenang saja tadi malam sudah pakai pengaman,sayang."


Tasya hanya melirik suaminya tanpa menanggapi ucapanya.Dia masih kesal kepada suaminya karena ulahnya tadi malam.Entah sudah berapa kali brain memintanya.Hingga untuk berjalanpun rasanya Tasya tak mampu.


Sebenarnya tasya malu dari kemarin sore ia belum turun ke lantai bawah.Pasti semua orang di rumah akan menduga tepat pada sasaran seperti di fikiranya.


"Kenapa lagi?"


"Udah jangan manyun terus dong!"Gak usah kawatir,gak akan hamil kok."


Ketokan pintu terdengar dari luar kamar.Callista berteriak memanggil nama brain.Dari nada suaranya terdengar seperti emosi.Tasya dan brain saling tatap karena asumsi mereka sama.


Brainpun segera turun ke lantai bawah untuk menemui Mommynya.Brain langsung memicingkan matanya ketika ia melihat seorang wanita yang sangat mirip dengan Jerry.


"Niken."


Brain memanggil nama wanita di depanya untuk memastikan kebenaranya.Ternyata brain benar wanita di depanya adalah niken mantan pacarnya waktu kelas satu SMP.


"Lama tidak jumpa bagaimana kabarmu,Brain?"


Brain menjawab kabarnya baik-baik saja saat ini.Meski mereka bersetatus mantan,tetapi brain tetap berusaha bersikap ramah.


Matanya melirik melihat mommynya yang terlihat menahan kemarahan padanya.Karena penasaran brainpun langsung bertanya.

__ADS_1


"Mom...


Belum juga brain bertanya pada Mommynya.Niken sudah lebih dulu berkata sesuatu yang mumbuat brain kaget.


"Brain,sebenarnya dia adalah anak kamu."


Ucapan Niken lolos begitu saja tanpa beban sambil menunjuk ke arah Jerry.Ucapanya membuat mata brain mendadak melotot saking kagetnya.Sedangkan Tasya yang mencuri dengarpun kaget.Tanpa sengaja Tasya memecahkan guci mahal milik mertuanya.


"Sya."Brain menoleh mencari sumber suara barang yang pecah.Di lihatnya istrinya yang berlari masuk ke dalam kamar.Tanpa melihat dulu kondisi Tasya,brain malah melanjutkan mengintrogasi Niken.


"Apa maksud lo,Ken?"


"Lo gak usah main-main sama gua,gua gak merasa pernah nidurin lo."


Niken tetap ngotot bahwa jerry adalah anak kandung brain.Baru juga Brain dan Tasya saling jujur dengan perasaan mereka berdua.Baru juga mereka merasakan indahnya penyatuan mereka berdua.Kini niken hadir dan mengacaukan semuanya.


"Apa maumu brengsek?"


"Akan gua buktikan ke elo kalau dia bukan anak gua.Sampai terbukti dia bukan anak gua,awas saja lihat apa yang bakal gua lakuin ke lo."


"Sekarang lo dan anak lo ikut gua ke rumah sakit.Gua ingin test DNA saat ini juga untuk membuktikan dia bukan anak gua."


Brain menarik kasar tangan niken dan Jerry.Niken memberontak tidak mau menuruti permintaan brain.Tentu saja ia menolak karena yang niken ucapkan barusan adalah kebohonganya.Karena terpesona dengan ketampanan brain membuat niken menuduh brain sebagai ayah kandungnya Jerry.


Sesampainya di rumah sakit,Brain langsung menemui teman kakanya yang berprovesi menjadi dokter di rumah sakit yang ia tuju.Tanpa basa basi brain menjelaskan keseluruhan kepada Sandi dokter yang menanganinya saat ini.


Keluarga brain berdatangan satu persatu ke rumah sakit kecuali istrinya.Sebenarnya brain sangat mencemaskan tasya.Namun ia harus menyelesaikan kesalah fahaman ini terlebih dahulu sebelum menemui istrinya.


Bahkan brain menyuruh dua orang pria berbadan besar untuk mengawasi niken sebelum hasil testnya keluar.Brain benar-benar emosi saat ini jika ada orang asing mengusik kehidupanya.


Bagaimana dengan tasya?brain sudah mengirim puluhan chat namun tidak satupun di balas oleh tasya.Brain merasa takut jika terjadi sesuatu pada istrinya.

__ADS_1


Tak lama kemudian asisten rumah tangga di rumah mengabari jika istrinya pergi dari rumah.Brain meminta bantuan keluarganya untuk mengawasi sampai hasil testnya keluar.


Pria itu langsung berlari meninggalkan rumah sakit untuk mencari istrinya.Bagaimanapun saat ini Tasya dan rumah tangganya lebih penting daripada segalanya.


Sedangkan tasya saat ini pulang kembali ke rumah orang tuanya.Namun sebelum pulang dia sempat berhenti di taman yang dulu sering ia datangi.


Semua mata yang berlalu lalang memandang tasya dengan iba.Itu karena matanya yang bengkak karena menangisi nasibnya.


Sebenarnya ia belum bertanya ataupun mendengar penjelasan brain secara langsung.Tetapi perkata'an mantan pacar suaminya sangat menyakitinya.Baru semalam mereka merasakan kebahagian sebagai pasangan suami istri.Tetapi keesokan harinya tasya seperti tersadar bahwa kebahagiaan yang ia rasakan semalam seperti mimpi.


Merasa puas menangisi takdirnya di taman.Tasyapun akhirnya pulang ke rumah orang tuanya yang hanya di tempati oleh asisten rumah tangganya.Dia belum siap kembali ke rumah mertuanya apa lagi bertemu suaminya.


"Lhoh non tasya pulang kok gak kasih kabar ke bibi sih?"


Itu adalah suara bi inah asisten rumah tangga yang sudah tasya anggap keluarganya sendiri.Tasya langsung memeluk asisten rumah tangganya sambil menangis.


"Non,ada apa kok datang-datang langsung nangis?"


Tasya hanya menggelengkan kepala menyembunyikan wajahnya di bahu bi inah.Faham anak majikanya ada masalah,bi inah langsung mengajak Tasya masuk ke kamarnya.Sengaja bi inah membiarkan Tasya menyendiri di kamarnya.Karena bi inah sudah hafal kebiasaan tasya jika sedang bersedih.Nanti setelah membaik dia akan keluar sendiri dari kamar.


"Non Tasya istirahat dulu,kalau ada sesuatu yang bisa bibi bantu tinggal panggil bibi saja."


Tasya mengangguk lalu menutup kamarnya dan menguncinya dari dalam.Untuk saat ini dia tidak ingin di ganggu siapapun.Handphone juga telah ia matikan dari tadi.Karena dia tahu baik brain maupun keluarganya pasti sedang mencarinya saat ini.


Hingga haripun sudah berganti petang menunjukan pukul tuju malam.Namun tasya belum juga keluar dari kamarnya.


Terlihat mobil milik Axel baru memasuki perkarangan rumah tasya.Bukan Axel yang datang melainkan Brain yang sengaja meminjam mobil kakaknya.Setelah mematikan mobil,Brain langsung masuk ke dalam rumah.Kebetulan bi inah saat itu sedang berada di teras depan.


"Bi,apa Tasya ada di sini?"


Dengan nafas yang ngos-ngosan brain bertanya kepada bi inah.Tatapan penuh kawatir nampak di wajah tampan brain.

__ADS_1


"Non tasya ada di dalam kamarnya,Den."


Brain pun langsung berlari menuju kamar Tasya.Setelah sampai brain harus menerima kekecewaan karena kamar tasya di kunci dari dalam.Dia sudah mengetuk berulang kali tetapi tidak juga di buka.Ingin mendobrak pun tidak mungkin karena ini bukan rumahnya.Akhirnya brain turun kembali ke lantai bawah untuk meminta kunci cadangan ke pada bi inah.


__ADS_2