Secret Married With My Ex Boyfriend

Secret Married With My Ex Boyfriend
Membujuk Anak Nakal


__ADS_3

Berita resepsi pernikahan Brain dan Tasya, menjadi trending toping tak berkesudahan selama seminggu. Hal itu di karenakan, keluarga Dirgantara di kenal kalangan luas. Mulai dari Jonatan Dirgantara, sang pengusaha sukses yang di takuti banyak pembisnis sainganya. Di susul tentang Axel Dirgantara, yang terkenal sebagai Ceo jenius dan mahasiswa dengan nilai tertinggi sedunia. Kemudian Brain Dirgantara, pengusaha termuda yang memiliki banyak cabang cafe dan restauran di berbagai wilayah.


Selain itu, beritanya meliput tentang mereka yang menikah di usia muda. Banyak masyarakat bertanya-tanya, bahkan ada juga yang menduga, Tasya hamil duluan. Awalnya mereka membiarkan saja, namun lama kelamaan semakin mengundang asumsi publik. Akhirnya di tangan Axel, semua account yang berkomentar negative dan menyebar berita hoak, kini telah lenyap. Untung saja mereka tidak meliput tentang Cessa kecil. Karena selama ini, tidak ada yang tahu jika Cessa adalah putri Brain di luar pernikahan. Sebuah kesalahan masalalu yang membuat Brain harus menikahi Tasya.


Setelah mengandalkan kakaknya, Brain dan Tasya kini bisa bernafas lega. Rencananya mereka akan pergi honeymoon. Karena selama ini, mereka belum pernah berbulan madu. Itupun tidak semudah apa yang mereka bayangkan. Mereka harus membujuk putrinya, agar bisa pergi honeymoon. Bahkan Cessa melarang kedua orang tuanya pergi, jika tanpanya di antara mereka. Brain dan Tasya sampai kewalahan mencari cara. Untung saja Axel bisa mengatasinya.


"Cessa," panggil Axel, lagi-lagi Cessa melarangnya memanggil dengan nama itu. Kakak satu-satunya Brain itu, langsung menghirup udara sebanyak-banyaknya, untuk menambah stok kesabaran.


"Prince, bukankah kau ingin memiliki adik banyak? nanti, jika kamu mengizinkan ayah dan bundamu pergi, mereka akan membuatka adik yang banyak untukmu," ucap Axel, membuat bola mata Tasya langsung melebar. Di tambah pipinya yang sudah blushing menahan malu. Berbeda dengan Brain yang malah mengulum senyum dan berfikiran mesum. Axel yang bisa membaca fikiran adiknyapun, segera menonyor kepala Brain, membuatnya mengaduh kesakitan.


"Jadi, ayah dan bunda akan buatin aku adik yang banyak, uncle?"


"Ya, kau benar! Jadi, biarkan ayah dan bunda pergi. Kamu di rumah nemenin Anxel dan adek Anver," ucap Axel, berharap pujukanya akan berhasil.


"Tapi kenapa aku tidak boleh ikut? Padahal aku pingin lihat cara buat adiknya, uncle," tanya Cessa membuat Axel mati kutu.

__ADS_1


"Emm, begini! Jika kamu ikut, adiknya tidak bakalan jadi-jadi.Maka dari itu kamu jangan ikut, kamu di rumah saja," ucap Axel, berharap bocah nakal di depanya ini, tidak mengajukan pertanya'an lagi.


"Memangnya, adiknya terbuat dari apa, uncle? Kenapa susah sekali bikinya," tanya Cessa, lagi-lagi membuat Axel sakit kepala.


"Adiknya itu, ciptaan Tuhan, jadi uncle tidak tahu terbuat dari apa," ucap Axel sekali lagi, jika sampai bocah nakal ini tidak mau diam. Maka ia akan kabur ke kamarnya.


"Jika adiknya buatan Tuhan, kenapa tadi uncle bilang, yang buat adik adalah ayah dan bunda?" tanya Cessa, membuat Axel lari kedalam kamarnya. Anak nakal itupun berteriak-teriak memanggil Axel. Bahkan dia tidak akan diam jika belum ada yang menjawab pertanyaanya.


Masih berteriak-teriak sambil menggedor pintu kamar Axel yang tertutup. Tasya langsung menggendong putrinya dan membawanya pergi.


"Jadi, semua yang di katakan uncle Axel, benar. Tuhanlah yang menciptakan adik, namun perantara ayah dan bunda. Seperti magic di film Disney yang biasa kamu tonton. Jadi, nanti Tuhan akan memberi magic " bim salabim" maka adiknya akan berada di sini, di dalam perut bunda,"


"Jadi seperti aku, bunda? Aku dulu juga di dalam sini?" ucap Cessa sambil mengelus perut Tasya, membuat Tasya memandang ke arah Brain. Tak lama terpaksa ia mengangguk. Karena tidak mungkin, Tasya akan menjawab anak itu bukan terlahir dari rahimnya.


"Buatin adik untuku yang banyak ya bunda, aku ingin punya adik sebelas. Aku akan menjadikan mereka team kesebelasan, dan aku akan menjadi pengawas mereka," ucap Cessa polos, membuat Tasya menganga. Sedangkan Jonatan, Callista dan Brain, sudah tertawa terbahak-bahak karena tidak kuat lagi menahan tawanya. Tasya mendengus kesal, bukanya membantu, malah menertawakan.

__ADS_1


"Di fikir aku ayam, yang bisa bertelur sebelas sekaligus," gerutu Tasya, sedangkan Brain siap-siap saja, jika harus membuat sebelas anak lagi.


"Iya deh, nanti ayah dan bunda buatkan sebelas adik untukmu. Tapi kamu harus janji, kamu harus mengizinkan ayah dan bunda pergi. Kamu tidak boleh nakal dan tidak boleh rewel. Jika kamu melanggar, maka ayah dan bunda tidak akan membuatkanmu adik," pesan Brain pada putrinya, akhirnya setelah sekian lama melewati berbagai drama. Kini anak nakal putri Brain dan Tasya itu mengizinkan mereka pergi. Soal sebelas adik untuk Cessa, mereka akan memikirkan setelah pulang dari honeymoon. Yang terpenting saat ini mereka bisa pergi honemoon.


"Ingat ya sayang, tidak boleh nakal, tidak boleh rewel, tidak boleh menyusahkan Grandma, Grandpa, Uncle dan Aunty," ucap Tasya, mengingatkan putrinya.


Akhirnya mereka bisa berangkat honeymoon dengan tenang. Pertama tujuan mereka honeymoon adalah ke Maldives. Kemudian mereka juga akan pergi ke Amalfi Coast, italia. Dua tempat yang akan menghabiskan waktu cukup lama.


Saat ini Brain dan tasya sudah berada di kamarnya. Tasya menyiapkan barang-barangnya dan juga barang-barang suaminya, yang akan di bawanya besok. Ya, setelah melalui drama panjang dari putrinya. Akhirnya besok mereka bisa pergi honeymoon. Setelah selesai, Tasya masuk ke kamar mandi. Tak lama, ia keluar dengan wajah yang sudah segar. Tasya menuju ke meja rias, untuk memakai cream malamnya. Ia juga mengoleskan lotion secukupnya ke tubuhnya.


Tiba-tiba, sebuah lengan yang berat melingkati tubuhnya. Tasya menoleh, membuat wajah Brain menempel pada wajahnya. Tasya terbuai, kini tubuhnya meringkuk di pelukan suaminya. Tanganya bergerak meraba pada sesuatu yang berdetak di dada suaminya. Tak hanya ke situ saja, bahkan tangan Tasya sudah bergerak ke atas dan kebawah. Memancing sesuatu yang tidur, kini terbangun karena ulah nakal istrinya.


Brain menatap wajah segar, natural, istrinya tanpa jarak. Tidak ada gurat kelelahan seperti kemarin setelah resepsi. Kini wajah Tasya nampak jauh lebih segar. Bahkan rambut indahnya tergerai membingkai wajah mungilnya. Mata yang jernih dan indah. Bibir yang merekah dan bahkan sinar matanya nampak jelas, bahwa dirinya merasa malu di tatap suaminya seperti itu.


"Kau ingin menggodaku, sayang? Apa perlu kita menyicil buat adik untuk Cessa?" bisik Brain dengan suara berubah menjadi parao.

__ADS_1


"Sabar, kita masih punya waktu yang banyak di maldives, besok," ucap Tasya, tak mampu mengalihkan suaminya yang sudah sangat menginginkanya.


__ADS_2