
Brain dan Tasya, menutup telinga rapat-rapat, ketika mendengar putrinya yang nakal menangis sekencang-kencangnya. Gadis kecil itu merengek meminta ayahnya menyelamatkan nelayan yang ia panggil nenek moyang. Untung saja ada Axel yang tidak kehabisan akal demi meredakan tangisan keponakanya. Di sewanya satu nelayan dengan bayaran lumayan cukup untuk makan beberapa bulan ke depan. Tentu saja nelayan itu langsung menyanggupinya.
"Prince! Coba lihatlah, nenek moyang ada di sini," ucap Axel, membuat Cessa terdiam dari tangisnya. Pandanganya tertuju kepada sosok pria berpakaian nelayan.
"Uncle, apa dia benar nenek moyang," tanya Cessa sambil menyeka sisa air matanya.
Axel mengangguk, mengiyakan pertanyaan keponakanya.
"Bukankah tadi dia pergi ke tengah laut? Lalu di mana perahunya?"
"Perahunya ada di sana, coba kamu lihat ke arah sana," jawab Axel sambil menunjuk deretan prahu yang berjejer rapi di bibir pantai.
"Nenek moyang tidak di makan ikan paus?" tanya Cessa, pria nelayan itu menoleh pada Axel, meminta bantuan harus menjawab bagaimana. Axel memintanya mengangguk melalui kode darinya.
"Uncle bohong, dia bukan nenek moyang yang tadi. Nenek moyang yang tadi hilang di makan ikan paus," ucap Cessa kembali menangis sekencang-kencangnya.
Dia fikir putri Brain bisa di tipu begitu saja, mereka salah. Axelpun menyesal telah membayar mahal nelayan itu, namun hasilnya nihil.
"Sudah diam," ucap Brain dengan suara agak meninggi.
Cessa langsung terdiam setelahnya, ia merasa takut dengan ayahnya. Di balik tubuh Tasya, bocah nakal itu kini menyembunyikan tubuhnya.
"Ayah, kau membuat putri kita takut," tegur Tasya.
Brain langsung menghampiri putrinya dan menggendongnya. Bocah itu tidak sanggup menatap wajah ayahnya, karena takut.
"Sayang, maafkan ayah! Jangan menangis lagi. Nenek moyang hanyalah cerita, di jaman sekarang dia sudah tiada, kamu mengerti?" tanya Brain.
"Bagaimana kalau kita pulang saja, kita cari nenek moyang di laptop, bagaimana?" usul Axel, membuat Cessa mengangguk bersemangat.
Kalau menyangkut soal laptop, anak itu selalu semangat. Bukan like father like daughter, tetapi like uncle like niece.
Karena putrinya pulang satu mobil dengan Axel. Kini Brain dan Tasya bisa bernafas lega, setidaknya terbebas dari kenakalan Cessa. Brain dan Tasya, mengendarai mobil mereka tepat di belakang mobil Axel.
Acara yang di rencanakan telah gagal total karena putrinya. Tak hanya di situ saja, sesampainya di kediaman Dirgantara, Brain melihat Benny yang hendak pergi. Karena yang di cari-cari, ternyata tidak berada di rumah.
__ADS_1
"Woy, ada urusan apa lo kesini?" teriak Brain, membuat Benny mengurungkan membuka mobilnya.
"Jangan teriak-teriak! Kuping gua gak budek," timpal Benny.
"Benny," teriak Cessa yang baru keluar dari mobil Axel.
"Sayang, panggil uncle! Tidak boleh memanggil nama, tidak sopan," tegur Brain pada putrinya
"Gak mau! aku maunya panggil,Benny," ucap Cessa keras kepala.
Tangan gadis kecil itu menarik tangan Benny dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. Entah kenapa tiba-tiba putrinya bisa lengket dengan sahabatnya. Brain dan Tasya membiarkan saja si single man (Benny) di tarik tanganya oleh Cessa.
"Hati-hati! Sepertinya putrimu menyukai temanmu," bisik Axel, mengusili adiknya.
"Cih, amit-amit! Yang ada, pas Cessa dewasa, si Benny sudah menjadi aki-aki," ketus Brain pada kakaknya.
Brain menyipitkan matanya karena jengah melihat putri kecilnya yang begitu lengket dengan Benny. Mengingat ucapan kakaknya barusan, membuat Brain bergidik ngeri. Namun ada untungnya juga, kehadiran Benny saat ini. Setidaknya putri nakalnya telah lupa tentang nenek moyang.
"Lihat tu bocah, akhirnya lupa dengan nenek moyang. Ah sial, untung si kunyuk datang, ada gunanya juga dia datang," ucap Brain, berbicara pada Tasya.
"Gak usah di fikir serius! impossible, kamu seperti tidak mengenal si kunyuk Benny," timpal Brain santai
"Tidak tersentuh dan cita-citanya ingin menjadi single Man, bukan," tanya Tasya memastikan.
Brain mengangguk, sembari mengangkat satu jari jempolnya. Tetapi ada yang aneh dari pandangan yang Tasya lihat. Jika Benny tidak tersentuh wanita, kenapa dia mau di sentuh putrinya. Meskipun bukan wanita dewasa, Cessa tetaplah berjenis kelamin perempuan.
"Tapi yank! Bukankah putri kita calon wanita juga? Itu lihat, bahkan Benny tidak merasa risih, saat di peluk Cessa."
Brain memandang arah jari telunjuk istrinya memberi tahu.Brain menghembuskan nafasnya, kemudian dia kibaskan tanganya ke udara.
"Sayang, putri kita masih anak-anak, di juga bergaya tomboy. Meskipun dia berjenis kelamin perempuan. Kamu lihat, kelakuanya tidak mencerminkan seorang gadis. Gaya tomboynya lebih memperlihatkan seperti anak laki-laki. Jadi, jelas saja si kunyuk tidak risih," Brain menjelaskan panjang lebar.
Tasya belum puas dengan jawaban suaminya. Bahkan Tasya masih memikirkan ucapan Axel, tadi. Melihat istrinya seolah sedang memikirkan sesuatu, Brain bertanya langsung pada istrinya. Hal apa yang membuat istrinya sampai kepikiran.
"Ada apa lagi, sih? Kamu sedang mikirin, apa?" tanya Brain, butuh jawaban dari istrinya.
__ADS_1
Apa lagi Tasya sedang hamil, dan berfikir lebih, tidak baik untuk ibu hamil. Brain yang tidak ingin istrinya setres, meminta Tasya untuk terbuka kepadanya. Melarangnya banyak fikiran,melarangnya mengerjakan sesuatu yang membuatnya lelah.
"Aku masih kefikiran tentang putri kita dan Benny, yank."
"Udah deh, yank! Gak perlu di fikirkan," ucap Brain, membimbing istrinya berjalan melewati putri dan sahabatnya, menuju ke kamar mereka berdua. Brain dan Tasya, meninggalkan Benny dan Cessa begitu saja.
"Woy, sialan kalian! Gua kesini nyari'in elo, Brain, bukan malah lo jadikan babysister anak, lo," teriak Benny, Brain menoleh sambil menjulurkan lidahnya.
"Nitip bentar saja! Gua mau nengokin adiknya Cessa," ucap Brain, menutup dan mengunci pintu kamarnya.
Sedangkan Benny terus saja mengumpat. Bahkan mulutnya mengapsen nama-nama hewan sekebun binatang, saking kesalnya.
"Sial! Gua di suruh nemanin anaknya bermain. Mereka malah main ***-*** di kamar, awas saja kalian," gumamnya kesal.
"Benny, Benny," panggil Cessa.
"Om Benny! Bukan Benny, Cessa," ucap Benny, kesal karena anak kecil di sampingnya memanggil namanya tanpa embel-embel, Om.
"Jangan panggil Cessa! Panggil aku Prince," protes Cessa, Benny memutar bola matanya.
" Suka-suka Om lah,! kamu sendiri manggil Om dengan sebutan Benny, kamu tahu,? tidak sopan memanggil orang yang lebih tua seperti itu," Benny menegur Cessa.
Namun percuma saja, karena dasarnya Cessa keras kepala, tetap memanggilnya, Benny.
"Ya sudah, kalau begitu aku pulang saja," Benny berdiri, langsung saja celananya di tarik oleh Cessa.
Untung saja, Benny mengenakan celana jeans berikat pinggang. Coba kalau Benny memakai celana kolor. Sudah pasti Burungnya terbang dari sangkarnya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Untung saja, Burungnya terselamatkan🤭
Hati-hati, kalau dekat-dekat bocah nakal, Benny😁
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
__ADS_1