Secret Married With My Ex Boyfriend

Secret Married With My Ex Boyfriend
Adik untuk Cessa


__ADS_3

Mereka berdua tidak jadi ke rumah sakit, salah satu pihak hotel memberitahu, bahwa gejala mual dan muntah-muntah yang Tasya alami, adalah tanda-tanda kehamilan. Mereka juga menganjurkan untuk mengeceknya menggunakan testpeck.


Karena tidak ingin terjadi sesuatu kepada istrinya.Akhirnya bulan madu mereka di cancel hingga Tasya benar-benar sehat. Mendengar hal itu, membuat Tasya merasa bersalah. Dia beranggapan, karenanya bulan madu mereka berdua batal.


Kini Brain dan tasya, dalam perjalanan menuju rumahnya. Tidak peduli apa yang akan orang rumah fikirkan ataupun tanyakan. Yang terpenting istrinya bisa istirahat di rumah.


Ketika mereka sudah sampai di halaman rumah. Terdengar teriakan putrinya yang gembira karena ayah dan bundanya kembali. Berbeda dengan kedua orang tuanya yang di penuhi rasa heran dan tanda tanya.Brain menggenggam tangan isyrinya, memasuki rumah.


"Ayah, Bunda, mana adik aku?" tanya Cessa dengan polosnya. Brain berjongkok mensejajarkan tingginya dengan tinggi putrinya. Perlahan Brain mengarahkan tangan mungil itu, untuk mengelus perut bundanya. Anak sekecil itu pasti kebingungan dengan yang ayahnya lakukan. Matanya mengerjap-ngerjap, seolah penuh tanya.


"Adik kamu sekarang ada di perut bunda," ucap Brain, membuat putrinya lagi-lagi kebingungan.


"Mas, kan belum di cek! Belum tentu juga positive," ujar Tasya


"Besok pagi setelah bangun tidur kamu cek, sayang," pinta Brain sambil menyerahkan bingkisan berisi testpeck yang ia beli barusan.


"Kalian kok sudah pulang? dan apa tadi kamu bilang, Brain? Tasya hamil?"


tanya Callista antusias.


"Belum pasti, mom! Kami juga belum memeriksakanya," jawab Tasya, Callista yang tidak sabaran, meminta dokter kandungan kenalanya, untuk datang ke rumah.


"Bunda, mana adik aku?" tanya Cessa yang belum puas dengan jawaban ayahnya.


Tasya mengelus rambut halus putrinya, lalu perlahan ia mengatakan, bahwa adiknya masih di dalam perut bunda.Memang dasarnya bocah nakal dan super kepo. Cessapun melayangkan banyak pertanyaan tentang adiknya. Salah satunya dalah bertanya, kenapa adiknya di dalam perut bunda.Kenapa tidak keluar dan bermain denganya.


Tasyapun menjawab, karena adiknya masih kecil dan akan keluar jika sudah sembilan bulan. Brainpun ikut berbicara, agar Cessa menjaga adik dan bundanya. Sebagai seorang kakak,cessa tidak boleh nakal lagi. Dengan polosnya, bocah kecil itu mengangguk.


"Anxel, aku punya adik," teriaknya memamerkan adiknya yang masih di dalam perut Tasya, kepada putra sulung Axel unclenya.

__ADS_1


Sedangkan Anxelpun tak kalah antusias dan bertanya di mana keberadaan adik cessa.


"Kata bunda, adiku akan keluar sembilan bulan lagi," ucapnya tertawa jenaka. Brain dan tasya ikut tersenyum mendengar celoteh keduanya. Brain mengajak istrinya untuk beristirahat di dalam kamar. Setelahnya Brain turun kembali ke lantai bawah untuk menemui mommynya.


"Mom, mana dokter yang katanya akan memeriksa Tasya?" tanya Brain, tidak sabaran.


"Masih di perjalanan! Brain, kapan istrimu terakhir datang bulan?" tanya Callista memastikan.


"Mana mungki aku tahu, mom," ucap Brain, mendapat jeweran di telinganya dari Callista.


"Suami macam apa kamu? kapan istri datang bulan, tidak tahu," ucap Callista, sedangkan Brain menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Sepertinya bulan ini , dia tidak datang bulan, mom," jawabnya


Mendengar penuturan putranya, Callitapun tersenyum senang. Karena sebentar lagi, cucunya akan bertambah. Tak lama, dokter Rita, kenalan Mommynya tiba. Brain dan Callista mengajaknya menuju kamar dan memeriksa Tasya.


"Selamat siang! Kapan terakhir datang bulan, mbak?"


Setelah mendengar dari Tasya, dokter itupun memeriksa dan berkata bahwa Tasya sedang hamil dua minggu.Mendengar kehamilan Tasya, seluruh keluarganya merasa bahagia. Bahkan saking senangnya dan tidak tahu malu.Brain sudah berteriak tentang keberhasilanya mencetak anak.


Hingga dokterpum tertawa melihat tingkahnya. Setelah semua keluar dari kamar Brain dan Tasya. Brain mendekati Tasya, berlutut sambil memegang kedua tangan Tasya. Di ciumnya punggung tangan Tasya dengan sangat lembut. Mulai sekarang, ia akan menjaga istri dan calon bayinya, yang ada di dalam kandungan istrinya.


"Mulai sekarang, kamu tidak boleh mengerjakan activitas yang berat. Kita sama-sama melindunginya, hingga bayi kita terlahir ke dunia dengan selamat dan sehat," ucapnya sambil mengelus perut Tasya yang masih Rata. Tasya mengangguk mengiyakan. Ia terharu dengan ucapan suaminya barusan.


Brain memeluk tubuh istrinya, menciumi leher jenjang istrinya. Saat ini dia sangat bahagia, setelah mendengar istrinya hamil.


"Ayah, bunda,'' panggil Cessa di balik pintu yang tertutup. Brainpun segera membukakakn pintu kamarnya untuk putrinya.Setelah pintu terbuka, gadis kecil itu langsung melompat ke atas ranjang. Membuat Brain melebarkan matanya karena kaget.


"Cessa, tidak boleh seperti itu lagi! Bukankah kamu menginginkan adik kecil? Sekarang adik kecilnya ada di dalam perut Bunda. Ingat, kamu haru jadi kakak yang baik, tidak boleh nakal, selalu menjaga bunda dan adek, mengerti?"ucap Brain, gadis kecil itu mengangguk patuh.

__ADS_1


Cessa mendekati bundanya, tiba-tiba kepalanya mendekat pada perut bundanya. Gadis kecil itu, mulai melontarkan banyak pertanya'an. Membuat kedua orang tuanya kewalahan menjawabnya.


"Bunda, adik kecil terbuat dari apa, bund?"


Brain langsung mengalihkan pertanyaan putrinya. Ia segera mengajak keluar putrinya, klau tidak, maka anak nakal itu akan semakin melontarkan banyak pertanyaan. Tasya hanya tertawa melihat tingkah anak dan ayahnya. Sesekali mengusap perut ratanya. Ada rasa nyaman pada dirinya, ada juga rasa haru yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.


Bahkan Tasya tidak menyangka, akhirnya ia bisa merasakan mengandung bayinya. Kehamilan setelah sekian lama menikah. Apa lagi, ini adalah anak dari suami yang sangat ia cintai. Brain kembali ke kamar, dan melihat istrinya tersenyum sambil mengelus perutnya.


Brain masuk dan melihat Tasya menepuk kasur di sampingnya. Ia melangkahkan kakinya mendekati ranjang tempat istrinya menyandarkan tubuhnya. Brain bertanya, adakah sesuatu seng sedang Tasya inginkan. Apapun itu, Brain pasti menurutinya dengan senang hati. Karena ia juga ingin merasakan, saat-saat istrinya ngidam. Brain juga mendadak jadi overprotektif. Ini tidak boleh, itu tidak boleh, membuat Tasya kesal.


"Sayang, aku kan cuma hamil, aku gak sakit?" rengek Tasya pada suaminya.


"Justru karena kamu sedang hamil, kamu harus patuh apapun yang aku katakan, sayang. Ini juga demi kebaikanmu dan kebaikan bayi kita," ucap Brain, menjelaskan dengan nada lembut. Karena ia juga tahu, akhir-akhir ini sikap istrinya sangat sensitive. Mudah nangis, mudah ngambek dan juga marah. Ia juga baru sadar, ternyata perubahan Tasya, karena ia sedang mengandung bayinya.


"Apa bayi kita perembuan ya, bund?" tanya Brain, mengubah panggilanya menjadi bunda. Tasya langsung tersenyum mendengarnya.Brain menatap heran setelah melihat senyuman dari istrinya.


"Kenapa malah senyam-senyum, bunda?" tanya Brain


"Gak papa kok, jadi panggilanya di ganti bunda, nih?" tanya Tasya, Brain mengangguk.


"Mulai sekarang, bukan hanya Cessa yang bisa memanggilmu, Bunda. Ayahnya juga ingin memanggil bunda, apa lagi kita harus mengajari calon bayi kita, memanggil ayah dan bunda, bukankah begitu, sayang?"


Tasya mengangguk, tidak menyangka suaminya bisa se sweet ini. Membayangkan sikap ketus suaminya dulu. Sekarang suaminya semakin dewasa, menunjukan bahwa dia adalah sosok suami dan ayah yang baik untuk anak dan istrinya.


"Ayo mandi, ayah bantuin bunda mandi, mau?" tawar Brain, tasya langsung menggeleng. Karena sudah bisa menebak, apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Ya sudah, bunda mandi sendiri, tapi gak usah di kunci pintunya. Ayah akan menunggu di sini, kalau butuh bantuan, ayah bisa langsung masuk dengan mudah," ucap Brain sambil mengelus rambut panjang istrinya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️

__ADS_1


Cieh, ganti nama panggilan🤭


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


__ADS_2