Secret Married With My Ex Boyfriend

Secret Married With My Ex Boyfriend
Pusing Karena Cessa


__ADS_3

Setelah satu jam lamanya, Tasya dan Brain sudah selesai mandi. Ketika mereka berdua menuruni anak tangga. Terdengar teriakan dari putrinya yang terlihat kesal karena menunggu mereka berdua. Brain hanya tersenyum melihat wajah masam putrinya yang menggemaskan. Ketika sudah sampai ke lantai bawah. Tasya segera menghampiri putrinya yang berwajah masam.


"Aduh anak bunda ternyata sudah mandi dan baunya harum," Tasya mencium putrinya. Sedangkan yang di cium memutar bola matanya malas. Karena bundanya baru sadar jika dirinya sudah mandi. Padahal Cessa sudah mandi dari jam tujuh pagi.


"Bunda, kata grandpa dan grandma, aku tidak boleh lagi, minta gendong sama bunda. Karena di dalam perut bunda ada adik bayinya, ya?" tanya Cessa, dengan ekspresi polosnya. Tasya mengangguk, dan mengarahkan tangan mungil putrinya, pada perutnya yang sedikit membuncit.


"Kamu pingin adik laki-laki atau perempuan?" tanya Tasya pada Cessa.


"Aku pingin adik perempuan! Aku tidak ingin adik laki-laki seperti Anxel, nakal," ucapnya, sambil melirik Anxel.


"Aku tidak nakal! Kamu yang nakal," ucap Anxel tidak terima.


"Kamu nakal, Anxel! Kamu pelit, aku pinjam mobil remot dan robot-robanmu, tapi kamu tidak mau meminjamiku," ucap Cessa, membela diri.


"Kamu perempuan, mainanmu boneka, bukan robot-robotan," sahut Anxel, tidak mau kalah.


"Bundaaaaaa, Anxel nakal," rengek Cessa, menangis sekencang-kencangnya, karena kalah debat dengan adik sepupunya. Para orang tua, pusing sendiri mendengar perdebatan dua bocah itu. Mau membela Cessa, tetapi dia salah. Mau tidak membela Anxel, tetapi ucapanya benar. Alhasil Jonatanlah sebagai kakek yang menengahi perdebatan kedua cucunya.


"Sudah-sudah! Nanti grandpa belikan kalian mainan yang sama.Jadi, ayo saling mema'afkan, saudara tidak boleh bertengkar," perintah Jonatan, tegas terhadap kedua cucunya. Dua bocah itupun saling meminta maaf dan saling memaafkan.


Sedangkan Brain mengelus perut istrinya sambil komat kamit. Berdoa agar calon anak keduanya, tidak seperti Cessa dan Anxel. Bisa-bisa kena serangan jantung dadakan. Jika sampai kedua anaknya sama-sama nakal semuanya.


"Anak ayah, baik-baik di dalam perut bunda, ya. Nanti jangan meniru kenakalan kak Anxel dan kak Cessa, ya," ucapnya pelan, namun bisa di dengan semua orang yang berada di ruang keluarga. Merekapun menertawai ucapan Brain. Bahkan Axel menakut-nakuti adiknya. Bahwa perkata'an adalah do'a dan bisa juga meleset. Mendengar perkata'an akaknya, Brain menjadi kesal.


Tidak berhenti di situ, bahkan Axel berkata, jika Brain kesal kepadanya, maka anaknya akan mirip Axel. Setelah itu, Brain langsung menarik ucapanya, sambil berkata " Amit-amit jabang bayi".


Jonatan dan Callista menertawai putra bungsunya, yang di bodohi kakaknya. Namun, meskipun hanya mitos, tetapi kebanyakan terjadi. Jika kita membenci seseorang ketika hamil. Atau Jika kita membenci seseorang ketika istri kita hamil. Maka anak mereka akan persis seperti orang yang di benci. Baik kemiripanya dari segi wajah maupun sifatnya.


Tidak ingin mendengar ucapan kakaknya, Brainpun langsung beranjak dari duduknya, ingin naik ke kamarnya lagi. Namun ketika baru tiba di anak tangga pertama. Tasya langsung mengingatkan, tujuan mereka hari ini.

__ADS_1


"Jadi kita jalan-jalanya, pa?" tanya Tasya, membuat Brain sadar karena sempat lupa. Brainpun membalikan tubuhnya, menghampiri istrinya dan menggendong putrinya. Mereka akan bermain di pantai hari ini. Axel dan Verleepun akan mengajak Anxel, ke pantai juga. Alhasil mereka berangkat menuju pantai sama-sama. Namun mereka mengendarai mobil mereka sendiri-sendiri. Brain dengan mobilnya sendiri. Axel dengan mobilnya sendiri. Sedangkan Jonatan dan Callista, menemani bayi Verlee dan Axel, di rumah.


Ketika Brain menyetir mobilnya, Tasya menceritakan tentang lagu nenek moyang kepada putrinya. Bahkan Tasya bernyanyi dan mengajari putrinya bernyayi lagu nenek moyang. Dengan cepat dan tanggap, sebentar saja, putrinya sudah hafal liryk lagunya. Bunda dan anak itupun kompak bernyanyi lagu nenek moyang. Membuat suasana mobil terasa ramai oleh suara mereka berdua yang sedang bernyanyi.


Nenek moyangku seorang pelaut


Menerjang ombak, tiada takut


Menempuh badai, sudah biasa


Angin bertiup, layar terkembang


Ombak berdebur di tepi pantai


Pemuda b'rani, bangkit sekarang


Ke laut, kita beramai-ramai


Nenek moyangku seorang pelaut


Menerjang ombak, tiada takut


Menempuh badai, sudah biasa


Angin bertiup, layar terkembang


Ombak berdebur di tepi pantai


Pemuda b'rani, bangkit sekarang

__ADS_1


Ke laut, kita beramai-ramai


Melihat Istri dan putrinya ceria, membuat sudut bibir Brain, tersenyum. Tak lama setelah mereka selesai bernyayi. Cessa yang kepoan langsung bertanya asal usul nenek moyang.Tasyapun menjawab pertanya'an putrinya, dengan sedikit pengetahuanya tentang nenek moyang.


"Ehm, jadi nenek moyang dulu adalah orang asli dari negara Taiwan. Nenek moyang berlayar dari negara Taiwan menuju Filipina. Kemudian Kemudian, mereka bermigrasi ke Indonesia melalui Sulawesi dan kemudian menyebar ke berbagai pelosok Nusantara. Tradisi pelayaran dibuktikan dengan lukisan di sejumlah dinding gua dan di relief Candi Borobudur, Jawa Tengah. Salah satunya menggambarkan manusia dengan perahunya," ucap Tasya menjelaskan sedikit pengetahuan yang ia ketahui. Meskipun cerita aslinya tidak sesingkat yang Tasya ceritakan.


"Kalau begitu, ayo kita berlayar, bunda. Cessa pingin lihat nenek moyang, bunda," ucap Cessa, membuat Tasya berfikir keras, untuk mencari jawaban. Karena nenek moyang yang ia ceritakan, kini tinggal cerita. Yang ada saat ini adalah nelayan yang mencari ikan. Ngomong-ngomong soal nelayan, Tasyapun menemukan jawabanya.


"Nanti jika kita sudah sampai di pantai, pasti kamu akan melihat nenek moyang membawa prahu, sayang," ucap Tasya, membuat Brain yang juga mendengarnyapun berfikir keras.


"Yank, maksud kamu apa? Mana ada nenek moyang di pantai yang kita tuju?" tanya Brain penasaran.


"Gampang, kita tinggal tunjuk saja nelayan yang menaiki Prahunya,"ucap Tasya enteng. Dan benar saja, ketika mereka baru saja tiba di pantai. Putrinya langsung meneriaki seseorang yang ia lihat. Seseorang itu persis seperti yang berada di cerita bundanya.


"Nenek moyang! Horeeeee, aku melihat nenek moyang. Ayah, bunda, lihatlah aku melihat nenek moyang di sana," teriak Cessa, membuat semua orang di pantai berfokus melihatnya. Brain dan Tasyapun menutupi wajah mereka karena malu. Bahkan sebelumnya Brain dan Tasya tidak menduga, putrinya akan meneriaki nelayan. Apa lagi dengan sebutan nenek moyang. Cessa benar-benar menjadi korban cerita dari bundanya. Bahkan untuk kedepanya, Brain dan Tasya harus berhati-hati dalam berucap. Apa lagi kepada anak sepintar dan suka kepoan seperti Cessa.


"Ayah, Bunda, lihatlah nenek moyangnya pergi ke tengah lautan. Ayo kita kejar nenek moyangnya, Ayah, Bunda. Nanti nenek moyangnya hilang lagi dan sulit di cari," ucap Cessa, membuat orang-orang yang mendengarnya, ikut tertawa dengan kelucuanya.


"Biarkan saja, di lautan ada ikan paus memakan manusia. Jika kamu mengejarnya, maka kamu akan di makan paus," ucap Brain, mencoba menakut-nakuti putrinya. Namun percuma saja, bahkan Brain lupa. Bahwa putrinya adalah anak jenius yang super kepo.


"Ayah, kasian nenek moyang di makan ikan paus. Ayo kita naik helikopter untuk menolongnya, Ayah," rengek Cessa, membuat Brain menjambak rambutnya sendiri karena geram pada anaknya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Astaga Cessa🤒


Bisa-bisa ayah bundamu setres mendadak, karenamu😝


Bagaimana Readers, apa kalian ingin mengadopsi Cessa?

__ADS_1


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


__ADS_2