
Benny mendorong tubuh Cessa saking terkejutnya. Bukanya Cessa yang terjatuh karena dorongan Benny. Malahan mereka berdua terjatuh secara bersama'an dalam posisi Benny menindih tubuh Cessa. Tubuh lelaki itu semakin kaku, karena sebelumnya belum pernah mengalami hal seperti ini. Benny hanya sering memergoki sahabat-sahabatnya sedang bermesra'an, itupun sikapnya biasa-biasa saja. Sangat berbeda ketika Benny mengalaminya sendiri.
Jantungnya seakan memberontak ingin keluar dari tubuhnya. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Ini benar-benar pengalaman Benny pertama kalinya, itupun hanya dengan Cessa.
"Cup," sekali lagi Cessa mencium bibir Benny.
Benny segera bangkit dan menjauhi Cessa, semakin berdekatan dengan gadis gila di depanya, semakin membahayakan untuk mereka berdua.
"Benny sayang! Kenapa kau menjauh?" protes Cessa.
"Kembali ke tempatmu Cessa! Atau aku suruh sopir kantor ini untuk mengantarmu pulang," ancam Benny.
Gadis yang sebentar lagi menikah denganya sungguh sangat gila. Cessa mampu memporak porandakan Benny dalam sekejap. Benny yang belum berpengalaman merasa ngeri dengan perlakuan Cessa. Meskipun kenyata'anya mereka sama-sama belum berpengalaman. Namun Cessa lebih berani di usianya yang masih sangat muda.
Cessa memperhatikan wajah Benny yang salah tingkah saat ia memandangnya. Sesekali Cessa menahan senyumanya. Benny sangat menggemaskan saat dirinya sedang salah tingkah.
Merasa terus saja di perhatikan Cessa, Benny mencoba mengalihkanya dengan berfokus menyelesaikan pekerja'anya. Ketika pekerja'anya telah kelar, Benny bangkit dari duduknya. Ia melihat Cessa tertidur berbaring di sofa ruanganya.
Benny berjalan pelan melangkah mendekati Cessa. Pandangan matanya segera ia alihkan ketika tidak sengaja melihat rok seragam Cessa yang tersingkap ke atas. Paha putih mulus milik Cessa terlihat jelas di depan mata Benny. Benny segera melepas jasnya dan menggunakanya untuk menutupi paha Cessa yang terekpos.
Benny berjongkok, mencoba mengamati wajah Cessa yang sedang tertidur. Benny akui Cessa sangat cantik, pahatan wajahnya sangat sempurna. Entah kenapa hanya memandang Cessa dari jarak dekat, jatung Benny berdetak. Apakah mungkin itu tanda-tanda cinta mulai bersemi.
Benny mencuri foto Cessa saat terlelap, sesekali mulutnya terbuka, membuat Benny menahan tawanya. Cessa menggeliat, Bennypun gugup hendak menjauh. Namun percuma, Cessa lebih dulu membuka matanya.
"Benny! Ngapain kamu?" tanyanya dengan suara serak.
"Emmm! Bangunin kamu lah, jadi beli cincin atau tidak?" respon Benny menahan kegugupan.
__ADS_1
Cessa langsung bangkin dengan penampilan berantakan khas bangun tidur. Melihat rambut Cessa yang berantakan, tanpa di duga, Benny membantu merapikanya. Cessa menikmati sentuhan tangan Benny ketika merapihan helaian anak rambutnya. Cessa tersenyum dengan perhatian kecil dari Benny. Manusia esnya kini mulai mencair menjadi lebih hangat. Benny tersadar, segera menjauhkan tanganya dari Cessa.
"Ayo berangkat," ucap Benny.
Cessa segera bangkit dari duduknya dan meraih lengan Benny. Mereka berdua keluar bersama, melewati sekretaris Benny yang memandang dengan ekspresi kesal. Cessa menjulurkan lidahnya kepada sekretaris Benny. Melihat tingkah Cessa, sekretaris Benny baru teringat bahwa gadis yang bersama bosnya adalah gadis resek yang menempelkan bekas permen karet di belahan dadanya. Sekretaris Benny mendengus kesal, jika Cessa tidak sedang bersama bosnya, pasti dia akan menjambak rambut Cessa.
Mereka berdua mendatangi diamond jewellery untuk memilih cincin pernikahan. Cessa sangat antusias dan memilih cicin yang berbentuk paling simpel. Karena baginya yang terpenting adalah menikahi orangnya bukan cincinya.
Cessa sangat senang, ketika tangan Benny membantunya mencoba cincin pilihanya.
"Kalian berdua pasangan serasi tuan, nona."
Mendapat pujian dari karyawan yang sedang melayani mereka berdua, membuat Cessa melambung tinggi. Pilihanya memang tepat, baginya dia dan Benny juga sangat serasi. Ternyata perbedaan usia mereka tidak terlihat jelas. Bahkan orang-orang mengira mereka seumuran. Hal itu berkat wajah baby facenya Benny.
Selesai dengan urusan memilih cincin, mereka langsung menuju butik neneknya Cessa, tak lain adalah Mita. Meskipun Mita telah menua, ia tetap cantik dan butiknya tetap saja jalan. Entak butiknya mungkin akan di jual dan di donasikan ke orang yang tidak mampu, ketika ia sudah tidak sanggup mengelolanya. Tidak ada yang penerus yang akan meneruskan butiknya. Putrinya sudah lama tiada, bahkan cucunya menolak karena bukan ahlinya.
"Eyang! Aku kangen," teriak Cessa.
Mita meneliti penampilan cucunya yang banyak berubah. Mulai dari pakaian hingga gaya rambutnya berubah jauh lebih feminim.
"Cessa! bagaimana bisa kamu berubah secantik ini, nak?"
"Tentu saja, Eyang! Sebentar lagi aku akan menjadi istri pria ini. Jadi aku akan sedikit demi sedikit merubah sikap dan penampilanku," ucap Cessa yakin.
"Masuklah kalian, eyang sudah membuatkan gaun pernikahan untukmu, Cessa," ucap Mita, mengajak cucunya masuk, melihat gaun rancanganya.
Cessa terpana melihat gaun yang begitu indah di hadapanya. Dengan penuh semangat, Cessa segera mencobanya. Cessa mengalami kesulitan saat menaikan resleting gaunya. Cessa memanggil-manggil Mita, namun yang di panggil tidak menyahut. Ternyata Mita sedang melayani pelangganya.
__ADS_1
Benny yang mendengar teriakan Cessa, segera mengetuk pintu ruang ganti. Cessa segera membuka tanpa melihat dulu siapa yang berdiri di belakangnya. Benny kaget, setelah melihat jelas punggung putih mulus milik Cessa yang terpampang indah di depan matanya. Benny gugup sekaligus gemetar, ketikamembantu Cessa menarik resleting gaunya.
"Eyang! Kok tangan eyanf gemetaran, sih?" tanya Cessa.
Benny berdehem, membuat Cessa segera membalikan tubuhnya. Cessa tersentak, ketika menyadari siapa yang membantu menarik resletingnya barusan.
"Ayang Benny! Di mana eyang?" tanyanya, celingkungan mencari keberada'an mita.
Tanpa Cessa sadari, Benny terpana memandang Cessa dari atas hingga ke bawah. Cessa sangat cantik dan terlihat jauh lebih anggun, ketika mengenakan gaun pernikahanya.
"Cantik," kata-kata itu lolos dari bibir Benny.
"Apa? Barusan kamu ngomong apa Ayang Benny?" tanya Cessa meminta Benny mengulang ucapanya.
Benny menggeleng menolak bahkan pergi kembali duduk di sofa. Berdekatan dengan Cessa, membuat dadanya bergemuruh. Aliran darahnya berhenti, pasokan udara semakin habis dan jantungnya seolah terlepas dari tubuh.membayangkan punggung mulus Cessa saja, mampu membuat sesuatu pa Benny
Cessa sangat membawa pengaruh besar pada Benny. Membuat Benny tidak fokus akibat memandang punggung putih mulus Cessa.
"Ayang Benny! Kamu kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Cessa pada Benny.
Benny mengalihkan penglihatanya, ketika dada Cesaa terekpose tepat di depan matanya.
Benny adalah pria normal, jika di suguhkan dengan pemandangan indah namun membahayakan, ia pasti tergoda. Apalagi bayangan punggung dan belahan dada Cessa sudah terekam di fikiranya. Benny menggeleng, mencoba menghapus bayangan yang terekam di fikiranya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Warning! Bahaya nih 😲
__ADS_1
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️