
Pagi ini Tasya akan memulai aksi pembalasan kepada suaminya. Namun tidak berarti dia harus melupakan rutinitasnya. Ia tetap menyiapkan buku-buku yang akan di bawa Brain hari ini. Ia juga tak lupa menyiapkan seragam suaminya dan membuatkan sarapan juga.
Karena kesal selalu di katain cupu oleh teman-temanya apa lagi saingan beratnya yaitu Acnes. Membuat tekat bulat Tasya untuk merubah penampilanya hari ini. Lagian percuma juga masih berdandan culun. Dandanan itu hanya berlaku saat penyamaranya dulu. Sedangkan saat ini, Brain sudah menjadi suami sahnya. Meskipun belum ada cinta di hati Brain untuknya. Bukan berarti dia sebagai istri akan membiarkan suaminya di rebut cewek lain.
Ibarat sudah basah mendingan berenang saja sekalian. Dia sudah melakukan dosa besar hanya demi memiliki Brain. Sampai Mona yang tidak bersalah harus menjadi korban. Tidak mungkin Tasya akan membiarkan saja perjuanganya sia-sia. Tidak harus terburu-buru agar Brain mencintainya. Ia yakin suatu saat brain akan mencintainya. Ini hanya masalah waktu yang memaksa Tasya harus tetap bersabar.
Setelah kegiatan paginya selesai, Tasya langsung bergegas untuk mandi. Saking tidak sabarnya dan takut terlambat jika ia kelama'an mandi dan berdandan. Ia segera menyudahi ritual mandinya dan berganti seragam langsung di dalam kamar mandi.
Jam sudah menunjukan pukul enam lebih. Tasya segera membangunkan Brain, agar suaminya segera mandi. Dan tumbenya Baby Cessa masih terlelap dalam tidurnya.
"Kayaknya aku dandan di dalam taxy aja kali ya?biar gak ketahuan Brain. Biar dia syok saat lihat istrinya tampil beda dan jadi rebutan para cowok. Emangnya dia aja yang bisa jadi rebutan? aku juga bisa kali," gumam Tasya, segera mencium putrinya dan berangkat sebelum suaminya keluar dari kamar mandi.
Sebelumnya Tasya menulis sesuatu dan di tempelkan pada tas Brain.
..."Aku berangkat dulu, semuanya sudah aku siapkan, Baby Cessa belum bangun, tolong nanti bangunin ya."...
...Tasya*** ^ ^...
Saat Brain keluar dari kamar mandi dan tidak mendapati istrinya di kamar. Sedangkan ia melihat anaknya masih terlelap. Brain mencoba tidak peduli di mana istrinya saat ini. Ia segera memakai seragamnya karena waktunya sudah mepet.
Setelah di rasa sudah cukup, Brain ingin membangunkan baby Cessa. Namun ia urungkan karena tidak tega. Ia mengambil tas dan menemukan selembar kertas yang ternyata pesan dari Tasya. Brain turun dan berpesan pada Mommynya untuk menjaga anaknya karena ia hampir telat.
"Mom nitip baby Cessa, dia belum bangun," ucapnya terburu-buru.
"Eh, ini bekal buatan istrimu di bawa," ucap Callista dan langsung di ambil brain.
Brain mencium mommynya dan segera tancap gas menuju sekolah. Berbeda dengan Tasya yang saat memasuki gerbang sudah menjadi pusat perhatian semua murit. Tentu saja karena penampilanya kali ini melebihi kata sangat cantik. Sampai-sampai banyak murit lain yang tidak mengenali Tasya. Ada yang mengira Tasya adalah murid baru.
Sebenarnya Tasya merasa risih menjadi pusat perhatian seisi sekolahnya. Bahkan semua mirid cowokpun terpana melihat kecantikanya.
Bertepatan Brain yang baru saja tiba di parkiran sekolah. Ia menatap heran kepada kehebohan saat itu. Dia penasaran dan bertanya pada salah satu siswa yang sedang lewat di depanya.
"Woe, ada apa tuh rame-rame?"
__ADS_1
"Kayaknya ada murid baru Brain, cantik parah, coba lo lihat."
Mata Brain melebar saat cewek yang di maksud adalah istrinya sendiriri. Brain merasa geram saat Tasya di goda para cowok. Ia bergegas menghampirinya dan menarik Tasya untuk mengikutinya.
"Ikut gua," ucapnya menarik tangan Tasya menjauh dari krumunan.
"Apa'an sih Brain? lepasin gak?" brontak Tasya.
Di rasa tempat yang mereka tuju aman, Brain segera menatap tajam istrinya.
"Ngapain lo dandan kayak gini? mau godain cowok hah?"
"Ini kan penampilan asliku, lagian aku capek dandan cupu melulu."
"Jadi lo bangga dengan penampilan lo yang kayak gini? bangga lo jadi pusat perhatian bahkan rebutan para cowok?"
"Gak jauh beda sama kamu kan?" sahut Tasya.
"Cukup Brain, cukup kamu perlakuin aku kayak gini. Kamu emang gak punya hati, jikapun kamu gak cinta sama aku. Setidaknya jangan lukai aku dengan perbuatan dan kata-katamu. Kamu anggap apa aku hah? kamu bebas jadi rebutan semua cewek. Bahkan kamu lebih percaya pada cewek lain di banding aku. Aku capek sama kamu Brain, muak aku, Tasya mengeluarkan unek-uneknya yang ia pendam selama ini. Kemudian ia berlari menahan tangis meninggalkan brain yang mengaga setelah mendengar ucapan istrinya.
Saat Tasya masuk ke dalam kelasnya semua menatapnya tak berkedip. Kecuali Debby sahabatnya yang sudah tahu penampilan asli Tasya.
"Sya, gila lo! kok lo dandan cantik lagi sih, kan aku jadi minder," keluh Debby.
"Hah, sumpah loh deblong! dia Tasya?" sahut Tomi yang mendengar teriakan Debby memanggil Tasya.
"Hai sya, lo cantik banget hari ini," ucap Mike yang menghampiri Tasya.
"Terimakasih," ucap Tasya datar karena saat ini mutnya sedang tidak baik.
Tasya melihat Brain pada balik kaca jendela yang berjalan melihat ke arahnya.Tasya segera memalingkan muka saat pandangan mereka bertemu. Sebenarnya ia tidak betah dengan sikap Brain kepadanya. Namun ia tidak mau menyerah karena rasa cintanya pada Brain dan putrinya. Bagaimanapun ia akan terus memperjuangkan rumah tangganya dengan Brain. Meskipun saat ini ia harus terus-terusan menahan sakit di dalam hatinya.
Brain:
__ADS_1
Pulang bareng gua, tunggu sampai anak-anak pulang semua. Jangan coba pulang duluan, atau aku akan meminta hakku malam ini.
Tasya membaca chat dari Brain yang penuh ancaman. Dia mendengus sebal membiarkan saja tanpa membalasnya.
"Sya, lo kok nyuekin gua sih? kenapa lo jadi balik dandan cantik sih?" tanya Debby penasaran.
"Buat mancing kadal, kalau sudah ketangkep mau aku cincang-cincang," timpal Tasya membuat Debby ngeri seketika.
"Sya, lihat tuh lirikan si Acnes kayak penuh permusuhan sama elo," ucap Debby saat melihat tatapan kebencian dari Acnes.
Tasya tidak menghiraukan perkata'an Debby bahkan tatapan tajam Acnes. Dalam hatinya merasa puas karena “Sekali Mendayung Dua Tiga Pulau Terlampaui”. Niat hati ingin membalas suaminya malah memancing kemarahan sainganya juga. Tasya tersenyum senang hingga ia melupakan kesedihanya karena Brain.
"Ya ampun, Sya, lo gila? di tatap tajam sama mak lampir malah senyam-senyum gak jelas," ucap Debby.
"Biarkan saja, paling dia kalah cantik sama aku," ujarnya percaya diri.
Sedangkan Brain yang sudah masuk kelasnya masih memikirkan ucapan Tasya barusan. Kalau di fikir memang ia mengakui kesalahanya. Ia melarang Tasya dekat-dekat dengan cowok lain. Sedangkan dia malah di buat rebutan para cewek. Parahnya lagi, Brain diam saja tanpa mempedulikan perasaan Tasya. Meskipun Brain tidak mencintai Tasya. Namun Brain tahu persis jika istrinya itu sangat mencintainya dari dulu hingga sekarang. Bahkan istrinya sampai mempunyai ide gila juga karena Brain.
"Aaaaaaark! apa gua salah?" ucap Brain, lirih sambil menjambak rambutnya dengan kedua genggaman tanganya.
"Woe, bos! lo ngapain kayak orang gi kalah main?lo tahu gak kabar pagi ini? di sekolah kita kedatangan bidadari, Bos," teriak Boy teman Brain yang suka heboh sendiri.
"Benar brow! bukanya dia si Tasya yang fotonya lo perlihatkan ke gua dulu?" sambung Benny.
"Sumpah lo Ben? dia Tasya mantan pacar Brain?" sahut Boy yang kaget maksimal.
"Ya, dia Tasya," jawab Benny.
"Jadi lo frustasi karena menyesal putus sama bidadari secantik Tasya, Bos? udah iklasin aja bos, siapa tahu dia jodoh aku," ucap Boy.
"Diam lo Boy, lihat tuh muka Brain sudah memerah padam. Mau di kirim ke kuburan apa lo kalau terus mancing dia."
Brain makin kesal namun masih mencoba mengontrol emosinya. Dia sendiri juga tidak tahu kenapa bisa sekesal ini. Ia bertekat harus meluruskan semua ini dengan istrinya sepulang sekolah. Brain melihat jam di tanganya, bel masukpun belum berbunyi. Berarti Bel pulang masih terlalu lama untuk ia tunggu. Ia sudah tidak sabar ingin segera menemui istrinya.
__ADS_1