
...Jika biasanya mereka pergi untuk kembali.Berbeda untuk sekarang dan seterusnya.Kedua orang tuanya pergi meninggalkanya untuk selama-lamanya.Tiada perpisahan yang teramat sakit,melebihi terpisah karena kematian.Begitupun yang di alami Queena Anastasya.Di abaikan kedua orang tuanya demi karir.Dan terpisah tanpa sedikitpun moment indah kebersama'an mereka untuk terakhir kalinya....
Beberapa menit setelah ia tidak sadarkan diri saking syoknya.Kini Tasya mulai membuka matanya.Sosok yang ia lihat pertama kali di sampingnya adalah Brain suaminya.
Brain merasakan pergerakan dari tangan istrinya segera mendongakan wajahnya.Di lihatnya mata istrinya dengan tatapan begitu rapuh.Brain segera memeluk tasya erat.Memberi tahunya bahwa masih ada dia yang akan selalu menemaninya.
Di usapnya butiran air mata yang menetes di pipi putihnya.Di kecupnya kening tasya beberapa kali untuk menyalurkan rasa sayang brain padanya.
"Mas,aku ingin ikut mengantarkan mami dan papi di peristirahatan mereka yang terakhir."
"Apa kamu yakin?aku takut kamu tidak kuat,sayang."
Tasya menarik nafasnya dalam-dalam untuk memberi kekuatan pada dirinya sendiri.Ia harus kuat,sebagai anak satu-satunya ia harus mengantarkan kedua orang tuanya di peristirahatan mereka yang terakhir.
Kini Brain dan tasya sudah berganti baju berwarna hitam.Haikalah yang menyiapkan baju untuk mereka berdua.Para pelayat memandang iba pada tasya yang terlihat sangat terpukul.Tidak ada air mata lagi.Bahkan ia tersenyum sambil menaburkan bunga di atas gundukan tanah.Tasya tersenyum mengantarkan kedua orang tuanya pergi.Sengaja kedua orang tuanya di makamkan di dekat rumah haikal.Karena di kota itulah kedua orang tuanya dulu berasal.Dan rumah yang di tempati haikal saat ini adalah peninggalan almarhum nenek kakeh Tasya dan Haikal.
Para pelayatpun di buatnya menangis karena ucapan Tasya di antara gundukan tanah makan kedua orang tuanya.
"Mami,papi,Tasya ikhlas mami dan papi pergi.Terimakasih telah mengenalkan Tasya pada dunia yang indah ini.Maafkan Tasya jika punya banyak salah pada mami dan papi.Maafkan Tasya jika Tasya belum bisa membahagiakan Mami dan Papi.Tanya berdoa semoga Mami dan Papi bahagia di dunia kalian yang baru.Semoga Tuhan menempatkan kalian di Surga terindahnya."
Brainpun mengelus bahu istrinya agar istrinya tidak menangis.Brain juga menyampaikan kata-kata terakhirnya untuk almarhum kedua mertuanya.
__ADS_1
"Mi,Pi,maafkan brain jika punya salah kepada mami dan papi.Brain berjanji akan selalu menjaga,melindungi dan mencintai putri kalian.Brain akan selalu menjalankan amanah dari kalian.Semoga kalian bahagia di tempat baru kalian yaitu surga yang telah di siapkan Tuhan.Kalian harus tenang dan percayakan semua pada brain.Bersama brain,Tasya akan selalu bahagia."
Tasya yang menahan air matanya agar tidak keluarpun akhirnya menetes juga setelah mendengar ucapan suaminya.Di peluknya Brain penuh sayang karena hanya dia yang ia punya saat ini di sisinya.
Haikal mengajak kedua pasutri itu untuk pulang.Karena di rumah haikal akan di adakan doa bersama untuk mengantar kepergian orang tua tasya.
Sesampainya di rumah,Haikal menyuruh Brain dan tasya untuk makan.Karena sedari tadi mereka belum makan.Haikal sangat sedih jika melihat sepupunya sedih.Papinya Tasya adalah adik dari ibunya Haikal.Sedangkan haikal sendiri juga adalah anak tunggal.Oleh karena itu Haikal begitu sayang kepada tasya.
Atas permintaan haikal,Tasya dan brainpun kini makan sepiring berdua.Brain dengan telaten menyuapi istrinya.Karena tasya tidak akan mau makan jika tidak di suapinya.
Brain dan tasya memutuskan menginap di rumah haikal.Brain juga baru sempat mengabari keluarganya.Karena saking fokusnya kepada Tasya,brain lupa mengabari keluarganya.
Alhasil Jonatan,Callista,dan Axelpun datang secara mendadak.Bagaimanapun kedua orang tua tasya adalah besan mereka.Jadi meskipun tidak bisa mengantarkan kedua orang tua tasya di peristirahatan terakhir.Merekapun masih bisa ikut dalam doa bersama.
Setelah kepulangan mertuanya,Tasyapun masuk kedalam kamar yang telah di siapkan haikal.Brain henya mengikuti kemanapun istrinya melangkahkan kakinya.Tasya termenung di jendela kamar melihat suasana luar dengan tatapan kosong.Dia masih merasa kehilangan,sebagian jiwanya telah hilang.
"Sayang."Brain menghampiri istrinya,memeluknya dari belakang.Tasyapun membalikan tubuhnya untuk mendekap erat tubuh suaminya.
"Mas,kenapa mereka secepat ini pergi ninggalin aku,hik."
Brain tidak menjawab pertanyaan istrinya.Karena dia saat ini juga menahan rasa sesak di hatinya ketika melihat kerapuhan istrinya.Brainpun tak kuasa meneteskan air matanya.Bukan berarti dia lelaki cengeng.Setelah menyeka air matanya,brainpun semakin mengeratkan pelukanya pada Tasya.
__ADS_1
"Sayang,kamu jangan sedih,kamu tahu mereka saat ini sudah bahagia di sana.Jika mereka melihatmu sedih.Maka mereka juga akan sedih,sehingga menghambat perjalanan mereka ke surga."Ucap brain menatap sendu pada istrinya yang masih terisak.
"Semua manusia pasti akan meninggal,termasuk kita.Jadi kamu harus ikhlas,karena suatu saat kita akan bertemu lagi dengan mereka."
Tasya mengangguk setelah mendengar ucapan suaminya.Brain mengajak tasya untuk istrirahat dan membaringkan tubuh istrinya di ranjang.Di tariknya selimut untuk menutupi tubuh Tasya dan tubuhnya.Brainpun memeluk istrinya hingga mereka menuju alam mimpi bersama.
Haikal yang memastikan sepupunya dan Brain sudah tidurpun tersenyum.Sempat ia mencuri dengar dan membuka sedikit pintu kamar kedua pasutri itu.Bukan bermaksut lancang,hanya saja ia begitu mengkhawatirkan kondisi Tasya.
"Syukurlah,aku tenang karena sekarang kamu memiliki suami yang begitu mencintaimu,sya."ucap haikal lirih sambil menutup pelan pintu kamar yang di tempati Brain dan Tasya.
Keesokan harinya Brain dan Tasya bersiap-siap akan pulang.Haikal beserta ibunya menyuruh Tasya dan Brain untuk sarapan dulu.Tasya sempat menolak dengan alasan belum lapar.Alhasil Brainpun akhirnya menyuapinya.Karena Tasya tidak akan menolak suapan darinya.
"Ayo sayang buka mulutnya,Aaaaaaa."
Tasya sempat menggeleng,namun tak berapa lama iapun membuka mulutnya karena tatapan Brain dan ancaman akan menghukumnya.Brain tidak menginginkan penolakan pada setiap perintahnya.Oleh karena itu Tasyapun menurut karena hukuman dari brain bisa menguras waktu dan akhirnya bolos sekolah.Semenjak menjadi suami Tasya,brain mencoba menempatkan dirinya sebagai seorang suami.Bisa bercanda,bisa alay,dan juga bisa serius pada saat tertentu.
Melihat istrinya yang patuhpun membuat brain tersenyum manis.Brain mengacak rambut istrinya saking gemasnya melihat Tasya makan sambil memanyunkan bibirnya.
"Ehemmmm."
Deheman dari haikal membuat Brain dan Tasya menoleh kepadanya.Berasa menjadi nyamuk yang menyaksikan ke sweetan pasutri di depanya.Membuat Haikal akhirnya berdehem,Brainpun tertawa melihat tingkah sepupu istrinya.Tasyapu juga tertawa mengejek sepupunya.
__ADS_1
Sontak Brain dan Haikalpun saling pandang karena melihat Tasya akhirnya bisa tertawa kembali setelah kesedihanya.Brain berharap sepulangnya mereka di Jakarta istrinya bisa tetap ceria seperti sebelumnya.