
Bel pulang sekolahpun telah berbunyi. Brain yang sudah menunggu dari tadi pagipun segera memakai jaketnya lalu menuju parkiran sepada motornya. Saat ia mau menaiki motor sportnya, tiba-tiba Acnes pura-pura mau pingsan dan membuat Brain kaget. Brain segera membantu Acnes, Acnespun langsung memeluk Brain. Acnes memang sengaja untuk memancing kemarahan Tasya.
Acnes mengulum senyum saat melihat kekesalan di wajah Tasya. Tasya langsung pergi begitu saja karena rasa cemburunya. Sedangkan Brain tidak tahu jika Tasya sempat melihatnya tadi.
"Woe, Boy, Ben! sini."
"Apa bos?" sahut Boy.
"Nih bantuin si Acnes, gua lagi buru-buru."
"Dengan senang hati! yuk Acnes cantik, sini sama babang Boy."
"Gak mau, gua bisa sendiri," tolak Acnes kesal karena Brain meninggalkanya begitu saja.
Brain menunggu Tasya tak jauh dari gerbang sekolah. Sambil menunggu Tasya ia memainkan game onlinya. Sudah satu jaman Brain menunggu Tasya namun yang ia tunggu belum juga tiba. Padahal suasana sekolah sudah sangat sepi.
Brain menelpon Tasya berkali-kali namun tiada satu panggilanyapun di angkat. Akhirnya Brain menelpon Mommynya memastikan apa Tasya sudah pulang atau belum.
"Shiiiiiiiit," Brain mengumpat kesal setelah menelpon Mommynya. Ternyata cewek yang ia tunggu dari tadi lagi-lagi mempermainkan kesabaranya.
"Asem tuh anak, dia fikir dia siapa? gak ada nurut-nurutnya sama suami. Awas lo Sya, kalau udah pulang nanti," ucap Brain tidak langsung pulang namun hendak mampir ke cafenya.
Mata Brain melebar saat berada di lampu merah. Ia tidak sengaja melihat istrinya di bonceng oleh Mike, pada arah yang berlawanan denganya. Entah bagaimana ceritanya Tasya bisa pulang bareng dengan Mike. Yang pasti hal itu membuat Brain semakin murka.
Brain melajukan motornya dengan kecepatan tinggi saat lampu sudah berwarna hijau. Brain berputar arah lalu mengikuti kemana Mike akan membawa istrinya.
Motor Mike berhenti di pusat perbelanja'an(Mall), yang membuat Brain berdecik kesal. Brain terus mengikuti mereka dari belakang.
"Sssssiiiit, berani-beraninya lo pergi berdua dengan cowok sialan itu, Sya. Lo emang memancing kemarahan gua."
Tasya yang baru sadar Brain mengikutinyapun merasa takut. Namun rasa kesalnya dan kecemburuanya membuat Tasya mengabaikan suaminya. Tasya dengan sengaja malah menarik tangan Mike, mengajaknya bermain permainan timezone. Dengan senang hati Mike menuruti ajakan Tasya.
__ADS_1
Mereka berdua bermain street Basketball. Brain yang melihat Tasya tertawa lepas dengan Mike pun makin emosi. Sudah habis kesabaran Brain saat itu juga. Bagaimanapun Tasya adalah istrinya, tidak seharusnya istri jalan bareng sama cowok lain. Apalagi Tasya pergi tanpa sepengetahuan dan tidak meminta izin padanya. Brain mengeluarkan benda pipih di saku celananya. Ia mengirim chat pada Tasya untuk menyuruhnya pulang.
Brain:
Pulang lo sekarang, sebelum kesabaran gua habis.
Tasya membuka chat dari Brain, kemudian ia menengok kanan kiri tidak melihat suaminya. Saat Mike menarik tanganya untuk mengajak Tasya bermain permainan capitan boneka, Tasya segera melepaskan tangan Mike.
"Sorry Mike, aku mau pulang dan terimakasih sudah nemenin aku."
"Kok buru-buru amat sih, Sya? entar dulu, nanti gua antar. Ayo kita main capit boneka, nanti bonekanya buat lo.
"Gak usah Mike, aku terburu-buru."
"Kalau gitu gua antar lo pulang."
"Gak perlu! dia pulang sama gua," sahut Brain yang sudah berdiri di belakang Mike, membuat Tasya semakin merasa takut. Karena tatapan Brain saat itu sangat sulit di artikan.
Mike langsung menoleh dan menyeringai karena mengenali suara Brain.
"Lo lupa siapa Tasya? gua udah bilang dia tunangan sepupu gua. Dan gua saat ini di suruh sepupu gua untuk menjemputnya pulang."
"Gak bisa! dia berangkat sama gua jadi gua juga yang anter dia pulang," timpal Mike.
"Siiial loh, lepasin atau lo bakal tahu apa yang akan gua lakukan? jangan harap lo besok masih jadi ketos di sekolah," ucap Brain menekankan ucapanya kemudian menarik tangan Tasya untuk mengikutinya. Namun Tasya menolak dan menghempaskan tangan Brain membuat Mike mengulum senyumnya.
"Brengsek," umpat Brain.
Handphon Tasya berbunyi, terlihat di layar tertulis nama Mommy yang berarti panggilan dari Callista. Brain melirik langsung menyeringai, Tasyapun segera mengangkatnya.
"Sya, kamu di mana nak? tadi suamimu nyari'in kamu. Kamu gak papa kan sayang? cepat pulang ya nak."
__ADS_1
"Tasya sedang belanja di mall Mom, iya ini Tasya sudah sama Brain, sebentar lagi Tasya pulang, Mom."
"Baiklah kalau begitu, kalian cepat pulang ya, Ini Baby Cessa nyari'in bunda dan ayahnya."
"Baik Mom, kami akan pulang," ucap Tasya dan sambungan telpon dengan mertuanyapun sudah terputus. Tasya melirik Brain, lalu mengajak cowok itu pulang bersamanya.
"Mike, aku pulang dulu! makasih udah nemenin aku."
"Yakin kamu gak mau ku antar, Sya?"
"Gak usah Mike, makasih, aku pulang bareng Brain aja."
Ucapan Tasya membuat Brain melirik Mike penuh kemenangan. Sebelum pergi Brain sempat mengancam Mike. Brain tidak pernah takut dengan Mike meskipun Mike adalah ketua osis. Dengan mengandalkan Daddy Jonatan, Brain bisa mengalahkan Mike begitu saja.
"Gua peringatkan sama lo, jangan deketin Tasya lagi sebelum sepupu gua sendiri yang bertindak untuk ngabisin lo," ucap Brain menyeringai lalu menarik tangan Tasya untuk mengikutinya.
"Brain, lepasin tanganku sakit."
"Sakit lo bilang? bahkan gua pengen hukum lo lebih sakit dari ini. Lo keterlaluan, Sya, lo gak dengerin pesan dari gua. Gua ini suami lo, bisa-bisanya lo mengabaikan pesan gua dan pergi bersama cowok lain. Lo pengen bikin kesabaran gua habis? mau lo apa sih?" teriak Brain di depan wajah Tasya, membuat Gadis itu berkaca-kaca.
"Kamu itu yang maunya apa Brain? kamu nyuruh aku nunggu. Sedangkan kamu malah berpelukan dengan Acnes di parkiran sekolah. Aku tahu kamu gak cinta sama aku. Tapi bukan berarti kamu gak nganggep aku gak ada juga, Brain."
Otak brain langsung berputar pada kejadian di parkiran sekolah. Dia langsung mengulum senyum ketika menyadari istrinya cemburu.
"Jadi lo cemburu lihat Acnes meluk gua? Tanya Brain, mendekat membuat Tasya mundur.
"Gak, siapa juga yang cemburu! aku sudah kenyang lihat kamu di kerubungi cewek-cewek."
"Gak usah ngeles, kalau cemburu bilang saja cemburu. Lagian tadi Acnes hampir terjatuh dan gua cuma bantu dia berdiri. Gak tau kalau semua itu bikin lo salah faham.
"Tapi aku lihatnya kalian berpelukan."
__ADS_1
"Dia yang meluk gua, bukan gua yang meluk dia. Meskipun gua gak cinta sama elo, tapi gua tahu diri kalau gua udah punya istri.
Setelah mendengar penjelasan dari Brain, hati Tasya cukup merasa tenang. Diam-diam ia tersenyum saat Nrain menggenggam tanganya mengajaknya ke parkiran Mall. Mereka pulang bersama ke kediaman dirgantara.