
Brain mengumpat dan mengabsen seluruh hewan-hewan sekebun binatang. Istri cantiknya benar-benar menguji kesabaranya. Rujak mangga sebanyak itu, Tasya meminta Brain untuk memakan semuanya. Udah rasanya asem, membuat Brain bergidik dan buru-buru memuntahkanya.
Brain menahan kekesalanya, karena kelakuan istrinya. Apa lagi setelah Brain memuntahkan rujak mangga yang sempat ia makan. Tasya menangis sekencang-kencangnya. Melihat istrinya menangis, Brainpun tidak tega. Dengan penuh pertimbangan, Brainpun akhirnya mencoba memakan rujak mangganya lagi. Brain mencoba menjaga perasaan istrinya yang labil karena hormon kehamilanya.
"Sial, asem banget nih mangga! Bisa-bisa gua terserang penyakit tipus setadium akhir," umpat Brain dalam hati.
Melihat suaminya lahap memakan rujak buah mangganya. Membuat Tasya tersenyum sambil menyemangati suaminya. Lain halnya dengan Brain yang mati-matian menahan rasa asam buah mangganya.
"Udah ya, yank! Bisa-bisa kamu jadi janda mendadak kalau suamimu yang ganteng ini mati karena keracunan buah mangga," rengek Brain. Tasya yang tidak tega melihat wajah memelas suaminyapun, menyudahi keinginanya. Brain langsung bernafas lega, dan segera menyingkirkan rujak mangganya dari hadapanya.
Hari sudah lewat tengah malam, setelah memuntahkan semua rujak mangga di dalam perutnya. Brain kembali ke kamar dengan wajah lesunya, di tambah matanya yang sangat lelah. Andai saja istrinya tidak hamil muda, Brain pasti menghukum istrinya seperti biasanya. Ketika memasuki kamarnya, Brain hanya diam, langsung membaringkan tubuhnya di samping istrinya. Diamnya Brain membuat suasana kamar menjadi hening. Tasya sadar, kalau dia sangat keterlaluan memaksa suaminya memakan rujak mangga sebanyak tadi. Namun bagaimana lagi, ini semua faktor kehamilanya. Bukan sengaja untuk mengerjai suaminya. Ini benar-benar real keinginan jabang bayi di dalam kandunganya.
"Ayah, maafin bunda, ya?" ucap Tasya dengan panggilan yang sudah ia ganti lagi. Kadang papa, kayang mas, kadang yank. Brainpun hanya menyesuaikan panggilan istrinya.
"Hmm," respon Brain, sambil memejamkan matanya.
"Mas, jangan diamin aku, dong," rengek Tasya, memeluk pinggang suaminya yang tidur membelakanginya. Brain yang tidak ingin melihat istrinya menangispun, segera membalik tubuhnya menghadap Tasya. Di liriknya wajah istrinya dengan sisa penglihatanya karena efek kantuknya yang sudah tidak bisa tertolong. Brain memeluk istrinya, memintanya untuk segera tidur. Karena dia sudah tidak kuat lagi membuka matanya.
Tasya mengelus pipi Brain yang sudah tertidur pulas dengan suara dengkuran halusnya yang terdengar hingga ke telinga Tasya. Di pandangnya wajah tampan suaminya yang terlihat sangat lelah. Tasyapun ikut memejamkan kedua matanya, di dalam dekapan tubuh suaminya.
Ke esokan harinya, tepatnya hari minggu, yang merupakan hari paling di tunggu-tunggu setiap orang. Begitu pula dengan Brain dan Tasya, mereka bisa bersantai satu harian full tanpa kuliah. Mereka berdua masih betah tiduran di dalam kamar. Apa lagi Tasya, yang dari tadi mengendus-endus aroma tubuh suaminya. Brain hanya pasrah di endus-endus istrinya, apa lagi harus bertelanjang dada. Sebenarnya Brain mati-matian menahan hasratnya. Karena tidak ingin keblabasan dan melukai bayinya di dalam perut istrinya.
Bukan hanya mengendus-endus, bahkan tangan Tasya mulai nakal. Meraba-raba dada bidang suaminya. Menelusuri setiap lengan berotot milik suaminya. Bahkan bibir Tasya, menciumi ceruk leher Brain dan semakin turun ke dada bidangnya.
__ADS_1
"Sayang, please! Jangan kayak gitu," ucap Brain, menggeram menahan gejolak yang muncul dari tubuhnya. Apa lagi Brain sudah on gara-gara kenakalan istrinya.
"Yank, dedek bayinya pengen di tengokin," kode keras dari Tasya.
"Sini papa elus perutnya, yank," ucap Brain, mengelus perut Tasya yang terlihat sedikit membuncit.
"Bukan di elus, papa," rengek Tasya manja.
Brain yang bingung dengan kode-kodean dari istrinya, menaikan sebelah alisnya. Dia berfikir keras, apa maksud pengen di tengokin. Melihat suaminya kebingungan, membuat Tasya kesal.
"Huh, memang tidak peka atau memang pura-pura tidak faham, sih," grutu Tasya, sambil menghentak-hentakan kakinya. Brain langsung mengikat kedua kaki istrinya, karena perbuatan Tasya, akan sangat membahayakan kehamilanya.
Setelah mengikat kedua kaki istriny, Brain mengunci tubuh Tasya, dalam posisi tubuh Brain di atas tubuh Tasya. Brain menggunakan kedua tanganya untuk menompang tubuhnya, agar tidak menindih tubuh istrinya.
"Kamu tadi minta apa, sayang?" bisik Brain tepat di telinga Tasya. Sedangkan Tasya yang sudah pengen dari tadipun langsung terangsang hanya dengan mendengar bisikan suaminya. Tasya langsung menarik wajah suaminya dan langsung mencium bibirnya. Tasya menangis karena tidak ada balasan dari Brain.
"Mas, kok gak di balas, sih," kesal Tasya.
"Aku takut terjadi sesuatu dengan bayi kita, jika kita melakukanya sekarang, sayang. Apa lagi kehamilanmu masih muda, aku takut kelewat batas dan menyakiti bayi kita," ucap Brain di tengah kekawatiranya. Tasya meyakinkan suaminya, bahwa dia dan bayinya akan baik-baik saja. Mendengar itu, membuat Brain segera menyerang istrinya. Di pagi-pagi buta, duan insan sedang di mabuk cinta. Mereka melakukanya hingga dua kali, itupun karena Brain yang menyudahi. Jika dia menuruti istrinya, bisa-bisa yang ada mereka tidak akan keluar kamar seharian penuh.
Sedangkan di luar kamar, putrinya sudah menggedor-gedor pintu kamar kedua orang tuanya. Waktu sudah menunjukan pukul sembilan pagi. Namun kedua orang tuanya belum juga keluar dari kamarnya. Di tambah lagi hari minggu adalah waktu mereka untuk mengajak putrinya jalan-jalan.
"Ayah, Bunda, bangun," teriak Cessa dari balik pintu.
__ADS_1
"Brak."
"Brak."
"Brak."
"Ayah, Bunda, bangun," teriak Cessa sekali lagi dari balik pintu, sambil mendobrak-dobrak pintu kamar kedua orang tuanya.
"Aduh anak ini, tidak bisa memberi waktu ayah bundanya istirahat sebentar saja," omel Brain, segera memakai semua pakaianya. Kemudian berjalan membuka pintu kamarnya.
Di lihatnya putrinya yang sudah rapi, dengan baju jalanya. Brain langsung teringat janjinya kepada putrinya. Cessa sudah berkacak pinggang ketika mendapati ayahnya dengan wajah kusutnya khas bangun tidur. Kemudian melirik bundanya yang masih berbaring di atas tempat tidur.
"Ayah, bunda! Cepatan mandi, ini sudah siang," perintah Cessa kepada kedua orang tuanya.
Mendengar perintah dari putrinya yang nakalpun, Brain dan Tasya segera masuk ke kamar mandi secara bersama'an. Seperti dua orang anak yang sedang di marai ibunya. Ketika sudah memasuki kamar mandi. Brain dan tasya tersadar, kenapa malah putrinya yang menyuruh mereka berdua. Bukankah seharusnya orang tua yang memerintah anaknya untuk mandi. Sadar dengan kebodohan keduanya, Tasya dan Brainpun tertawa bersama.Putrinya benar-benar istimewa, istimewa pintarnya dan istimewa nakalnya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Hadeh, kok malah terbalik, sih.
Bikin geleng-geleng kepal, ini anak🤣
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
__ADS_1