Serpihan Hati Yang Disia-siakan

Serpihan Hati Yang Disia-siakan
Bab 12


__ADS_3

Hari ini Danu memutuskan untuk pulang lebih cepat dari biasanya. Entah kenapa, tiba-tiba hatinya merasa sedikit bersalah setelah dua kali dia mencampakkan Nadira dan membiarkan istrinya itu untuk pulang ke rumah sendirian.


"Mas, kamu yakin mau pulang cepat?" tanya Anita sambil duduk di atas pangkuan Danu. Wanita itu seakan enggan untuk beranjak dari sana setelah beberapa saat mereka sampai di kontrakan.


"Yakin, Dek. Lagi pula Mas merasa tidak enak hati pada Nadira yang sudah Mas tinggalkan tadi pagi di pinggir jalan," jawab Danu sambil mempererat rangkulannya di pinggang sang kekasih.


"Tapi, kenapa aku merasa tidak rela ditinggal kamu, ya, Mas. Rasanya seperti ada yang hilang," kata Anita lagi sambil terus bermanja-manja.


"Jangan begitu, Dek. Dari kemarin Mas sudah diam di sini terus setiap sore sampai malam. Sekarang Mas mau izin dulu padamu untuk pulang cepat. Lagi pula Mas belum siap kalau Nadira sampai tahu hubungan kita," bujuk Danu lagi. Dia benar-benar harus pulang cepat sekarang karena khawatir Nadira akan mencurigainya terus. Belum lagi tadi dia juga meninggalkan Nadira di parkiran tanpa mengatakan alasan yang jelas.


"Ya sudah kalau memang seperti itu. Tapi, nanti kamu harus memberiku kabar, ya! Jangan membuatku menunggu!" pesan Anita seraya berdiri dari pangkuan Danu. Meskipun hatinya berat karena harus berpisah lebih cepat dengan sang kekasih haramnya, tetapi yang dikatakan Danu itu benar, mereka sama-sama belum siap jika Nadira harus mengetahui hubungan terlarangnya itu.


"Baiknya kamu ...," puji Danu sambil mengecup kening Anita dengan penuh kasih sayang, suatu hal yang tidak pernah lagi dan lakukan pada Nadira, istrinya sendiri.


Setelah berpamitan, pria itu pun segera melajukan kendaraannya menuju rumah tempat kontrakan dirinya dan sang istri mengontrak. Sepanjang perjalanannya, Danu terus tersenyum membayangkan raut wajah sang kekasih, Anita. Dia sama sekali tidak bisa menghentikan perasaannya pada wanita yang merupakan sepupu jauh dirinya itu. Meskipun Danu sepenuhnya sadar kalau perasaan itu salah, tetapi dia sendiri tidak bisa membendungnya dan marak mengikuti hawa na*su.


Tepat dari belokan gang, Danu mendengar keributan yang terjadi di depan kontrakannya. Di sana dia melihat ibu, istri serta kakaknya yang sedang memeluk keponakannya, Vino. Selain keluarganya, ada juga tiga ibu-ibu yang merupakan tetangganya.


Kenapa mereka terdengar seperti sedang bertengkar, ya? tanya Danu dalam hatinya. Samar-samar ia mendengar Bu Kokom berkata kalau sikap Nadira sudah keterlaluan pada Ibu Susan, ibunya sendiri. Rahang Danu mulai mengeras kala itu juga. Dia turun dari motornya dan langsung menghampiri Nadira terlebih dulu untuk menamparnya.

__ADS_1


'Plak'


Sebuah tamparan yang sangat keras mendarat di wajah Nadira hingga membuat wanita yang merupakan istrinya itu terhuyung ke belakang dan mendaratkan punggungnya di tembok, beruntung saat itu Nadira memeluk Tiara dengan erat sehingga bayi itu hanya terkejut saja.


"Mas Danu ...." Nadira menatap Danu dengan pandangan terkejut. Untuk kesekian kali suaminya menyakitinya.


Danu sendiri cukup terkejut dengan apa yang baru saja ia lakukan pada istrinya. Dia tidak menyangka kalau dirinya akan menyakiti Nadira dengan cara ini pula.


"N–Nad ...." Danu melangkah untuk menghampiri Nadira. Namun, wanita itu langsung mundur seketika sambil mempererat dekapannya pada Tiara.


Semua orang yang ada di sana sangat terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Mereka juga tidak menyangka kalau Danu akan sampai menampar Nadira dengan sangat keras. Ibu Kokom dan Ibu Salamah langsung pergi dari kontrakan Nadira setelah melihat pertengkaran suami istri itu. Sementara Ibu Rumi yang sejak tadi diam, bergegas menghampiri Nadira. Dia merasa kasihan pada wanita muda itu.


"Ini, ini terakhir kalinya bagian tubuhmu nyentuh aku, Mas. Sampai kapanpun aku tidak akan rela kamu nyentuh kulitku lagi," ucap Nadira dengan suara bergetar. Sekuat hati dia menahan tangisnya agar tidak pecah saat itu juga. Hatinya sudah amat terluka hati ini, ditambah sekarang Danu juga menyakiti fisiknya. Gadis itu menunduk sambil menguatkan hatinya agar tidak lepas kendali karena masih ada Tiara di dekapannya.


"Apa maksud kamu, Nadira? Seharusnya aku yang berkata seperti itu. Istri macam apa kamu, hah?" tanya Danu yang emosinya kembali tersulut.


"Hari ini ... hari ini kamu udah bikin aku kecewa beberapa kali, Mas. Aku capek, aku muak dengan semua ini. Aku udah cukup lelah menghadapi sikap kalian yang semena-mena padaku dan Tiara." Tangis Nadira pecah kala itu juga. Dia tidak bisa lagi membendung air matanya yang sudah sedari tadi ia tahan. Meskipun otaknya meminta untuk tidak menangis, tapi berbeda dengan hatinya yang sudah menyerah untuk bertahan.


"Aku tidak salah, Nadira. Kamu yang lebih dulu bersikap kurang ajar pada Ibu dan Kak Nia. Jadi, wajar saja aku membela keluargaku," jawab Danu dengan lantang. Dia merasa apa yang dilakukannya sudah benar. Maka dari itu ia menyalahkan Nadira.

__ADS_1


Senyum miris terukir di bibir Nadira. Danu tidak mengetahui apa yang terjadi padanya dan Tiara, tetapi dengan mudahnya Danu justru malah menyalahkannya.


"Mas, aku hanya ingin melindungi Tiara. Apa menurut kamu aku harus diam dan terima saja kalau Tiara diganggui Vino. Dan tadi saat Tiara nangis pun, Ibu dan Kak Nia malah membiarkannya begitu saja. Mereka tidak mempedulikan tangis Tiara yang kesakitan!" jelas Nadira. Dia mencoba untuk menceritakan apa yang sebenarnya sedang terjadi pada Danu.


"Hey, jaga ucapan kamu, Nadira! Anak kamu itu dari pagi memang nangis terus. Dia emang anak yang rewel. Vino juga tidak salah apa-apa, wajar kalau dia menggoda Tiara seperti itu. Kamu jangan berlebihan!" seru Nia dengan suara lantang yang menggebu-gebu. Tentu saja dia tidak ingin Danu menyalahkan putranya. Jadi dia harus membuat adiknya itu mempercayai ucapannya.


"Tuh 'kan, Nad." Danu menunjuk-nunjuk wajah Nadira. "Lagi-lagi di sini sikap kamu yang berlebihan!"


"Mas, tidak seperti itu–"


"Nad, Tiara memang seharian ini rewel. Ibu tidak ada maksud untuk mengabaikan dia. Ibu hanya sedang kecapean saja, makanya Ibu biarin dia nangis," ucap Ibu Susan yang turut angkat bicara.


Baik Nadira maupun Ibu Rumi sama-sama menggelengkan kepalanya setelah mendengar ucapan Ibu Susan.


"Ibu Susan, kenapa berbicara seperti itu? Jelas-jelas tadi saya melihat Ibu membiarkan Vino mencubiti Tiara yang sedang menangis dan kalian berdua hanya menertawakannya. Kenapa sekarang jawabannya lain?" tanya Ibu Rumi yang turut kesal dengan sikap Ibu Susan.


"Bu Rumi jangan ikut campur. Lebih baik Ibu pulang saja ke rumah!" usir Nia sambil menarik tangan Ibu Romi dan mendorongnya untuk keluar dari teras kontrakan Nadira. Dia tidak mau tetangganya itu turut ikut campur permasalahan rumah tangga Danu karena bisa-bisa dia turut berpihak pada Nadira.


Ibu Rumi terpaksa pergi dari kontrakan Nadira. Dia sadar dirinya hanya orang lain yang tidak seharusnya ikut campur urusan rumah tangga Nadira dan Danu. Sepeninggalan Ibu Rumi, perdebatan diantara Danu dan Nadira terus berlanjut hingga akhirnya Danu memilih pergi ke rumah ibunya bersama Nia dan meninggalkan Nadira dan Tiara di kontrakan.

__ADS_1


__ADS_2