
Hari mulai gelap, suasana dingin menyelimuti daerah itu setelah hujan sore tadi turun. Ada beberapa orang yang mungkin lebih memilih untuk diam di rumah daripada harus berkeliaran di bawah cuaca dingin yang teramat menusuk kulit. Namun, hal itu tidak berguna untuk seorang pria yang saat ini masih berada di atas motor. Pria itu adalah Raka. Dia menolak untuk masuk ke rumahnya meskipun saat ini dia sudah berada di pekarangan. Entah kenapa hatinya tiba-tiba merasa tidak nyaman dan terus-menerus memikirkan dua wanita berbeda generasi yang sudah diam-diam mengambil hatinya.
Kenapa rasanya hampa seperti ini? Aku benar-benar tidak tenang, batin neraka sambil terus menatap ke arah pintu dan jalan raya yang berada di depannya.
Apa lebih baik aku pastikan saja dulu bagaimana keadaan Nadira dan Tiara? Setelah memastikan mereka baik-baik saja, baru aku pulang lagi, sambungnya seraya mulai menyalakan kembali motor yang sejak beberapa menit lalu sudah dia matikan mesinnya.
"Raka, kamu mau pergi ke mana lagi?" tanya Ibu Santi pada putranya saat melihat Raka sudah kembali menyalakan mesin motor, sementara dirinya belum masuk ke rumah.
“Maaf, Ma. Aku ada urusan yag belum beres. Aku akan pergi
dulu!” sahut Raka sembari mulai menjalankan motornya. Dia akan menuju tempat Nadira lagi, atau lebih tepatnya ke rumah kontrakan lama wanita itu.
Melihat putranya yang tiba-tiba pergi, Ibu Santi hanya
bisa menghela napas kasar sambil mengoceh, “Dasar anak muda jaman sekarang, baru juga sampai rumah, malah sudah peri lagi. Kalau memang urusannnya belum selesai, seharusnya dia jngan dulu pulang. Jadi capek dua kali ‘kan?”
Sementara itu, Raka semakin mempercepat laju kendaraannya
karena pikirannya sudah terlalu khawatir pada Tiara dan Nadira. Namun, karena kurang hati-hati dan terburu-buru, justru Raka hampir saja menabrak kucing yang tiba-tiba lewat di tengah jalan hingga membuatnya mengerem secara mendadak supaya tidak melukai kucing itu. Dan untung saja dia masih bisa menguasai kendaraannya.
“Astaghfirullah. Hampir saja aku menabrak kucing,” gumamnya dengan tangan gemetar. Raka memilih untuk menyisi dulu karena masih terkejut dengan apa yang baru saja dialaminya. Mungkin itu sebuah teguran untuknya agar lebih berhati-hati dan tidak terburu-seperti tadi.
Raka membawa motornya berhenti di sebuah warung kecil
yang berada tak jauh dari sana. Tangan pria itu masih gemetar. Jadi, dia memutuskan untuk berhenti saat saja sampai keadaannya lebih baik.
Maafkan aku, Nadira, Tiara … aku tidak bisa cepat-cepat
menghampiri kalian, batin pria itu.
Setelah menghabiskan sebotol air mineral, Raka pun kembali
bersiap pergi. Sekarang tremornya sudah hilang. Jadi, dia bisa lebih focus saat berkendara.
Suasana jalan yang tak terlalu ramai membuat siapa saja
memiliki jiwa seorang penguasa jalanan dan berpikir untuk mempercepat laju kendaraan mereka. Namun, hal itu tidak dilakukan oleh Raka sebab dia tak ingin kejadian seperti tadi kembali terulang.
Setelah menempuh perjalan sekitar 20 menit, akhirnya Raka
pun sampai di gang yang menuju rumah Nadira. Dia tidak tahu letak kontrakan Nadira di mana. Jadi, memilih untuk berpura-pura jalan saja karena dia pun tidak berniat menemui kedua wanita itu. Dia hanya ingin memastikan keadaan mereka saja.
Dari kejauhan, Raka melihat seorang pria yang dia tebak sebagai suami Nadira. Dia beranggapan seperti itu karena sempat melihatnya beberapa kali parkir di depan ruko tempat biasa Nadira menunggu, tapi itu juga hanya dugaannya saja karena selain itu, Raka juga pernah melihat dia berboncengan mesra dengan wanita lain.
“Kalau dugaanku tidak salah, pria itu suaminya Nadira.
Berarti kontrakan Nadira tidak jauh dari sini,” gumamnya.
Raka mulai mendekati rumah yang dimasuki Danu, dengan
__ADS_1
jarak yang cukup jauh, atau tidak terlalu dekat karena khawatir ada orang yang mengira dirinya hendak berbuat jahat. Jarak rumah kontrakan Nadira dengan rumah-rumah yang lainnya cukup berjauhan. Hal itu memungkinkan para tetangga tidak ada yang menyadari jika terjadi keributan di dalam rumah, lain halnya jika keributan itu terjadi di luar rumah, maka orang-orang akan langsung mengetahuinya.
Baru saja pria itu masuk, Raka bisa mendengar jika sudah
terjadi percekcokan di dalam sana. Pintu rumah itu tidak ditutup saat Raka mendekatinya hingga tak lama kemudian, dia mendengar suara tangis Tiara yang begitu kencang, disertai bentakan suara kasar dari seorang pria.
“Bukankah itu suara Tiara? Kenapa Nadira membiarkan bayinya
menangis seperti itu. Apa yang terjadi di dalam sana?” Raka bertanya-tanya hingga telinganya mendengar sebuah suara lain lagi, seperti barang-barang kecil yang berjatuhan.
Tanpa menunggu lama, Raka menyelonong masuk ke rumah
kontrakan Nadira dan mendapati Nadira sedang terkulai di samping ranjang tidur dengan kening yang bercucuran da*ah. Tak jauh dari sana, Tiara juga sedang menangis di atas tempat tidur sementara pria yang tadi dilihatnya sedang merogoh dompet
perempuan.
“Nadira, Tiara!” pekik Raka sehingga membuat Danu terkejut.
“Siapa kamu? Kenapa bisa masuk kemari?” tanya Danu saat
melihat pria asing tidak dikenalnya masuk ke rumah.
Sementara itu, Nadira berusaha untuk tetap mempertahankan
kesadarannya. Apalagi dia mendengar seseorang yang baru saja memanggil namanya.
“Pak Raka?” gumam Nadira saat melihat sosok yang ada di balik
“Kamu siapa? Kenapa bisa masuk ke rumahku? Dasar pria
asing yang tidak punya sopan santun!” teriak Danu karena melihat Raka yang tidak menjawab pertanyaanya.
“Apa pentingnya Anda mengetahui siapa saya? Seharusnya saya
yang bertanya, kenapa Anda tega melakukan kekerasan pada istri Anda sendiri?” tanya Raka yang tak kalah tegasnya dari Danu.
“Hah, kamu banyak bicara! Orang asing sepertimu tidak pantas
ikut campur dalam rumah tanggaku!” sahut Danu seraya melempar dompet Nadira yang ia ambil semua isinya. “Kemari, biar aku hajar kamu supaya kapok untuk tidak ikut campur dalam urusan orang lain!” sambungnya lagi.
Danu sudah siap menyerang pria asing yang tiba-tiba masuk
ke rumahnya. Sedangkan Raka juga sudah siap melawan suami Nadira. Kedua pria itu seakan sudah siap untuk saling beradu otot. Nadira berusaha untuk menenangkan Tiara yang sedang menangis sembari menahan perih serta sakit akibat luka di keningnya.
“Pak Raka, Mas Danu, tolong jangan ribut! Saya tidak ingin sampai terjadi kekerasan di sini!” ucap Nadira pada kedua pria yang ada di hadapannya. Dia sungguh tidak ingin melihat Danu dan Raka beradu kekuatan. Apalagi di rumah itu ada Tiara.
“Tolong berhentilah kalian!” pinta Nadira lagi.
“Diamlah, wanita murahan! Apa kamu sekarang sudah merasa
__ADS_1
bangga karena ada yang akan membelamu, hah? Aku tidak akan tinggal diam. Aku akan menunjukka pada pria asing ini siapa diriku yang sebenarnya!” sahut Danu tanpa mau mendengar perkataan istrinya. Bahkan dia juga tega menyebut Nadira
sebagai wanita murahan di depan pria lain.
‘Plak’
Suara tamparan sangat keras begitu menggema di ruangan itu. Nadira yang tidak terima dirinya dikatai wanita murahan oleh Danu langsung mendaratkan tangannya di wajah Danu hingga meninggalkan warna kemerahan di pipi pria itu. Tatapan matanya pun begitu tajam menusuk bagaikan tatapan elang.
“Nadira, apa yang kamu–”
“Aku melakukan apa yang seharusnya aku lakukan, Mas! Selama
ini aku sudah terlalu mengalah padamu hingga kamu berani mempermainkanku dan juga merendahkanku. Sekarang aku sudah cukup tahu bagaimana aku harus membalas!” sahut Nadira tanpa membiarkan Danu menyelesaikan perkataanya.
Danu tersenyum tipis saat mendengar ucapan Nadira. “Apa kamu pikir, kamu sudah cukup kuat sehingga berani menamparku, hah?” Danu langsung mendorong tubuh Nadira yang sedang menggendong Tiara hingga membuatnya terjungkal ke atas ranjang.
'Akh'
Raka membulatkan matanya saat melihat hal itu. Dia tidak menyangka kalau Danu akan berbuat kasar pada Nadira sementara wanita itu sedang menggendong putri mereka.
“Hei, apa yang Anda lakukan, hah? Pengecut sekali Anda,
ya?” Raka langsung menahan bahu Danu saat melihat pria itu hendak melayangkan tangannya lagi untuk membalas perbuatan Nadira tadi.
“Sudah aku katakan, berhentilah ikut campur urusan keluargaku!” teriak Danu saat Raka menahan tangannya. Pria iitu langsung
memberikan sebuah bogeman mentah di wajah Raka hingga membuat sudut bibir pria itu mengeluarkan darah.
“Pak Raka!” seru Nadira melihat atasannya di tinju oleh sang suami.
Danu tersenyum senang saat dirinya berhasil meukai Raka. Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Raka Kembali bangkit dan membalas perbuatan Danu hingga terjadilah pertengkaran diantara kedua pria itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Halo man teman, jangan lupa mampir ke novel rekomendasiku, ya! 😊
Cherry Jovanka Emilia gadis berseragam abu-abu yang ceria memiliki sahabat bernama Neva Aurelia Hadinata dan Steve Roger Timothy.
Persahabatan mereka terbilang sangat unik karena tidak ada hari-hari tanpa ulah yang menjengkelkan dari tingkah mereka.
Steve sendiri sudah memiliki perasaan kepada Cherry sejak mereka duduk di bangku sekolah SD. Cherry, Neva dan Steve mereka merupakan sahabat sejak kecil. Sekolah merekapun selalu bersama.
Sampai suatu hari Cherry memiliki problem tak bisa membayar uang Sekolah di karenakan Ibunya sakit-sakitan. Ayah Cherry sendiri sudah meninggal dunia sejak dirinya berusia 7 Tahun.
Neva yang iba kepadanya, meminta tolong kepada Kakaknya bernama Lucas Zander Hadinata seorang CEO di perusahaan Axosha Jewelry. Perusahaan di bidang perhiasan ini terbilang perusahaan terbesar di dunia. Lucas sendiri adalah seorang pengusaha muda yang sangat sukses di seluruh dunia. Berbanding terbalik dengan persoalan cinta, yang dia tahu cinta itu hanya sekedar bersama tanpa ada embel-embel perasaan.
Sampai suatu ketika dia harus di pertemukan Tuhan dengan gadis muda putih Abu-Abu yang akan menjungkir balikkan kehidupannya kelak.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya?
__ADS_1