
Sesampainya di rumah, Nadira segera mengambil alih Tiara dari ibunya. Dia membawa putri kecilnya itu Kembali ke kamar karena melihatnya sudah sangat mengantuk.
“Bu, aku akan bawa Tiara ke kamar untuk beristirahat. Terima kasih karena Ibu sudah menemaniku hari ini,” ucap Nadira sebelum masuk kamar lamanya di rumah itu.
“Iya, Nad. Sepertinya dia sudah sangat mengantuk. Segera tidurkan dia dan kamu kembali kemari karena ada hal yang
ingin Ibu bicarakan denganmu,” sahut Ibu Risma.
Nadira sedikit mengerutkan keningnya sesaat karena merasa heran dengan ucapan sang ibu. Namun, dia urung bertanya
langsung dan hanya mengangguk samar sambil menjawab, “Oh, iya, Bu. Aku akan segera kembali setelah memastikan Tiara tidur lelap.”
Ibu Risma mengangguk dan membiarkan putrinya membawa sang cucu ke kamar, sementara dirinya memilih beristirahat di ruang depan, menunggu Nadira kembali ke sana.
Setelah menunggu selama setengah jam, akhirnya Nadira segera ke luar dari kamarnya. Dia datang dan menghampiri sangat ibu yang rupanya sedang duduk di ruang tengah rumah itu.
"Apa Tiara sudah tidur?" tanyanya saat melihat Nadira yang sedang berjalan menuju tempat duduk.
__ADS_1
"Sudah, Bu. Tiara tidur terlelap," jawab wanita muda itu.
"Syukurlah."
"Ada apa Ibu memintaku bicara di sini?" tanya Nadira yang kini sudah duduk di kursi, tepat berhadapan dengan Ibu Risma.
"Oh ... iya. Ibu ingin bertanya tentang maksud perkataanmu tadi terhadap Danu. Apa kamu serius akan menjauhkan Tiara darinya?" Pertanyaan itu meluncur dari bibir Ibu Risma dengan cepat. Hal inilah yang akan dibahasnya bersama Nadira.
"Aku tidak akan menghalangi dia jika memang hanya berniat menjadi ayahnya Tiara, Bu. Aku sama sekali tidak masalah," jawab Nadira dengan lugas.
"Tapi, kenapa pikiran Ibu tidak sampai sana tadi. Justru Ibu menangkap kalau kamu tidak ingin Tiara didekati lagi oleh Danu."
"Sudah aku duga kalau Ibu akan berpikir seperti itu. Tapi ... sebenarnya maksudku sama sekali tidak seperti itu. Aku hanya tidak ingin Tiara mendapatkan perlakuan tidak adil dari keluarga ayahnya, Bu. Bukankah Ibu sendiri tadi melihatnya kalau di sisi Danu ada wanita lain yang sedang mengandung anak pria itu?"
Ibu Risma mengangguk dan membenarkan pertanyaan putrinya. "Iya, Ibu melihatnya. Tapi, apa hubungannya dengan Tiara?"
"Jika wanita itu sudah melahirkan anak Danu, kemungkinan besar dia akan membuat Danu melupakan Tiara. Ya ... seperti yang bisa Ibu tebak, aku juga tidak ingin wanita itu sampai menyentuh Tiara hanya karena takut kasih sayang Danu untuk anaknya terbagi" jelas Nadira.
__ADS_1
Ibu Risma mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. Dia sekarang mengerti kenapa Nadira berbicara kasar seperti tadi terhadap mantan suaminya. Namun, Ibu Risma juga menyayangkan pemikiran Nadira yang terlalu negatif dan justru akan membuat Tiara benar-benar kehilangan kasih sayang dari ayahnya sendiri.
"Nad, mungkin itu hanya pradugamu saja. Biar bagaimanapun Danu tetaplah Ayah kandung Tiara dan bisa saja kedepannya nanti, dia bisa bersikap adil terhadap anak-anaknya. Ibu mengerti maksudmu, tapi jangan biarkan ketakutanmu membuat Tiara menderita."
"Tidak, Bu. Aku yakin, Tiara tidak akan menderita. Justru, kalau aku membiarkan Danu berhubungan dengannya, dia bisa merasakan sakit hati suatu saat nanti."
Ibu Risma menarik napas panjang. Berbicara dengan seseorang yang sedang membenci, memang harus sedikit sabar karena mereka hanya akan melihat sisi buruknya saja. Akan tetapi, dia juga tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Ibu Risma masih berharap Danu bisa berubah suatu saat nanti. Sudah cukup pria itu menghancurkan hati putrinya dan sekarang dia tidak ingin Danu juga menghancurkan hati sag cucu, Tiara.
"Nadira, seseorang bisa saja berubah dengan seiring bertambahnya usia. Akan ada saatnya Danu juga berpikir untuk memperbaiki dirinya dan saat itu tiba, jangan buat Tiara membenci ayahnya sendiri," pesan Ibu Risma sambil mengusap bahu putrinya.
"Tapi, Bu ... orang seperti Danu itu tidak pernah mempunyai keinginan untuk berubah! Jikalau pun dia berubah pasti dunia akan berakhir untuknya," sahut Nadira dengan tangan terkepal.
"Hush! Jangan seperti itu, Nad. Seburuk apapun dia, Danu tetaplah manusia yang bisa berbuat jahat dan terkadang lalai. Apa kamu juga akan menjadi orang yang jahat dengan menjauhkan Tiara darinya?"
Nadira terdiam dan memikirkan ucapan ibunya. Apa yang dikatakan oleh Ibu Risma memang ada benarnya. Akan tetapi, hatinya masih menolak untuk membiarkan Danu mendekati putri mereka.
"Maafkan aku, Bu. Sepertinya aku belum siap untuk membiarkan Danu mendekati Tiara. Aku hanya tidak ingin dia menyakiti hati putriku seperti dia menyakitiku," ucap Nadira sambil bangkit dari tempat duduknya dan memilih untuk masuk ke kamar, menemani putrinya yang sedang terlelap.
__ADS_1
Sementara itu, Ibu Risma hanya bisa menghela nafas berat saat melihat putrinya yang tetap kukuh untuk menjauhkan cucunya dari Danu.
"Nadira, aku hanya berharap suatu saat nanti hatimu terbuka dan memaafkan semua kesalahan Danu. Aku sungguh tidak ingin melihatmu berlarut-larut dalam kebencian seperti sekarang," gumamnya.