
Berita perceraian Nadira dan Danu rupanya cukup membuat heboh kapung halaman pria itu. Ditambah lagi kehadiran Anita yang turut ikut tinggal bersama Ibu Susan, semakin membuat keluarga itu digunjing sana-sini. Tak jarang orang-orang itu sengaja membicarakan mereka dihadapannya secara langsung. Hal itu tentu saja membuat Ibu Susan malu keluar rumah, meskipun hanya berjalan ke warung yang ada di seberang jalan.
“Bu, beras dan sayuran habis. Kenapa Ibu belum pergi ke warung?” tanya Anita yang saat ia baru saja keluar dari kamarnya, atau lebih tepatnya kamar Danu. Sementara pria itu memilih untuk tinggal di rumah kontrakannya bersama Nadira dulu. Danu dan Anita belum menikah karena Pak Santo tidak ingin menikahkan mereka. Dia berubah pikiran dan memilih menikahkan Anita serta Danu, setelah putrinya itu melahirkan nanti. Namun,
sebagai gantinya Danu diminta untuk bertanggung jawab atas semua hal tentang Anita, termasuk tempat tinggal wanita hamil itu.
“Ibu malu, Nit. Kamu saja, ya,” tolak Ibu Susan. Dia tidak ingin keluar sekarang karena ada banyak ibu-ibu yang sedang berkumpul di warung itu. Di tambah Danu juga sejak tadi belum datang ke rumahnya, hal itu membuat Ibu Susan dan Anita belum juga sarapan sampai sekarang matahari membumbung tinggi. Sementara Nia, Erhan dan putranya memilih menginap di rumah orang tua Erhan.
“Apa? Aku?” tanya Anita sambil menunjuk dirinya.
“Iya.” Ibu Susan mengangguk.
“Tidak mau. Ibu yang harus pergi ke warung!” tolak Anita sambil membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi dari hadapan Ibu Susan.
“Tapi, Nita … kalau kamu tidak mau ke warung sekarang, kita tidak akan makan. Apa kamu tidak kasihan dengan bayi yang
ada di kandunganmu?” tanya Ibu Susan dengan kesal karena dia merasa tidak dihargai oleh kekasih putranya itu.
Enak saja dia mau memintaku untuk terus menuruti keinginannya. Sifat Nadira dan Anita benar-benar berbeda. Sepertinya dia bukan orang yang mudah aku kendalikan, batin Ibu Susan.
Tanpa mendengarkan pertanyaan Ibu Susan, Anita langsung menutup pintu kamar dengan keras hingga membuat Ibu Susan
__ADS_1
sempat terkejut karenanya.
“Anita, apa kamu tidak bisa menutup pintunya dengan lebih pelan?” tegur Ibu Susan sambil memegangi dadanya. Dia sungguh kesal dengan apa yang dilakukan Anita terhadapnya.
“Jika Ibu tidak ingin aku dan calon cucumu ini kelaparan, sebaiknya Ibu segera pergi ke warung dan belanja!” sahut Anita
dari dalam kamar, tanpa mengindahkan teguran Ibu Susan.
“Tapi aku tidak ada uang!” jawab Ibu Susan.
“Minta saja pada Mas Danu. Aku tidak ingin mengeluarkan uangku hany untuk makanan!”
“Bagaimana Ibu bisa minta pada Danu, Anita …. Kamu tahu sendiri kalau dia belum datang kemari hari ini. Kalau memang
kamu tidak ingin memberi Ibu uang belanja, setidaknya hubungi Danu agar dia segera datang ke sini!” pinta Ibu Susan yang kini sudah berdiri tepat di hadapan pintu kamar Anita.
“Aku tidak punya pulsa, Bu,” sahut Anita beralasan. “Lagi pula, dia putra Ibu, Jadi sudah seharusnya Ibu yang menangani dia,” jawab Anita dari dalam kamar. Dia tahu kalau calon ibu mertuanya itu sedang ada di depan pinta, tapi dia terlalu malas untuk membukakannya karena takut ketahuan di sana ada banyak makanan.
Ibu Susan mengepalkan kedua tangannya saat mendengar jawaban Anita dari dalam kamar. Dia tahu kalau sebenarnya wanita hamil itu hanya berasalan saja untuk tidak mengikuti perintahnya menghubungi Danu.
"Ayolah, Anita. Ponsel Ibu sudah lama tidak bisa digunakan. Apa susahnya kalau kamu sendiri yang menghubungi dia?" Ibu Susan masih berusaha untuk meminta Anita supaya menghubungi putranya.
__ADS_1
Mendengar penuturan Ibu Susan, dari dalam kamar Anita segera bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menuju pintu. Dia juga membawa ponsel miliknya untuk digunakan oleh wanita paruh baya itu.
"Ini!" Anita mengangsurkan ponsel miliknya. "Ibu saja yang hubungi dia. Aku sedang tidak mood untuk berbicara dengannya!" sambungnya lagi.
"Kenapa tidak kamu saja yang menghubungi Danu secara langsung, Anita? Kenapa harus Ibu lagi yang menghubunginya?" kesal Ibu Susan.
"Ck." Anita berdecak kesal. "Ibu mau menghubunginya atau tidak? Kalau memang Ibu tidak mau menghubunginya, lebih baik kamu kembali ke kamar dan tidur saja daripada mendengarkan Ibu mengoceh!" sahut wanita hamil itu.
Kekesalan Ibu Susan terhadap wanita semakin bertambah. Apalagi wanita itu sudah berani terang-terangan menunjukkan kesalahannya di hadapan dia secara langsung. Namun, karena mengingat Anita saat ini sedang mengandung calon cucunya, ia pun hanya bisa menahan kekesalan itu di dalam hati.
Aku hanya bisa berharap semoga saja bayi yang lahir nanti tidak memiliki sifat sejelek mamanya, batin Ibu Susan.
"Anita, biasanya kalau seorang pria akan lebih mendengarkan ucapan wanitanya daripada ucapan orang tuanya sendiri. Jadi, cobalah kamu hubungi Danu dan pinta dia untuk segera ke rumah ini sambil membawakan makanan," bujuk Ibu Susan dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin. Dia yakin kalau Anita tidak akan benar-benar tega melihatnya kesusahan. Apalagi dia juga menunjukkan ekspresi menyedihkan itu sambil memegangi perutnya.
"Tapi ...." Anita hendak menolak. Namun sebelum wanita itu berbicara, tiba-tiba Ibu Susan terjatuh tepat di hadapan kakinya.
'BRUK'
"Eh?" Anita menatap wajah Ibu Susan dengan pandangan heran. Dia tidak mengerti kenapa tiba-tiba saja calon ibu mertuanya itu meledak pingsan.
"Bu?" Wanita hamil itu mencoba untuk memanggil Ibu Susan. "Untuk apa Ibu pura-pura bisa di depan kamarku? Cepatlah bangun!" perintah Anita yang tentu saja tidak didengarkan oleh Ibu Susan karena dia sedang tidak sadarkan diri saat ini.
__ADS_1