Serpihan Hati Yang Disia-siakan

Serpihan Hati Yang Disia-siakan
Bab 84


__ADS_3

Nadira masih mematung saat mendengar seseorang memanggil namanya. Bagaimana tidak, dari sekian tempat yang dipilihnya untuk melarikan diri, kenapa dia masih harus bertemu dengan Rm.aka, mantan atasannya dulu di pabrik.


Berbeda dengan Nadira, Raka justru tampak bahagia. Dia segera menghampiri wanita yang selalu berada di pikirannya itu.


"Nadira, ini sungguh kamu? Bagaimana bisa kamu berada di sini? Kana saja kamu selama ini? Kenapa kamu pergi secara tiba-tiba?" cecar Raka. Bahkan dia tidak memedulikan tukang bubur yang sedang memperhatikan keduanya.


"Ke–kenapa Pak Raka ada di sini?" Hanya itu kata-kata yang bisa Nadira ucapkan saat ini.


"Aku di sini karena ini adalah tempat asalku," jawab Raka. Dia langsung meraih Tiara dan memangkunya.


Nadira cukup terkejut dengan jawaban Raka. Dia tidak tahu kalau Raka berasal dari kota itu karena meskipun mereka saling kenal dulu, itu hanya sebatas atasan dan bawahan saja.


"O–oh ... a–aku tidak tahu." Nadira segera mengalihkan pandangannya dan dia memilih untuk menerima bubur pesanannya tadi.


Setelah Nadira membayar makanannya, dia berniat untuk mengambil Tiara dari pangkuan Raka, tetapi pria itu justru tidak memberikannya dan malah mengacuhkannya.


"Pak, aku mau pulang. Tolong kembalikan Tiara!" pinta Nadira.


"Pulang ke mana? Apa tempat tinggalmu berada di sekitar sini?" tanya Raka.


"Aku ... aku tinggal di bangunan kos-kosan yang ada di kompleks ini."

__ADS_1


"Oh, baiklah. Aku ikut kalian pulang," putus Raka sambil bangun dari tempat duduknya.


Nadira melebarkan matanya karena terkejut dengan ucapan Raka.


"Lho ... Bapak mau apa ikut pulang bersama kami?"


"Aku ingin tahu tempat tinggal kalian," jawab Raka dengan santai. Pria itu bahkan sudah mendahului langkah Nadira yang masih berdiri dekat gerobak bubur.


Nadira merasa bingung dan benar-benar tidak mengerti dengan sikap Raka. Sekian lama tidak bertemu dengan pria itu, Raka justru terlihat lebih santai sama sekali tidak canggung seperti dirinya. Bahkan jika dibandingkan saat mereka masih menjadi rekan kerja, Raka justru terlihat lebih friendly saat ini.


Ada apa dengan Pak Raka? Kenapa sikapnya seperti ini padaku? tanya Nadira dalam hatinya. Nadira pun segera menyusul langkah Raka dan Tiara yang sudah mulai menjauh.


"Nadira, kenapa jalanmu lambat sekali? Apa kamu keberatan dengan kehadiranku?" tanya Raka saat mendapati Nadira berada beberapa langkah jauh di belakangnya.


"Eh .... Ti–tidak, Pak. Mmmmh ... saya ...."


"Maaf jika aku membuatmu kurang nyaman. Aku sungguh tidak bermaksud untuk melakukannya, aku hanya merasa senang karena bisa bertemu lagi denganmu dan Tiara," ucap Raka sambil melangkah mendekati Nadira.


Nadira sedikit menundukkan kepalanya saat mendengar ucapan Raka, dia merasa tidak enak hati karena terlalu menunjukkan sikapnya yang kurang nyaman terhadap kehadiran pria itu.


"Akh, ti–tidak, Pak. Saya ... saya hanya merasa sedikit terkejut saja karena bisa bertemu Bapak di sini," kilah Nadira. Dia pun segera mengambil alih Tiara dan berusaha untuk bersikap biasa lagi.

__ADS_1


"Jika Bapak mau mampir ke tempat tinggal saya yang baru, silakan saja. Tapi ... apa Bapak tidak apa-apa hanya menggunakan setelan seperti ini?" tanya Nadira karena merasa aneh dengan penampilan Raka yang hanya memakai kaos singlet serta celana pendek, tampaknya tadi pria itu sedang menikmati olahraga paginya sampai mereka bertemu.


Raka memperhatikan penampilannya dan baru menyadari kalau dia masih menggunakan setelan olahraga. Pria itupun menggaruk kepalanya karena malu. Tidak mungkin jika dia akan bertamu ke tempat wanita dengan menggunakan setelan olahraga seperti ini.


"A–ah ... i–iya .... Aku tidak sadar kalau aku masih menggunakan setelan olahraga ini," ucapnya pelan.


Nadira tersenyum sambil menundukkan kepala saat melihat gelagat Raka.


"Hmmm ... ya sudah. Kalau begitu, aku akan pulang sekarang," ucap Raka dengan sedikit gugup. "Tapi ... aku ingin minta nomor kontakmu, supaya aku bisa menghubungimu nanti!" sambung pria itu seraya mengulurkan ponselnya ke hadapan Nadira.


"Baiklah." Nadira mengambil ponsel itu dan mengetikkan nomor ponsel miliknya. Setelah itu, keduanya pun terpisah dengan Nadira yang terus menundukkan kepala, sementara Raka masih berdiri di tempanya tadi sambil terus menatap punggung wanita yang entah sejak kapan begitu menarik hatinya.


Astaga ... kenapa aku bisa seperti ini? Apa ini sungguh rasa cinta? Jantungku benar-benar berdegup kencang dan hatiku seakan berbunga saat pertama kali melihatnya lagi, batin Raka seraya menyentuh dada sebelah kirinya yang masih setia berdegup tak karuan. Setelah melihat Nadira yang menghilang dibalik tikungan, barulah ia pun pergi dari sana.


"Kenapa aku harus berpenampilan seperti ini? Padahal, tadi momentnya sudah pas!" kesal Raka sambil menendang udara.


***


Sementara itu, Nadira segera masuk ke kamar kostnya dengan terburu-buru. Entah kenapa, hatinya mendadak bergejolak riang setelah bertemu dengan Raka. Padahal, niatnya dia tidak ingin menemui pria itu lagi. Namun, nyatanya Tuhan masih tetap mempertemukan mereka.


"Ya Tuhan ... kenapa aku harus bertemu dengannya lagi?" gumam Nadira seraya menyenderkan punggungnya di balik pintu yang sudah tertutup rapat.

__ADS_1


__ADS_2