
Nadira masih terdiam. Dia berpikir untuk meminta tolong pada Pak RT agar bersedia menjadi saksi untuk mempermudah proses perceraiannya dengan Danu. Dia tidak bisa terus menerus Bersama pria itu dan keluarga parasitnya yang selalu memanfaatkan kelemahannya. Sudah cukup untuk Nadira membuat Tiara terseret dalam permasalahannya dan membuat bayi itu tidak nyaman. Meskipun nantinya hanya Nadira sendiri yang mengurus Tiara, tapi setidaknya anaknya itu tidak akan ada orang yang memperlakukan Tiara sembarangan.
“Ehem.” Nadira berdehem untuk mengutarakan niatnya. Keputusannya untuk berpisah dengan Danu sudah bulat. Dia tidak peduli lagi dengan nama baik keluarga suaminya, Nadira akan membuka semua keburukan mereka demi melepaskan diri dari jerat pernikahan yang selama ini membuatnya menderita.
“Ada apa, Mbak Nadira?” tanya Pak Rt saat mendengar deheman dari salah satu warganya itu.
“Pak, saya minta tolong untuk menjadi saksi. Saya akan mengatakan semua yang saya alami selama pernikahan ini berlangsung!” ucap Nadira dengan yakin sehingga membuat suasana di rumah Pak Rt itu tegang.
“Ya, apa yang bisa saya lakukan?” tanya Pak Rt yang tak kalah ikut tegang. Begitu pula dengan Danu dan keluarganya.
“Nadira, jangan macam-macam kamu!” seru Ibu Susan kerena mendengar menantunya berbicara demikian pada ketua Rt.
Nadira tidak menggubris perkataan Ibu Susan. Dia hanya menoleh sesaat, sebelum akhirnya duduk tegak dan berkata, “Pak, sebenarnya saya ingin menggugat cerai suami saya.”
Danu langsung menegakkan punggungnya kala mendengar penuturan sang istri, sementara Raka justru tersenyum samar saat Nadira berkata ingin cerai dari Danu.
__ADS_1
“Nadira, apa-apaan kamu, hah?” tanya Nia yang langsung menjambak rambut Nadira hingga membuat warga yang ada di sana berteriak dan membantu melepaskan cengkeraman wanita itu dari rambut Nadira.
“Lepas, Mbak! Kamu yang apa-apaan?” tanya Nadira sambil berusaha melepaskan cengkeraman itu.
Rupanya Nadira mendapatkan kekerasan dari keluarga Danu itu membuat Pak Rt yang tadi sempat ragu, kini berpikir untuk bersedia membantu Nadira.
“Mbak Nia, tolong tenang!” perintah Pak Rt yang langsung bangkit dari tempat duduknya dan mengamankan warganya itu. “Bu, tolong bawa Nadira ke dalam!” pinta Pak Rt pada istrinya. Dia yang akan menghadapi Danu dan
keluarganya.
“Baik, Pak!” sahut Bu Rt sambil menuntun Nadira masuk ke ruang keluarga setelah cengkeraman Nia terlepas dari rambutnya.
“Mbak Nad, sebelumnya saya minta maaf, apa saya boleh mengetahui alasan Mbak untuk berpisah dengan Mas Danu? Sayang lho, kalian sudah menikah hampir lima tahun dan sudah ada Tiara juga,” tanya Bu Rt pada Nadira.
Nadira tersenyum kecut saat mendengar ucapan Bu Rt. Jika saja Danu dan keluarganya memperlakukan dia serta putrinya dengan lebih manusiawi, tentu saja dia juga akan bertahan. Namun, karena mereka justru malah memanfaatkan kebaikannya tanpa menjaga sikap, hal itu membuat dia marah dan kesal. Apalagi mereka juga tidak menyayangi Tiara seperti seharusnya, jadi itu menambah kekesalan Nadira pada keluarga suaminya. Akh, jangan lupakan selingkuhan Danu juga yang saat ini dikabarkan hamil. Tentu itu membuat Nadira bertambah kecewa.
__ADS_1
“Bu, saya sudah berusaha untuk tetap mempertahankan rumah tangga ini dari beberapa bulan lalu, lebih tepatnya saat saya sedang mengandung Tiara lima bulan. Saya berusaha untuk selalu bersikap baik pada Mas Danu dan keluarganya, tapi kebaikan saya justru selalu malah dimanfaatkan. Bahkan sekarang setelah saya bekerja pun Tiara tidak pernah mereka urus dengan benar. Ya, pada intinya saya sudah lelah. Untuk urusan Tiara, saya rasa … anak itu akan mengerti jika sudah besar. Dia juga pasti tidak akan rela ibunya direndahkan oleh pihak keluarganya yang lain,” jelas Nadira yang hanya ditanggapi ‘Oh’ saja oleh Bu Rt.
“Tapi ‘kan, Mbak, hal itu bisa kita bicarakan baik-baik. Setidaknya selama Mas Danu bertanggung jawab dengan keluarganya, maka akan lebih mudah menyelesaikan masalah ini,” ujar Bu Rt lagi. Mungkin karena dia tidak benar-benar mengetahui posisi Nadira yang sebenarnya, jadi di berusaha untuk membuat Nadira mengurungkan niatnya.
Nadira segera menggelengkan kepalanya. Andai semuanya sesimpel itu, mungkin dia juga akan bersedia kembali pada Danu.
“Bu, saya tidak memungkiri kalau Mas Danu memang bertanggung jawab pada keluarganya.”
Bu Rt langsung mengangguk dan tersenyum, sebelum akhirnya senyuman itu redup setelah wanita di sampingnya Kembali berkata, “Tapi, bukan pada istrinya … melainkan pada Ibu Susan dan Mbak Nia. Dia memang menyayangi anak kecil, tapi bukan Tiara, melainkan Vano.”
Ibu Arum selaku istri dari Pak Rt langsung tercekat diam, dengan mata yang membulat sempurna. “Mbak Nadira serius?” tanyanya seakan tidak percaya. Akh, bagaimana dia bisa langsung percaya jika selama ini Ibu Susan
selalu menjaga sikapnya ketika di depan orang-orang.
“Untuk apa saya bohong, Bu?” Nadira lagi-lagi tersenyum miris. “Bahkan Mas Danu berselingkuh dariku. Aku dengar selingkuhannya sedang mengandung sekarang,” sambung wanita itu lagi.
__ADS_1
Kali ini Ibu Arum benar-benar tidak bisa lagi menutupi keterkejutannya. Dia hampir saja jatuh dari tempat duduknya.
“Astaga … pantas saja Mbak Nadira ngotot untuk bercerai. Kalau memang seperti itu kejadiannya, saya dukung keputusan itu!” seru Ibu Arum.