Serpihan Hati Yang Disia-siakan

Serpihan Hati Yang Disia-siakan
Bab 68


__ADS_3

Ibu Susan masih diam saat Nadira mendesaknya dengan mengatakan perlakuannya dulu. Ya, Nadira memilih untuk tidak


lagi peduli dengan  penilaian wanita paruh baya itu terhadap dirinya. Lagi pula, Nadira ingin tahu reaksi wanita hamil yang sedang berdiri di samping mantan suaminya ketika mengetahui perlakuan calon ibu mertuanya.


“Ibu pasti tidak bisa menjawab pertanyaanku ‘kan? Apa sekarang Ibu sadar bagaimana semua ini terjadi padaku?” tanya Nadira lagi.


Danu tampak mulai geram saat melihat ibunya terus didesak pertanyaan dari mantan istrinya itu. Namun, Danu sendiri tidak


tahu apa yang harus dilakukannya karena apa yang dikatakan Nadira ada benarnya.


“Na—Nadira, tolong jangan bersikap seperti itu!” Danu berkata dengan nada yang sedikit terbata. Dia merasa malu dengan


perlakuan buruknya dulu terhadap wanita yang pernah menemaninya selama lima tahun ini. Bukankah penyesalan itu selalu datang belakangan? Dan itulah yang saat ini sedang dirasakannya. Belum ada satu jam seusai ketukan palu hakim


terdengar, tapi hatinya mendadak terasa kosong.


“Aku tidak melakukan apapun. Aku hanya menjawab perkataan Ibu tadi dengan kenyataan yang ada. Jadi, apa yang harus aku


hentikan?” sahut ibu muda satu anak itu.


“Ma—maksudku … tolong kamu jangan ungkit-ungkit lagi masa itu. Bukankah semuanya sudah berlalu?”


Nadira menarik satu sudut bibirnya saat mendengar ucapan Danu. “Kenapa? Apa kamu khawatir, wanita yang akan menjadi istrimu itu mengetahui apa yang sudah dilakukan Ibumu dulu?” tanyanya


sambil menunjuk Anita dengan dagu.


“Jika memang dia benar-benar mencintai kamu, dia seharusnya siap dengan semua konsekuensi yang ada dihadapannya, termasuk cibiran para tetangga kalian,” sambung Nadira lagi.


Semua orang yang ada di sana hanya terdiam saat mendengar perkataan Nadira, termasuk Nia dan Erhan, keduanya sama-sama diam saja. Padahal, biasanya sepasang suami istri itu selalu

__ADS_1


bertindak sesuka hati mereka, tapi kali ini mereka seperti tidak punya nyali, meskipun hanya untuk menatap Nadira secara langsung.


“Na—Nadira!” Danu menggapai tangan Nadira. “Tolong bicara sebentar denganku,” pinta pria itu.


Nadira langsung menghempaskan tangan mantan suaminya dari pergelangan tangan dengan kasar. Dia sudah tidak sudi pria


itu menyentuh anggota tubuhnya lagi, meskipun hanya seujung kuku pun, Nadira tidak mau.


“Tidak! Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi dan aku juga tidak mempunyai hak untuk mengikuti permintaanmu,” sahut Nadira dengan tegas.


“Tapi, aku ….”


“Mas, aku ingin pulang!” Anita menarik tangan Danu saat pria itu mencoba kembali meraih tangan Nadira. Dia merasa kesal karena sejak tadi, ayah dari bayinya itu terus menatap Nadira tanpa


menoleh padanya.


"Tapi aku ingin segera pulang, Mas!" kukuh Anita sambil memaksa pria itu untuk segera mengikuti langkahnya menuju mobil yang mereka sewa.


"Sebaiknya kamu pulang saja, lagi pula sudah tidak ada yang perlu kita bahas," ucap Nadira saat melihat mantan suaminya ditarik-tarik oleh Anita.


"Tapi, aku belum selesai berbicara denganmu! Ada beberapa hal yang belum kita bahas, Nadira!" tolak Danu.


"Tidak ada. Aku yakin, pembicaraan kita hanya sampai di sini saja." Nadira berbalik dan berniat untuk segera pergi dari sana. Namun, belum sempat wanita itu menaiki mobil taksi, tiba-tiba Danu kembali berbicara.


"Ini ada hubungannya dengan Tiara, Nadira. Kamu tidak mungkin membiarkan dia tumbuh tanpa sosok seorang ayah, bukan?" tanyanya.


Nadira tersenyum simpul tanpa membalikkan tubuhnya. "Tiara baik-baik saja tanpa kamu. Dia sudah terbiasa hidup tanpa sosok seorang ayah. Jadi, aku pikir dia tidak dibutuhkan olehmu. Lagi pula akan ada anak lain yang mungkin kehadirannya justru akan membuat kamu melupakan Tiara," sahut wanita muda itu.


Ibu Risma yang sejak tadi diam, kini menoleh menatap wajah putrinya. Dia tahu kalau Nadira saat ini sedang sedih atas perkataannya sendiri. Akan tetapi, apa yang dikatakan oleh Nadira juga ada benarnya, kehadiran cucunya mungkin suatu saat akan tergantikan oleh anak Danu yang lainnya.

__ADS_1


Ya Tuhan ... semoga purtiku bisa menghadapi semua cobaan ini dengan ikhlas. Dan cucuku ... semoga bisa mendapatkan sosok ayah yang akan menyayanginya lebih dari ayah kandungnya sendiri, batin Ibu Risma dengan penuh harap.


Hingga beberapa saat, semuanya hening. Baik Danu maupun keluarganya tak ada yang menyahuti perkataan Nadira.


"Kurasa pembicaraan kita benar-benar sudah berakhir sekarang. Aku pamit," ucap Nadira sebelum naik ke mobil.


Melihat Nadira sudah naik ke mobil, Danu hanya bisa menghela napas berat. Bagaimana tidak, tadinya dia sempat berharap Nadira akan memperbolehkannya mendekati Tiara, dengan vcara itu maka dia juga akan mendekati Nadira lagi. Namun, sekarang harapannya hancur karena sepertinya hal itu akan sangat untuk dia dapatkan.


"Mas!" Anita menyadarkan Danu dari lamunan pria itu.


"Hmmm," sahut Danu dengan sebuah deheman.


"Kamu tidak berniat untuk mendekati Nadira lagi 'kan?" tanya Anita secara tiba-tiba. Dari tatapan pria itu, Anita menebak apa yang saat ini sedang dipikirkannya. Dia bukan wanita yang mudah dibodohi karena sebelumnya Anita sudah lebih banyak mengetahui tentang rata-rata pria berpasangan yang mendekatinya. Jadi, dia bisa mengetahui apa yang dirasakan oleh Danu sekarang.


"Aku ...."


"Kalau kamu berniat untuk kembali lagi pada Nadira, maka aku tidak akan segan untuk menggugurkan anakmu ini. Bukankah kamu sudah mengetahui kalau anak ini adalah anak laki-laki yang selama ini kamu inginkan?" ancam Anita sambil mengusap perutnya.


Ibu Susan langsung menoleh ke arah wanita hamil itu berada, dia cukup terkejut mendengar perkataan Anita yang mengancam akan menggugurkan kandungannya.


"Anita, hati-hati dengan perkataanmu! Jangan mengancam Danu dengan mengatakan hal buruk seperti itu karena Ibu yang akan menjaminnya kalau dia tidak akan kembali lagi pada wanita licik itu!" tegur Ibu Susan.


"Siapa yang Ibu maksud dengan wanita licik?" tanya Danu sambil menatap ibunya dengan tajam. Sepertinya dia mulai kembali menjadi Danu yang dulu yang begitu mencintai Nadira.


"Danu, turunkan pandanganmu dari Ibu!" Nia baru mengangkat suaranya saat melihat adik laki-lakinya itu menatap sang ibu dengan tajam hanya karena Ibu Susan menyebut Nadira sebagai wanita licik.


Wajah Danu langsung berbalik menatap ke arah lain. Hatinya mendadak kesal saat sang ibu menjelekkan Nadira.


Akh, sebenarnya apa yang terjadi denganku sekarang? Kenapa perasaanku langsung berubah seperti dulu lagi terhadap Nadira? batin Danu.

__ADS_1


__ADS_2