
"Sudah jelas. Jangan pernah mengatakan hal buruk tentang Nadira! Dia sama sekali bukan wanita seperti itu!" jelas Raka hingga membuat Danu memicingkan matanya.
"Bagaimana bisa kamu berpikir Nadira bukan wanita murahan, hah? Bukankah dia sudah membuktikannya dengan memilih keluar dari rumah sambil membawa anak kami tanpa aku mengetahui di mana keberadaannya selama itu? Atau ... jangan-jangan istri serta putriku, ya?" tuduh Danu yang langsung membuat Pak RT beserta pemuda yang ada di sana menoleh ke arah Raka.
Raka menarik sudut bibirnya saat mendengar tuduhan Danu padanya. Rupanya suami Nadira itu pandai sekali memanipulasi keadaan dan mengembalikan fakta yang sebenarnya. Jelas-jelas Nadira pergi dari rumah mereka karena keluarga serta suaminya terus-menerus menganiaya batin wanita itu, tapi sekarang Danu dengan mudahnya memutar balikan fakta dan menyalahkan Nadira.
Ya, sedikit banyaknya Raka mengetahui tentang perilaku buruk ibu mertua serta suami Nadira itu dari Emma. Sebut saja dia memang begitu penasaran dengan Nadira hingga berani bertanya pada sahabat Nadira itu dan membuat Emma tanpa sadar membicarakan semua sikap yang Nadira terima dari keluarga suaminya. Bahkan tidak hanya sampai di situ saja, Raka juga mengetahui tentang sikap yang ditunjukkan oleh keluarga Nadira sendiri pada wanita itu. Lagi-lagi sumber informannya adalah Emma, sehingga membuat Raka mengetahui semua tentang keadaan Nadira.
"Apa alasanmu berpikir kalau aku yang membawa istri serta putrimu kabur?" tanya Raka dengan nada santainya. Bahkan dia sama sekali tidak terlihat tegang ataupun takut menghadapi suami Nadira itu.
Kini yang terlihat tegang bukanlah Raka, melainkan Danu sendiri saat mendengar pertanyaan dari atasan istrinya itu.
"Su–sudah pasti karena kamu merayunya dan karena wanita itu adalah wanita murahan, jadi dia mengiyakan ajakanmu," jawab Danu dengan terbata-bata.
Raka menggelengkan kepalanya sambil tersenyum remeh. Dia benar-benar tidak mengerti dengan Nadira yang dulu pernah memilih untuk menjalin asmara bersama Danu. Namun, Raka juga tidak menyalahkan Nadira karena rupanya pria itu pandai memanipulasi keadaan hingga mungkin membuat wanita itu dulu terjebak dalam rayuannya. Jika tidak, Nadira mungkin bersedia menikah dengan pria seperti itu.
__ADS_1
"Apa kamu yakin?"
"K–kenapa aku harus tidak yakin dengan perkataanku sendiri? Pada kenyataannya Nadira memang merupakan wanita murahan yang dengan mudahnya pergi dari rumah setelah dia mencuri barangku serta menjualnya," jawab Danu tanpa menyadari kalau wanita yang menjadi Ibu dari anaknya itu sudah berada di ambang pintu rumah Pak RT bersama dengan Ibu Rumi yang turut ikut mendampinginya.
"Kamu benar, Mas. Aku memang wanita murahan karena selalu bersikap baik padamu setelah apa yang kamu lakukan dulu padaku. Dan aku juga selalu menerima apapun yang kamu berikan padaku. Bahkan aku juga tidak mempermasalahkan kamu disaat kamu tidak memberikan nafkah untukku karena lebih mementingkan keluargamu sendiri. Aku memang wanita murahan yang tidak bisa meminta hakku dengan benar. Seandainya saat itu aku menuntutmu lebih keras, mungkin gelar wanita murahan tidak akan pernah kamu katakan," ucap Nadira begitu dia mendengar perkataan menyakitkan dari suaminya sendiri.
Ya, Nadira memutuskan untuk menyusul suami serta atasannya ke rumah Pak RT karena merasa tidak enak hati sudah membuat keributan di malam hari. Namun, yang didapatkannya di sana bukan hanya sekedar sakit hati, melainkan kata-kata menusuk tajam dari suaminya sendiri. Bahkan, Nadira juga dituduh sudah berselingkuh dengan Raka, sementara pada kenyataannya Danu lah yang sudah berselingkuh darinya dan yang lebih parahnya lagi saat ini selingkuhannya sedang mengandung anak mereka.
"Na–Nadira?"
"Oh, jadi selama ini Danu lebih mementingkan kebutuhan keluarga serta kakaknya dari pada Nadira dan Tiara?" tanya salah satu bapak-bapak yang turut ikut di sana.
"E–eh, tidak seperti itu, Pak. Saya tetap memenuhi kebutuhan Nadira kok," jawab Danu lagi.
"Yakin?" tanya Nadira sambil tersenyum sinis pada suaminya.
__ADS_1
"Hentikan semua omong kosong ini, Nadira! Selama ini Ibuku sudah berbuat baik padamu, bahkan Kakakku juga tidak pernah membedakanmu denganku meskipun kamu hanya adik iparnya?"
"Oh, ya? Apa maksudmu aku diperlakukan baik karena mereka membutuhkanku sebagai tulang punggungnya? Oh, ayolah Mas Danu .... Kamu tidak perlu menutup-nutupi lagi keburukan keluargamu. Tadinya juga aku tidak berniat untuk membicarakan hal ini. Tetapi aku berbalik pikiran karena melihat sikapmu yang terlalu menyalahkanku," kesal Nadira.
Aib keluarga yang tadinya tidak akan pernah diumbar oleh Nadira, kini justru meluncur lancar dari bibir wanita itu setelah semua yang dilakukan oleh Danu padanya. Ya, Nadira memang tidak bermaksud untuk menjelek-jelekkan suami serta keluarganya, tapi kalau Danu bisa sedikit lebih menjaga perasaannya, mungkin dia tidak akan melakukan hal itu.
Para warga di sana saling berbisik membicarakan Danu serta keluarganya. Tak lama kemudian Ibu Susan, Nia serta Erhan datang ke rumah Pak RT dan langsung mendorong Nadira yang berada tak jauh di depan pintu masuk.
"Nadira apa-apaan kamu ini, hah? Tidak cukupkah kamu pergi dari rumah meninggalkan Danu sendirian dan saat pulang pun kamu membawa selingkuhanmu?" tuduh Nia tanpa mengetahui kejadian sebenarnya karena dia hanya mendengar dari orang yang baru saja menjemputnya, memberitahukan kalau Danu sedang berada di rumah Pak RT.
"Eh, Nia! Aku tidak mengatakan kalau pria asing itu selingkuhan Nadira, ya!" sergah salah satu warga yang baru saja datang bersama Ibu Susan.
"Lho, memang apa bedanya pria asing itu dengan selingkuhan Nadira? Bukankah mereka benar-benar mempunyai hubungan?" tanya Nia lagi.
"Ikh, bukan begitu, Nia. Aku hanya mengatakan kalau di rumah Danu sedang terjadi keributan! Aku tidak mengatakan kalau dia adalah selingkuhan Nadira!"
__ADS_1
"Halah, sama saja. Nadira itu benar-benar murahan dan tidak tahu malu. Dia memang wanita yang lupa dengan dirinya sendiri!"