Serpihan Hati Yang Disia-siakan

Serpihan Hati Yang Disia-siakan
Bab 81


__ADS_3

Nadira tersenyum kecil saat mendengar permintaan Nera yang menyuruhnya untuk pergi dari sana.


"Nera, bukankah aku sudah mengatakan juga padamu 'Jangan memaksakan seseorang yang tidak pernah mencintaimu? Jika dia benar-benar mencintaimu dan menginginkanmu sebagai pendamping hidupnya, dia tidak akan pernah tergoda oleh wanita lain!" sahut Nadira dengan tegas.


"Andri tadinya juga seperti itu, dia tidak pernah melihat wanita lain selain putriku, sampai akhirnya kamu datang dan mengacaukan semuanya!" Ibu Kamila lagi-lagi menunjuk wajah Nadira.


Ibu muda satu anak itu menggelengkan kepalanya pelan. Kenapa rasanya susah sekali memberikan mereka pengertian? Apa mereka berpikir tidak ada lagi pria lain selain Andri yang akan mencintai Nera dengan tulus? tanyanya dalam hati.


"Apa menurut Ibu Kamila seperti itu?" tanya Nadira pada keduanya.


"Iya. Memang seperti itu adanya dan itu juga bisa dibuktikan oleh semua warga kampung ini. Mereka pasti akan mengatakan kalau Andri itu sangat mencintai Nera dulu!" jawab Ibu Kamila dengan yakin.


Nadira berpikir sejenak sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Sebenarnya dia tidak ingin mengikuti permintaan sepasang ibu dan anak itu, tetapi karena dia juga lelah terus-menerus menghadapi keduanya, akhirnya Nadira pun berkata, "Baiklah, jika kalian memang menginginkan hal itu, aku akan pergi dari sini–"


"Nah, kenapa kamu lama sekali untuk berkata seperti itu aja!" potong Nera dengan spontan.

__ADS_1


"Ck, aku belum selesai berbicara, Nera!" ucap Nadira yang kesal karena daerah tiba-tiba memotong ucapannya.


"Memangnya apalagi yang mau kamu katakan? Aku hanya perlu mendengar kamu bersedia pergi dan melihat kepergianmu itu?"


"Tentu saja aku belum selesai mengatakan semuanya. Aku ingin kalian meminta maaf padaku, jika kepergianmu sama sekali tidak berubah pendirian Andri untuk menggagalkan pernikahan kalian!" pinta Nadira dengan tegas sambil menatap sepasang ibu dan anak itu.


Nadira melihat Ibu Kamila dan Nera tampak saling berpandangan sesaat. Dia juga melihat gesture kepala Ibu Kamila yang menggeleng pelan meminta Nera untuk tidak mengikuti permintaan Nadira.


Jangan sampai Nera bersedia meminta maaf pada Nadira. Aku tidak sudi meminta maaf pada wanita itu karena meskipun Andri membatalkan pernikahannya dengan Nera, aku tidak akan membiarkannya begitu saja, batin Ibu Kamila.


"Mmmmh ... ka–kami." Perkataan Nera terbata-bata karena dia sendiri juga tidak yakin pernikahannya akan berjalan lancar seperti rencana awal.


Melihat putrinya yang seakan laku untuk menjawab, Ibu Kamila pun dengan segera berkata, "Kami tidak akan melakukan hal itu karena kami yakin kalau Andri akan tetap menikah dengan Nera, bagaimanapun caranya. Jadi, sekarang tugasmu hanya tinggal pergi dari sini dan tutup semua akses untuk Ibu Nurul serta keluarganya agar tidak bisa menghubungimu!"


Nadira masih menetap kedua wanita berbeda generasi itu tanpa mengalihkan pandangannya. Sebenarnya dia juga enggan untuk pergi dari sana karena sudah merasa nyaman dengan lingkungannya, tetapi karena Nadira ingin hidupnya lebih tenang, akhirnya ia pun memilih untuk pergi dari sana sesuai keinginan Nera dan ibunya.

__ADS_1


"Hmmm. Baiklah. Sesuai keinginan kalian berdua, aku akan pergi dari sini," ucap Nadira.


"Baguslah kalau begitu. Awas saja kalau kamu berani membohongi kami berdua! Kami tidak akan segan-segan melakukan hal yang tidak pernah kamu duga!" ancam Ibu Kamila.


Tanpa menunggu jawaban Nadira, Ibu Kamila serta Nera pun pergi dari sana. Ketiganya sama sekali tidak menyadari kalau percakapan mereka diperhatikan oleh seseorang yang berdiri tak jauh dari samping rumah Nadira. Bahkan, dia mendengar jelas apa yang dikatakan oleh Ibu Kamila pada Nadira semuanya.


"Aku benar-benar tidak menyangka sebegitu terobsesinya keluarga Nera terhadap putraku, sampai-sampai mereka berani mengancam dan mengusir wanita lain yang terlihat dekat dengan Andri," gumam Ibu Nurul sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Dia pun memilih untuk membatalkan niatnya ke rumah Nadira dan berbalik pergi ke rumahnya sendiri untuk bertemu dengan sang suami. Dia akan mengatakan semua hal yang dilihat serta didengarnya tadi pada Pak Gahar.


...****************...


Sementara itu, Nadira masih berdiri membantu menatap punggung kedua wanita yang baru saja mengusirnya dari sana. Kini dia merasa bingung sendiri akan pergi kemana karena dia juga tidak mungkin pulang ke Bandung.


Ya Tuhan ... sekarang aku ke mana aku akan pergi? tanyanya dalam hati.


Nadira menarik nafas panjang dan mengeluarkannya secara perlahan, sebelum dia kembali masuk ke rumahnya. Sekarang yang harus dikerjakan oleh wanita itu adalah mulai mengemasi barang-barangnya dan pergi dari sana secepat mungkin, sebelum Nera dan Ibu Kamila kembali mendatanginya.

__ADS_1


"Aku kira ... hidupku akan lebih tenang setelah berpisah dengan Mas Danu, rupanya masih harus mengalami hal seperti ini," gumamnya.


__ADS_2