Serpihan Hati Yang Disia-siakan

Serpihan Hati Yang Disia-siakan
Bab 62


__ADS_3

“Andri, mana Ibumu?” tanya Pak Gahar pada putranya yang sedang menimang Tiara.


“Oh, Ayah sudah pulang? Ibu ada di dalam,” jawab pemuda itu sambil melirik Nadira yang sedang berdiri tak jauh di belakang tubuh ayahnya. Gadis itu tertunduk dalam seakan enggan untuk


menatapnya.


Ada apa dengan Nadira? Kenapa dia sampai menunduk dalam seperti itu? tanya Andri dalam hatinya.


Pak Gahar menyadari tatapan Andri yang tertuju pada Nadira, tapi dia tidak melarangnya dan hanya berdehem untuk menyadarkan putranya agar tidak lama-lama menatap putri mendiang sahabatnya itu.


“Ehem!”


Andri segera tersadar saat mendengar deheman keras sang ayah. Begitu pula dengan Nadira yang semakin mengeratkan


tangannya yang sedang bertautan. Sungguh, dia merasa tidak nyaman saat Andri menatapnya tanpa berkedip.


“Andri, segera berikan Tiara pada Nadira. Dia harus segera meny*suinya sebelum Kembali ke rumah orang tua Nera!”


perintah Pak Gahar yang langsung diangguki oleh putranya itu.


“Maaf karena aku malah membuatmu menunggu lama,” bisik Andri di telinga Nadira saat memberikan Tiara ke pangkuan


wanita itu.


Nadira tidak menyahuti perkataan Andri, dia segera menerima putrinya dari tangan pemuda itu dan berbalik pergi, tentunya setelah mengucapkan kata ‘Terima kasih’.


“Nadira kenapa langsung pulang, Ndri?” tanya Pak Gahar saat melihat Nadira yang langsung berbalik pergi setelah menerima Tiara.


“Tidak tahu, Yah Mungkin dia sedang buru-buru saja,” jawab Andri yang merasa tidak yakin dengan perkataannya sendiri.


“Oh. Yah sudah. Ayah masuk dulu,” ucap Pak Gahar setelah mendengar jawaban putranya.


“Iya, Yah.” Andri membiarkan ayahnya masuk lebih dulu sementara dirinya masih menatap punggung Nadira yang baru saja


menghilang dibalik pintu pagar rumahnya.

__ADS_1


Kenapa aku merasa Nadira tadi benar-benar menghindariku? tanyanya dalam hati. Apa jangan-jangan Nera mengatakan


sesuatu padanya? Padahal, kemarin sore sikapnya masih biasa saja. Meskipun sedikit jutek, sambung pria itu lagi. Tak ingin berpikiran jauh, Andri pun hanya menganggap kalau sikap Nadira tadi hanya karena wanita memang sedang buru-buru, hingga mengabaikannya.


“Akh, sudahlah … mungkin dia memang sedang terburu-buru saja dan tidak berniat menghindariku. Lagi pula aku dan dia tidak punya masalah apa-apa,” gumam Andri sebelum dia masuk ke rumah dan menyusul Pak Gahar.


***


Sementara itu, sesampainya di kontrakan, Nadira segera meny*sui bayinya. Dia hanya bisa menatap Tiara dengan bibir tersenyum tipis menahan air mata, setiap kali melihat wajah bayi mungil itu. Di usianya yang masih sangat belia, Tiara harus kehilangan kasih sayang dari ayah kandungnya sendiri dan yang membuat Nadira sedih adalah; bayi itu tertawa dengan pria lain selain ayahnya. Meskipun Nadira berusaha untuk menguatkan hatinya untuk tidak bersedih dengan hal itu, tetapi pada kenyataannya tetap saja


hatinya merasa sakit serta sedih di saat bersamaan.


“Maafkan Mama, Nak. Mama tidak bermaksud untuk membuatmu kehilangan  kasih sayang Ayahmu, hanya saja … rasanya akan tetap seperti ini jikalau pun kita masih tetap bersamanya,” ucap wanita itu lirih.


Saat Nadira masih sedang meny*sui Tiara, tiba-tiba saja ponselnya berdering dan menampilkan sederet nomor yang tidak dia kenali.


“Nomor siapa ini?” gumamnya. Nadira tidak langsung menjawab panggilan itu dan hanya menatapnya saja hingga akhirnya


dering panggilan itupun berakhir sendiri.


Assalamu’alaikum, Nad. Ini Ibu. Kenapa tidak menjawab panggilan Ibu? Apa kamu masih marah? Bagaimana keadaanmu dan anakmu? Di mana kamu dan putrimu sekarang ini, Nak?


Isi pesan Bu Risma cukup mengejutkan Nadira karena dia tidak pernah mengira kalau ibunya itu akan menghubunginya, tapi di sisi lain Nadira juga merasa heran karena saat dia pergi kemarin, tak ada satu pun orang dari pihak keluarganya yang mengetahui nomor ponselnya.


“Ibu tahu nomorku dari mana?” gumamnya.


“Apa dari pengacaraku? Jangan-jangan Mas Danu juga sudah mengatakan tentang perpisahan kami ini?” sambungnya lagi.


Tanpa berpikir lama, Nadira segera mendial nomor ponsel Ibu Risma lagi untuk menghubunginya karena dia juga merasa senang saat ibunya itu menghubungi dia lagi. Bahkan menanyakan keberadaannya juga. Tak perlu menunggu lama saat Nadira kembali menelpon Ibu Risma karena wanita paruh baya itu langsung menjawab panggilannya.


“Assalamu’alaikum, Bu,” sapa Nadira. Dia menahan napasnya sesaat karena merasa gugup. Ini pertama kalinya lagi dia


berbicara dengan sang ibu setelah kedatangannya beberapa bulan lalu yang langsung diusir dari kediaman wanita itu. Tidak bisa Nadira pungkiri, dia merasa senang, sedih dan takut secara bersamaan.


“Wa’alaikum salam, Nad! Ibu senang karena kamu merespon panggilan Ibu dengan cepat.” Nadira bisa mendengar getaran

__ADS_1


halus yang terdengar dari bibir ibunya itu.


“Ibu khawatir padamu dan anakmu, Nad. Kalian di mana? Kenapa tidak pulang ke rumah?” tanya wanita paruh baya itu lagi.


“Ma—maaf, Bu. Aku … tidak bermaksud untuk membuat Ibu sedih, tapi aku juga tidak ingin kalian kembali mengusir kami. Jadi, aku memutuskan untuk pergi ke tempat yang mungkin bisa membuatku tenang,” jawab Nadira sambil menahan isakannya agar Ibu Risma yang ada di seberang sana tidak mendengar getaran pada suaranya.


“Apa maksudmu, Nad? Ibu justru bertambah sedih saat harus membiarkan putri Ibu kesusahan sendirian seperti ini. Ibu tahu, kamu pasti tersinggung dengan perlakuan Ibu dan Kakakmu saat


terakhir kita bertemu, tapi … Ibu tidak bermaksud untuk melakukannya. Sekarang, tolong beritahu Ibu, kamu ada di mana? Ibu akan menyusulmu,” ucap Ibu Risma panjang lebar.


Nadira tersenyum kecil saat dia merasa kalau ibunya sekarang merasa perhatian padanya, tapi hal itu tidak membuat Nadira


langsung mengatakan keberadaannya karena rasa sakit hatinya membuat dia tidak ingin lagi menyusahkan keluarganya itu, apalagi sang kakak, Faisal.


“Maaf, Bu. Untuk sekarang … aku tidak bisa mengatakan di mana keberadaanku. Tapi, Ibu tidak perlu khawatir, aku dan Tiara dalam keadaan baik. Kami hidup tenang berdua di sini.”


“Apa kamu masih marah pada kami atas perlakuan kami? Sampai-sampai kamu tidak mau mengatakan keberadaanmu sendiri.”


“Tidak, Bu. Aku tidak marah. Aku hanya ingin meminta waktuku dari kalian untuk menenangkan hatiku dulu,” kilah Nadira dengan cepat. Dia tidak ingin kembali membuat perkara yang mungkin akan semakin membuatnya dibenci sang kakak karena berkata jujur dengan rasa marahnya pada kedua keluarganya itu.


Ibu Risma terdengar menghela napas berat saat Nadira baru saja menjawab ucapannya. Sebagai seorang ibu, dia sadar dengan


kesalahan yang pernah dilakukannya, yaitu membiarkan putranya menyakiti putri bungsunya saat putrinya itu sedang benar-benar membutuhkan perlindungannya.


“Ibu benar-benar minta maaf, Nad. Ibu seharusnya tidak melakukan perbuatan yang bisa menyakiti hatimu. Ibu menyesal,”


ucap Ibu Risma.


“Tidak apa, Bu. Aku sudah baik-baik saja. Berkat perlakuan kalian, aku jadi bisa mengetahui bagaimana caranya bertahan sendirian. Bukan aku tidak menghargai kalian sebagai keluargaku, tapi aku juga tidak ingin membuat beban kalian bertambah karena harus memikirkanku dan anakku. Aku sadar, aku hanyalah beban untuk kalian.”


“Tidak, Nad! Tolong jangan berkata seperti itu—”


“Pada kenyataannya memang benar, Bu. Aku hanya beban yang selalu membuat kalian susah. Maka dari itu, aku memilih untuk menjauhi kalian sementara waktu. Aku akan menemui kalian lagi saat aku sudah benar-benar siap. Tolong doakan aku, Bu. Hanya itu keinginanku. Dan … jaga diri Ibu baik-baik, aku menyayangimu,” ucap Nadira sebelum ia mengakhiri


panggilannya lebih dulu. Tekad Nadira sudah bulat, dia tidak ingin menyusahkan orang-orang sekelilingnya lagi. Sudah cukup dia direndahkan oleh keluarga Danu yang memandangnya dengan sebelah mata. Jadi, saat ini Nadira akan membuktikan pada orang-orang itu kalau dirinya bisa berdiri sendiri tanpa menyusahkan mereka lagi.

__ADS_1


__ADS_2