Serpihan Hati Yang Disia-siakan

Serpihan Hati Yang Disia-siakan
Bab 83


__ADS_3

Perdebatan kecil antara Nadira, Nera, Ibu Kamila sempat terjadi selama beberapa saat karena Ibu Kamila tetap tidak mengizinkan Nadira untuk bermalam di rumah kontrakan. Bahkan setelah Pak Gahar turun tangan pun, wanita paruh baya itu tetap kukuh dengan keinginannya. Dia benar-benar tidak mempedulikan Tiara yang masih kecil.


"Pak, maaf sebelumnya ... bukan saya tidak mau menghargai niat baik Bapak, tapi sepertinya keberadaan saya di sini sudah benar-benar tidak diinginkan. Jadi, tolong jangan halangi saya lagi untuk segera pergi dari sini," ucap Nadira setelah dia merasa kalau usaha Pak Gahar untuk meyakinkan Ibu Kamila tidak berhasil. Dia pun sebenarnya sudah tidak tahan untuk segera pergi dari sana.


"Tapi, Nad ... bagaimana dengan Tiara? Apakah kamu tidak kasihan kalau membawa bayimu di luar rumah saat malam hari? Belum lagi kamu juga tidak mengetahui akan tinggal di mana." Wajah Pak Gahar tampak khawatir saat Nadira memutuskan untuk segera pergi dari sana.


"Bapak tidak perlu khawatir, Tiara adalah putriku dan aku bisa menjaganya. Aku juga tidak ingin membuat hubungan kalian semakin menjauh karena kehadiranku di sini," kata Nadira lagi.


"Baguslah kalau kamu tahu diri." Nera tiba-tiba menyela percakapan antara Nadira dan Pak Gahar.


"Nera, jaga cara bicaramu! Kalau kamu benar-benar ingin menjadi istrinya Andri, tolong rubahlah sikap buruk itu. Aku tidak mau mempunyai menantu yang tidak beretika!" sergah Pak Gahar yang langsung membuat merah terdiam.


Mendengar nada bicara Pak Gahar yang tinggi membuat nyali merah menciut dan dia memilih untuk bersembunyi di balik punggung mamanya. Baru kali ini dia melihat pria paruh baya itu berbicara dengan nada tinggi.


Sial sekali, kenapa Pak Gahar malah membela Nadira? geramnya dalam hati.


"Pak, tolong jangan halangi saya lagi. Saya memilih tapi sekarang juga," ucap Nadira yang tentu saja membuat Nera serta Ibu Kamila tersenyum puas.


"Apa kamu yakin?" tanya Pak Gahar dengan berat hati.


"Iya, Pak. Salam untuk Ibu Nurul. Maaf karena aku tidak menemuinya dulu," pesan Nadira untuk Ibu Nurul.


Pak Gahar pun hanya mengangguk samar. Dia tahu kalau istrinya itu tidak akan tega melihat kepergian Nadira, jadi Pak Gahar meminta Ibu Nurul untuk tetap di rumah dan dia yang akan membereskan semuanya. Meskipun usahanya untuk meyakinkan Ibu Kamila gagal, tapi setidaknya dia tidak membuat Nadira merasa kalau dirinya benar-benar diusir dari kampung itu.


"Baiklah kalau memang kamu akan tetap pergi sekarang. Bapak harap semoga kamu cepat mendapatkan tempat tinggal," ucap Pak Gahar sambil mengusap Tiara yang berada di gendongan Nadira.


"Iya, Pak."

__ADS_1


Nadira pun berpamitan dengan Pak Gahar dan segera menaiki mobil yang sudah membawa barang-barangnya tadi. Meskipun malam ini dia belum mengetahui akan tinggal di mana, tapi setidaknya dia sudah pergi dari tempat yang membuatnya lagi-lagi tidak merasa nyaman itu.


Hufp, aku harap ini terakhir kalinya aku merasa terusir dari tempat yang membuatku nyaman, batin Nadira sambil menatap jendela mobil yang mulai melaju meninggalkan Pak Gahar, Ibu Kamila, serta Nera yang masih berdiri di sana.


***


"Bu, kalau boleh tahu ... tujuan kita mau ke mana?" tanya sama sopir yang sejak tadi memperhatikan Nadira diam sambil menatap keluar mobil.


"Tolong bawa saya ke tempat penginapan dulu, Pak. Saya belum tahu akan tinggal di mana, jadi ... untuk malam ini sepertinya saya harus mencari tempat beristirahat dulu," jawab Nadira setelah beberapa saat berpikir. Pergi mendadak seperti ini membuatnya tidak mempunyai persiapan apapun.


"Jadi ... kita belum punya tujuan, Bu?" tanya sopir itu dengan sedikit terkejut.


"Iya, Pak. Maaf ...."


"Ti–tidak apa-apa, Bu."


"Bu, sebenarnya saya bingung karena penginapan di sini rata-rata mahal dan saya lihat Ibu ...." Sopir itu tidak melanjutkan kata-katanya karena dia menilai penampilan Nadira tidak akan mampu untuk membayar sewa kamar hotel. Jadi, dia langsung menghentikan mobilnya di depan sebuah bangunan kontrakan sederhana.


Nadira yang mengerti maksud sang sopir pun, hanya diam. Namun, itu tidak membuatnya sakit hati karena memang pada kenyataannya dia sedang tidak memegang uang lebih, jikalaupun ada itu hanya cukup untuk sewa satu bulan kamarku saja.


"Tidak apa-apa, Pak. Tapi ... ngomong-ngomong di mana kita sekarang?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.


"O–oh. Ini ... kita sedang ada di depan bangunan kos-kosan, Bu. Saya kira, Ibu bisa menyewa satu kamar kos di sini untuk tempat tinggal," jawab sopir itu sambil menunjuk bangunan di sampingnya.


"Oh, kamar kost, ya ...." Nadira sedikit menimang keputusannya untuk tinggal di sana. Tadinya dia berniat untuk kembali menyewa sebuah rumah yang akan dijadikannya tempat tinggal, tapi setelah berpikir beberapa saat, dia pun mengangguk dan meminta sopir itu untuk menurunkan barang-barangnya. Ya, dia kan tinggal di kamar kost lagi seperti saat di Bandung.


***

__ADS_1


Keesokan harinya Nadira memilih untuk berjalan-jalan di tempat baru itu. Nadira cukup terkesan karena tetangga-tetangga kosannya baik dan menerima kehadiran dia dan Tiara di sana. Begitupun dengan pemiliknya yang ramah membuat Nadira langsung merasa betah di sana.


"Mbak Nad, mau ke mana pagi-pagi begini?" tanya salah satu tetangga Nadira yang tadi malam ditemuinya.


"Mau jalan-jalan pagi dulu, Mbak Nur. Sekalian menghafal daerah sini," jawab Nadira sambil tersenyum ramah.


Wanita yang dipanggil Mbak Nur itu pun tersenyum dan balas anggukan Nadira, sebelum dia kembali masuk ke kamar kosannya. Kamar kosan Nadira terletak di lantai bawah, jadi dia tidak perlu naik turun tangga lagi.


Hmmm, tempatnya cukup nyaman juga, batin Nadira. Aku beruntung karena dipertemukan dengan sopir taksi yang cukup baik, sambungnya lagi.


Nadira terus berjalan sambil melihat-lihat sekeliling. Hingga tepat di sebuah tikungan, ada sebuah gerobak bubur yang membuat Nadira menghentikan langkahnya dan membawa Tiara ke sana. Dia memilih untuk mengisi perutnya lebih dulu.


"Kita sarapan bubur dulu di sini, ya, Nak!" ucapnya pada Tiara.


Bayi itu hanya membalas ucapan Nadira dengan celotehan yang menggemaskan karena dia juga tidak mengerti apa yang dikatakan oleh ibunya.


"Pak, tolong buatkan satu mangkok bubur," pinta Nadira pada sang penjual bubur.


"Oh, iya, Mbak. Akan saya buatkan, silakan duduk dulu," sahut tukang bubur itu yang langsung diangguki oleh Nadira.


Ibu satu anak itu pun duduk di bangku yang sudah disediakan di sana.


"Mau dibungkus atau di makan di sini?"


"Bungkus saja, Pak!"


Setelah mendengar jawaban Nadira, tukang bubur itu pun segera membuatkan pesanan dari pelanggannya. Sementara itu Nadira fokus pada Tiara yang tengah ia gendong. Hingga tiba-tiba ada seseorang yang menghampirinya.

__ADS_1


"Nadira?"


__ADS_2