
"Hai Nadira, apa kabar?" sapa seorang pria yang sedang mengendarai motor di samping Nadira.
"Lho, Pak Raka? Anda mau pergi ke mana?" tanya Nadira saat menoleh dan melihat Raka yang sedang berada di sampingnya.
"Tidak ada. Aku hanya sedang ingin jalan-jalan saja sendiri," jawab pria itu. "Oh, ya ... apa yang sedang kamu lakukan di sini?" Raka kembali bertanya karena dia merasa heran dengan keberadaan Nadira yang tinggal tak jauh dari pabrik.
"Saya memang tinggal di sini sekarang, Pak," jawab Nadira pelan karena dia tidak ingin Raka mengetahui keadaan rumah tangganya. Namun, nyatanya tanpa Nadira bicara pun Raka sudah mengetahui apa yang terjadi padanya.
"Oh, baguslah kalau memang kamu sekarang tinggal di sini. Jadi, kamu tidak akan kesulitan lagi saat berangkat bekerja," ucap pria itu yang langsung membuat Nadira menoleh ke arahnya.
"Maaf?"
"Akh, kamu tidak perlu menghiraukan perkataanku barusan. Oh, ya, kamu mau ke mana?" tanya Raka yang memilih untuk mengalihkan pembicaraan mereka.
"Mmmmh." Nadira terdiam sesaat. Tidak mungkin dirimu mengatakan kalau dia akan bertemu dengan pengacara yang menangani perceraiannya dengan Danu. Nadira belum siap kalau banyak orang yang mengetahui tentang status barunya.
Raka mengangguk-anggukkan kepalanya saat mendengar jawaban Nadira. Dia memang tidak mengetahui wanita itu akan pergi ke mana, tetapi Raka juga tidak memaksa Nadira untuk menjawabnya jika memang dia tidak menginginkannya.
"Oh, baiklah. Apa kamu butuh tumpangan? Mungkin saja perjalanan kita searah," tawar laki-laki itu.
Nadira tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Statusnya saat ini masih belum jelas, jadi dia tidak ingin ada gosip lain yang menerpanya. Ditambah lagi Raka merupakan seorang bujangan, berbeda dengan dirinya yang sudah memiliki seorang putri.
"Terima kasih atas tawaran Anda sebelumnya, Pak. Tapi, saya tidak memerlukan tumpangan. Lagi pula sebentar lagi akan sampai di jalan raya. Saya akan naik mobil angkot saja," jawab Nadira dengan hati-hati karena dia tidak ingin membuat Raka tersinggung atas jawabannya.
Ada sedikit rasa kecewa yang tiba-tiba dirasakan oleh Raka, tetapi dia juga tidak bisa mengatakannya karena Raka tidak berhak memaksa wanita itu untuk mengikuti perkataannya.
"Baiklah kalau memang kamu menolaknya. Hati-hatilah di jalan," ucap pria itu sebelum kembali memutar kunci motornya.
__ADS_1
"Iya, Pak," sahut Nadira sebelum Raka benar-benar pergi dari sampingnya.
Setelah kepergian Raka, Nadira kembali melanjutkan perjalanannya. Dia harus segera menemui pengacara yang akan membantunya untuk mengurus surat perceraiannya dengan Danu.
***
Sementara itu, dari kejauhan Danu melihat Nadira sedang menaiki mobil angkot di sekitaran pabrik tempat wanita itu kerja.
Apa benar itu Nadira? Apa dia selama ini tinggal di sini? batin Danu sambil memperhatikan sekelilingnya.
Danu pun segera menyusul mobil angkot yang dinaiki oleh wanita yang masih menyandang status sebagai istrinya itu.
"Nadira! Tiara! Tunggu ...," teriak Danu sambil mencoba untuk mengimbangi mobil angkot itu.
Nadira terkejut saat menoleh dan mendapati suaminya yang dekat dengan jendela tempat dia duduk. Nadira tidak mengira kalau Danu akan menemukannya lebih cepat dari perkiraan.
Ya Tuhan ... kenapa Mas Danu bisa menemukanku secepat ini? batin Nadira sambil menutupi wajahnya dan memeluk Tiara dengan erat.
Sopir itu sempat melirik ke arah penumpang yang duduk di belakangnya.
"Mang, tolong terus jalan! Jangan hiraukan dia!" pinta Nadira dengan tatapan memohon pada sang sopir sambil menatap mata pengemudi itu dari kaca spion.
"Tapi, Neng–"
"Saya mohon, Mang." Nadira mengatupkan kedua tangannya di depan dada, atau lebih tepatnya di balik punggung Tiara.
"Neng, seharusnya kalau memang mempunyai masalah rumah tangga, selesaikan dulu secara baik-baik. Maaf, Mamang tidak bisa bantu." Sopir itu membawa kendaraannya ke sisi sebelum akhirnya berhenti di pinggir jalan.
__ADS_1
Danu tersenyum saat melihat mobil angkot itu menuruti permintaannya. Dia lekas menghampiri mobil angkot dan menarik Nadira turun dari sana.
"Turunlah! Jangan membuat aku malu seperti ini. Ayo kita pulang ke rumah dan selesaikan masalah kita secara baik-baik," bujuk Danu sambil menggenggam tangan Nadira dengan erat, tapi Danu enggan untuk melepaskannya karena dia harus memasang wajah kalem agar orang-orang yang melihat keributan itu percaya kalau dirinya suami yang baik.
"Aku tidak mau ikut denganmu! Lepaskan aku!" pekik Nadira seraya terus mencoba untuk memberontak agar tangannya terlepas dari genggaman Danu yang sudah menyakiti pergelangan.
"Ayo ikut denganku, sayang! Aku mohon. Jangan seperti ini. Malu banyak dilihat orang-orang," ucap Danu dengan suara yang rendah. Jika saja nada itu digunakan saat Nadira masih menyimpan harapan pada rumah tangganya, mungkin wanita itu akan percaya dan mau menurutinya. Namun, karena hatinya sudah tidak ingin berurusan lagi dengan Danu, justru Nadira malah merasa jijik saat mendengarnya.
"Aku tidak peduli lagi. Tolong kamu lepaskan tanganmu dari pergelangan tanganku! Kamu sudah menyakitiku!" pinta Nadira dengan suara tinggi.
Sikap Nadira yang seperti itu membuat Danu sedikit jengkel, dia tidak peduli kalau istrinya sedang menggendong bayi mereka. Lantas Danu pun segera menarik Nadira ke tempat yang sepi. Dia juga menghiraukan tangisan Tiara yang mulai pecah sehingga membuatnya semakin bertambah jengkel.
"Cepatlah, Nadira. Aku hanya ingin berbicara denganmu!" pinta Danu tanpa melepaskan tangannya. Justru dia malah berbuat nekat dan menyeret Nadira untuk ikut bersamanya.
Namun, karena Nadira yang kukuh enggan untuk mengikuti Danu, wanita itu langsung menggigit tangan suaminya dengan keras sehingga cengkraman tangan pria itu lepas darinya. Nadira segera berlari sekuat tenaga menghindari Danu yang sedang mengibas-ngibaskan tangannya akibat kesakitan digigit oleh Nadira.
"Si*l!" umpat pria itu dengan geram.
Danu ingin sekali mengejar Nadira saat itu, tapi ponsel jadul miliknya yang dulu tiba-tiba kembali berdering dan melihat ada nomor Anita di sana.
Ada apa lagi dengannya? Tidak bisakah dia membiarkanku untuk menyelesaikan masalah rumah tanggaku dulu? batin Danu yang kesal. Akhirnya pria itu pun memilih untuk mengabaikan panggilan dari wanitanya dan bergegas kembali menaiki kendaraannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Halo guys! Mimin ada bahwa rekomendasi novel baru nih 😁 Jangan lupa mampir, ya!
Gara-gara menolong Rinjani yang terkurung di dalam toilet, Hazel malah harus segera menikahinya. Bukan karena dituntut untuk bertanggung jawab, tetapi orang tua Hezel mengira jika anaknya sudah tidak sabar untuk menyentuh Rinjani.
__ADS_1
Hazel dan Rinjani memang sudah ditunangkan saat mereka masih bayi. Namun, Rinjani yang menganggap pertunangan itu tidak sah malah jatuh cinta kepada ketua kelasnya.