
"Jangan jauhi Raka karena ini pertama kalinya Ibu melihat senyum bahagia serta semangat yang menggebu, setelah sekian lama." Ibu Santi menggenggam tangan Nadira hingga membuat wanita itu terdiam membisu.
Bagi Nadira, permintaan Ibu Santi cukuplah susah karena ia tak bisa menjanjikan apapun. Selain itu, ia pun tak bisa menjamin bagaimana perasaannya kedepannya.
"Nadira? Kamu mau 'kan mendengar perkataan Ibu?" tanya Ibu Santi lagi.
Nadira masih terdiam tanpa mengucapkan sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya.
"Ibu percaya denganmu, Nad. Kamu pasti tidak akan mengecewakan Ibu." Lagi-lagi ucapan Ibu Santi itu sedikit membuat Nadira terbebani.
__ADS_1
"A–aku ... saat ini tidak bisa menjanjikan apapun untuk kedepannya, Bu." Nadira menundukkan kepala. Meskipun dia merasa sungkan dan tidak enak hati menolak permintaan Ibu Santi, tapi dia juga tidak ingin perasaannya merasa terbebani. Jadi, dia memilih untuk mengungkapkan keinginan hatinya.
"Aku tidak tahu bagaimana kehidupanku ke depannya. Aku ... mungkin saat ini aku memang tidak akan menjauhinya, tapi aku tidak bisa menjamin perasaanku untuk tetap berada padanya," lirih wanita muda itu.
Ibu Santi menghembuskan napas perlahan dari mulutnya. Dia juga mencoba untuk mengerti akan keadaan Nadira karena meskipun dirinya memang sudah merestui Raka untuk bersama Nadira, tapi dia juga tidak mengetahui isi hati wanita muda itu.
"Baiklah, Ibu mengerti, Nad. Mungkin memang saat ini kamu belum siap untuk kembali membuka hatimu, tapi ... Ibu harap kamu juga tidak menolak apa yang dilakukan oleh Raka padamu," ucap Ibu Santi sembari menepuk bahu wanita muda di depannya. Dia teramat mengerti alasan kenapa Nadira berperilaku seperti itu. Pada dasarnya, luka hati itu akan sulit terobati oleh apapun meskipun waktu dan keadaan sudah berlalu.
"Kamu tidak perlu meminta maaf untuk apapun karena kamu tidak membuat kesalahan. Justru ... seharusnya Ibu lah yang meminta maaf karena sudah lancang memintamu untuk tidak menolak Raka, padahal kamu sendiri punya pendapat lain."
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Bu. Itu semua bukanlah hal besar," jawab Nadira.
Setelah mendengar jawaban Nadira, Ibu Santi pun pamit untuk keluar dari kamar Ibu Santi pun pamit untuk keluar dari kamarnya. Selepas kepergian Ibu Santi, Nadira duduk merenung sambil menatap putri kecilnya yang masih terlelap.
“Tiara, maafkan Mama, Nak. Mama mungkin bukan orang tua yang baik untukmu. Mama sadar, Mama tidak bisa memberikan keluarga yang utuh padamu,” ucap Nadira dengan suara bergetar.“Tapi, meskipun keadaan kita seperti ini, Mama akan berusaha untuk memenuhi semua kebutuhanmu, Mama akan berusaha memberikanmu yang terbaik," sambungnya lagi. Kini, air matanya sudah tidak bisa dibendung. Lagi-lagi Nadira hanya bisa menangis dalam diam sembari menguatkan hatinya dan berpikir semua akan baik-baik saja.
Setelah puas menumpahkan isi hatinya lewat tangisan, Nadira pun tersadar karena merasakan sentuhan tangan mungil di wajahnya, rupanya itu tangan Tiara yang baru saja terbangun dari tidurnya.
"Akh, rupanya putri Mama sudah bangun," sapa Nadira yang langsung mendapat senyuman lebar dari gadis mungil itu. Dia pun langsung membawa Tiara dalam gendongan dan memeluknya. Sungguh, melihat senyuman tulus putrinya membuat pikiran Nadira kembali jernih.
__ADS_1
“Kamu memang obat yang tepat, yang bisa membuat Mama lupa dengan semua masalah Mama, sayang," tambahnya lagi yang semakin mendekap erat tubuh mungil Tiara.