Serpihan Hati Yang Disia-siakan

Serpihan Hati Yang Disia-siakan
Bab 70


__ADS_3

Anita sangat terkejut saat melihat Ibu Susan yang tiba-tiba jatuh di hadapannya. Dia tidak mengetahui apa sebab calon mertuanya itu tiba-tiba pingsan.


"Aduh, kenapa dia tiba-tiba pingsan seperti ini? Bukankah tadi keadaannya baik-baik saja?" Wanita hamil itu terus menggerutu sambil mencoba berpikir bagaimana cara dia memindahkan Ibu Susan dari depan pintu kamarnya karena dia tidak mungkin memindahkannya seorang diri, sementara kondisinya saat ini sedang hamil muda.


"Akh, sial! Apa aku harus meminta bantuan tetangga yang ada di luar rumah? Tapi ... aku malas untuk langsung berkomunikasi langsung dengan mereka," gumamnya lagi.


"Oh, ya ... aku akan coba telpon Mas Danu saja." Anita lekas menyambar ponsel yang tadi sempat dia jatuhkan di atas lantai. Wanita hamil itu dengan tergesa-gesa segera menghubungi ayah dari anaknya yang sejak pagi masih belum datang ke rumah.


"Ck. Ke mana dia? Kenapa tidak juga menjawab panggilanku?" gumam Anita sambil menatap layar ponselnya.


***


Sementara itu, Danu yang masih berada di rumah kontrakannya bersama Nadira dulu, dia mengabaikan panggilan dari Anita. Pria itu memilih untuk duduk di depan televisi dengan sebuah cangkir kopi di tangannya.

__ADS_1


"Makanan di rumah mama sudah aku siapkan semuanya, jadi tidak ada alasan lagi Anita menyuruhku datang ke sana," gumam pria itu sambil menyeruput kopi miliknya. Dia juga mengabaikan pesan yang dikirim oleh ibu hamil itu, sehingga tidak mengetahui kalau ibunya sedang tidak sadarkan diri saat ini. Entahlah, setelah perceraiannya dengan Nadira resmi, kehidupan Danu pun mulai berubah drastis. Sikapnya terhadap Anita jadi semakin dingin dan juga terkadang dia tidak memperdulikan ibunya sendiri.


Setelah dua jam menghabiskan waktu di depan televisi, Danu pun kembali ke kamar untuk mengecek ponselnya. Dia yang sekarang sudah tidak aktif lagi menjalankan ojek onlinenya dan lebih memilih untuk duduk berdiam diri di rumah.


"Rupanya dia beberapa kali menghubungiku." Danu menggelengkan kepala, sebelum kembali melanjutkan perkataannya, "Tapi, ada apa Anita itu menelponku sampai sebanyak ini?" tanyanya saat melihat puluhan panggilan yang dilakukan oleh Anita. Dia masih belum membaca pesan yang dikirimkan oleh wanita itu.


Danu berniat untuk mengabaikan ponselnya lagi. Namun belum sempat ponsel itu terlepas dari tangan, tiba-tiba ponsel itu kembali berdering menandakan ada sebuah pesan yang masuk.


Saat itu mata Danu langsung membeliak seketika. Dia berkali-kali untuk membaca pesan yang dikirimkan oleh sang kekasih dan juga membaca beberapa pesan yang sebelumnya dikirimkan oleh Anita. Semua pesan itu dengan kata-kata sama, yang menunjukkan kalau saat ini ibunya sedang tidak sadarkan diri.


"Astaga. Bagaimana bisa aku diam seperti ini dan mengabaikan kondisi Ibuku sendiri," gumam Danu yang segera melangkah menuju pintu rumah kontrakan dengan tergesa-gesa. Dia harus segera sampai ke rumahnya.


***

__ADS_1


Saat melewati warung, rupanya di sana ada beberapa warga yang sedang duduk bersantai sambil menikmati kopi. Biasanya kalau Danu melewati mereka, para warga itu akan menegurnya dan berbasa-basi untuk menikmati kopi bersama. Namun kali ini semuanya tampak berbeda, dia terlihat sekali diacuhkan saat melewati para warga itu. Danu yang tidak ingin ambil pusing dengan sikap para warga memilih untuk segera melanjutkan kembali langkahnya menuju rumah Ibu Susan.


Baru saja Danu melewati para warga itu sekitar dua meter, tiba-tiba pendengarannya langsung menangkap salah satu warga yang berkata, "Dulu waktu masih bersama dengan Nadira, dia terlihat rapi dan terawat. Tapi setelah bercerai, dia terlihat sangat berantakan!


"Iya. Dan apa kamu tahu, saat ini di rumah Ibu Susan sedang ada wanita lain yang konon katanya dia tengah hamil muda!" sahut yang lain lagi.


"Oh, ya? Itu bukan hanya sekedar gosip?" tanya bapak-bapak yang lainnya.


"Bukan! Itu bukan hanya gosip karena aku beberapa kali melihat dari balik jendela, wanita itu berlalu-lalang di dalam rumah Ibu Susan. Apalagi sekarang Nia dan suaminya juga tidak ada di sini. Jadi, siapa lagi wanita itu kalau buka kekasih gelap Danu?"


"Wah ... wah ... wah .... Aku sungguh tidak menyangka dia akan menjadi pria baj*ngan seperti itu," tanggap bapak-bapak yang lainnya.


Percakapan itu mereka lakukan tanpa merasa bersalah pada seseorang yang berdiri tak jauh dari tempatnya saat ini. Mungkin di sisi lain mereka juga sengaja melakukan hal itu untuk menegur perilaku Danu yang sudah menjelekkan nama mendiang ayahnya. Padahal, mending ayahnya dulu sangatlah disegani oleh orang-orang itu. Karena tidak sanggup menahan kesal di hatinya, Danu pun kembali melanjutkan langkah menuju rumah sang ibu.

__ADS_1


__ADS_2