
Udara dingin dan gelapnya malam sudah biasa dilewati Nadira hanya berdua dengan Tiara, putrinya. Dia tidak lagi merasakan kehangatan sebuah keharmonisan rumah tangga semenjak dirinya mengandung Tiara di usia lima bulan. Saat itu sikap Danu mulai berubah, dia selalu menjaga jarak dan tak pernah ingin disentuh oleh Nadira meskipun seujung jari. Danu selalu merasa gerah dan risih jika berada dalam satu ruangan bersama istrinya itu. Awalnya Nadira kira sikap Danu yang berubah seperti itu karena janin yang sedang ia kandung, tetapi kini sekarang Nadira mengerti kalau suaminya itu sudah bosan terhadapnya. Hanya saja Nadira menyayangkan sikap Danu yang seperti itu. Padahal kalau memang Danu sudah tidak lagi mencintai Nadira, dia bisa mengatakannya secara langsung dan bisa mengembalikannya ke rumah orang tuanya. Akan tetapi, hal itu tidak dilakukan oleh Danu.
Wanita muda yang kini genap berusia 23 tahun itu hanya bisa meratapi kehidupan rumah tangganya yang sudah diambang kehancuran. Nadira sudah tidak lagi mengharapkan Danu untuk meminta maaf dan memperbaiki semuanya. Bisa dikatakan kalau hati Nadira membeku karena sudah terlalu banyak kekecewaan yang ia terima dari suami serta mertuanya itu. Dia hanya bisa berharap meskipun nanti dirinya dan Danu berpisah, hal itu tidak mempengaruhi pertumbuhan mental pada Tiara. Ya, Nadira sampai saat ini bertahan hanya karena Tiara.
Tuhan, aku mohon padamu berikanlah jalan terbaik untukku menghadapi cobaan rumah tangga ini. Jika seandainya perpisahan memang adalah hal yang terbaik, tolong kuatkan aku dan Tiara untuk menghadapinya. Dan jika kalau memang engkau tidak mengizinkan aku berpisah dengan suamiku, tolong rubahlah sifatnya dan kembalikan dia agar menjadi pribadi yang lebih baik, yang mampu menuntun kami ke jalanmu, batin Nadira sambil memejamkan matanya. Tak terasa air asin mengalir begitu saja di sudut kelopak matanya. Saat ini Nadira memang tidak berniat untuk menangis, tetapi ternyata berbeda dengan hatinya yang sudah terasa amat sakit dan butuh pelampiasan.
Nadira hanya bisa berpasrah pada Tuhan yang memang mengarahkan kehidupannya. Keluarganya sudah tidak lagi mempedulikannya dan Nadira pun ragu jika keluarganya akan merangkulnya saat kabar tentang perpisahan dia dan Danu terdengar di telinga mereka.
Ayah, kalau seandainya kau masih ada, mungkin aku tidak akan terlalu tersiksa seperti ini. Mungkin memang salahku yang tidak menuruti perkataan Ibu, tetapi sikap Ibu juga tidak bisa aku benarkan karena sudah mengabaikanku. Ayah, tolong berikanlah aku semangat dari alam sana, ucap hatinya lagi.
Ya, andai ayahnya masih ada, mungkin Nadira tidak akan terlalu kesulitan seperti saat ini karena pria itu begitu sangat menyayanginya dan rela melakukan apapun untuknya. Bahkan saking sayangnya sang ayah pada Nadira, membuat Faisal iri dan selalu mengatainya 'Putri Ayah'. Akan tetapi, meskipun dulu Faisal selalu bersikap kasar padanya, hal itu tidak memungkiri kalau dia juga menyayangi adiknya. Namun, semua itu berubah saat Nadira tiba-tiba meminta izin pada keluarganya untuk menikah dengan Danu. Ibu serta kakak laki-lakinya sangat menentang keinginan Nadira, sementara ayahnya hanya mengangguk dan menyetujuinya karena bagi ayahnya yang terpenting adalah kebahagiaan Nadira.
__ADS_1
Waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 malam, tetapi Nadira masih belum juga bisa memejamkan matanya. Meskipun dia sudah biasa menelan pil pahit yang dicekokkan oleh suami serta ibu mertuanya, tapi malam ini hatinya sangat gundah dan cemas, perasaan sakit serta sedih dirasakannya secara bersamaan.
"Ya Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi padaku? Kenapa aku masih belum bisa beristirahat juga? Padahal ini sudah dini hari," gumam Nadira sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Andai dirinya tidak lagi berhalangan, sudah pasti Nadira akan melakukan salat malam daripada harus melamun terdiam seperti ini.
Nadira menggusur kakinya dengan berat menuju pintu kamar. Barangkali dengan meminum air hangat, rasa kantuknya akan datang. Saat melewati ruang tamu, langkah Nadira terhenti karena dia melihat ponsel milik suaminya berada di atas karpet yang tergelar di ruang itu.
"Ponsel Mas Danu?"
"Tumben sekali dia teledor seperti ini!"
Nadira tersenyum tipis ketika mengingat bagaimana bodohnya dia yang langsung mengangguk saat Danu meminta mas kawinnya untuk membeli ponsel itu.
__ADS_1
Ya Tuhan ... betapa bodohnya dulu aku, batin wanita muda itu.
Rasa penasaran yang menggebu tiba-tiba saja ia rasakan di hatinya. Dia sangat ingin mengetahui apa saja yang disembunyikan suaminya di ponsel itu karena selama ini Danu tak pernah sekalipun membiarkan Nadira menyentuh benda pipih itu. Saat itu pernah Nadira meminta Danu untuk mengajarkannya menggunakan smartphone miliknya, tetapi reaksi yang Danu memberikan sungguh di luar dugaan, justru pria itu langsung membentaknya dan meminta dia jangan bermimpi untuk menggunakan ponsel mahal sepertinya.
Nadira memberanikan diri untuk membuka layar ponsel itu, gambar layar pertama yang ia lihat hanyalah foto Danu yang sedang berpose di atas motor. Nadira mencoba untuk menggulirkan layar itu, tetapi ternyata Danu menguncinya dengan pin hingga membuat Nadira kesulitan.
"Kira-kira pin-nya apa, ya?"
Nadira mencoba untuk memasukkan tanggal pernikahan mereka, tetapi ternyata tidak bisa digunakan. Dia kembali mencoba mengetikkan tanggal ulang tahun suaminya, tetapi masih salah. Nadira tidak pantang menyerah, ini adalah kesempatan bagus untuknya mengorek semua informasi tentang Danu. Nadira mulai kembali memasukkan nomor yang ia perkirakan digunakan untuk PIN ponsel itu, mulai dari ulang tahunnya, ulang tahun Tiara, sampai ujung nomor ponsel yang dikenakan mereka berdua, tapi hasilnya tetap nihil karena PIN itu tak kunjung terbuka. Nadira terus menatap layar tujuh inch itu berharap otaknya bisa menebak nomor PIN yang digunakan oleh suaminya. Hingga dia baru menyadari kalau di sana tertera nomor yang tidak dikenalnya sebagai wallpaper.
"220712? Nomor apa ini?" tanya Nadira pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Tanpa berpikir panjang dia pun akhirnya memilih nomor itu untuk dimasukkannya sebagai PIN dan matanya langsung terbelalak ketika melihat layar kedua di ponsel itu. Sungguh pemandangan yang menjijikan dan hampir saja membuat Nadira melemparkan benda pipih itu dari tangannya. Bagaimana tidak, Danu dengan pikiran gilanya memasang foto bergambar dirinya sedang berc*mbu dengan seorang wanita yang dia tebak sebagai selingkuhannya.
Menjijikan ....