
Setelah tadi sempat terjadi sedikit keributan, akhirnya Nadira tetap memilih untuk berpisah dengan Danu. Sebelum Pak RT memutuskan hal itu, dia sudah berusaha untuk memberikan Nadira dan Danu waktu untuk berbicara atas permintaan Ibu Susan yang merasa kalau itu sangatlah dibutuhkan. Namun, karena keputusan
Nadira sudah bulat, akhirnya mau bujukan seperti apapun yang diberikan keluarga Danu, itu tidak mengubahnya.
“Pak RT, tolonglah, Pak … jangan biarkan Nadira berpisah dari Danu, kasihan anak saya,” mohon Ibu Susan setelah Pak RT selesai memberikan keputusannya yang membuat Nadira mengembangkan senyum.
Nadira menatap wanita paruh baya itu sambal menggelengkan
kepala. Bagaimana bisa Ibu Susan meminta orang lain untuk membatalkan niatnya, sementara di sana ada dirinya sendiri.
Aku benar-benar tidak mengerti kenapa Ibu Susan justru meminta Pak RT untuk tidak membiarkanku bercerai dengan Mas Danu, padahal dia bisa langsung berbicara padaku, batin Nadira.
Pemikiran Pak RT dan Nadira tidak jauh berbeda saat melihat sikap Ibu Susan. Mata keduanya sempat berpandangan, tapi Nadira segera menggelengkan kepalanya tanda dia tidak ingin mengubah lagi keputusannya.
“Bu Susan, saya tidak mengerti kenapa Ibu Susan sampai meminta tolong seperti ini pada saya untuk tidak membiarkan Mbak Nadira dan Mas Danu berpisah, padahal Ibu sendiri bisa langsung mengatakannya. Kenapa tidak dilakukan?” tanya Pak RT sambil menatap Nadira. Orang-orang di sana pun sepertinya sepemikiran dengan Pak Rt.
Ibu Susan menegakkan punggungnya tanpa berani menoleh pada Nadira. Dia kini seakan sudah tidak bisa menyentuh hati menatunya itu. Makanya Ibu Susan meminta Pak RT untuk membujuk Nadira.
“Kenapa diam saja, Bu? Apa yang dikatakan Pak RT itu benar, lho … Ibu bisa meminta Mbak Nadira untuk mengurungkan niatnya,” ucap Ibu Rumi yang diam-diam turut menertawakan sikap Ibu Susan.
“I—itu … saya, saya ….”
Sepertinya Ibu Susan tetap tidak bisa berbicara langsung pada Nadira hingga membuat Wanita itu sendiri yang berkata, “Maaf, Bu. Keputusan saya sudah bulat. Saya bahkan sudah mendaftarkan perceraian ini ke pengadilan. Dan … seingat saya seharusnya Mas Danu langsung menandatangani surat perceraian itu karena dia pernah dipanggil datang ke pengadilan, tapi Mas Danu tidak memenuhinya.”
Semua orang yang ada di sana langsung menoleh pada Nadira. Mereka baru mengetahui hal itu karena selama ini tidak ada yang
menyangka kalau Nadira justru sudah berbuat sejauh itu.
“Lho, memangnya kapan Mbak mendaftarkan perceraian itu?” tanya Ibu RT yang turut ingin mengetahuinya.
“Sudah bulan lalu, Bu. Tepatnya saat baru-baru saya pergi dari kontrakan,” jawab Nadira. “Pengacara saya juga mengatakan kalau Mas Danu selalu mengembalikan surat panggialn itu setelah dia menyobeknya,” sambung wanita itu lagi.
__ADS_1
“Nadira, aku sudah mengatakan padamu beberapa kali, aku tidak akan pernah menceraikan kamu sampai kapanpun!” teriak Danu dengan penuh emosi. Padahal tadi pria sudah dalam keadaan tenang, tapi kini mulai berulah lagi.
“Kamu harus ingat, Nadira! Aku adalah suamimu satu-satunya dan itu untuk selamanya!” tambah pria itu yang langsung menarik tangan Nadira dengan kasar serta secara tiba-tiba, yang ada dipikirannya kini adalah membuat Nadira tetap berada di sampingnya. Apalagi dia masih membutuhkan tenaga wanita itu.
Dia tidak peduli kalau sekarang mereka sedang di rumah RT setempat.
“Berhenti!” cegah Raka yang tidak bisa melihat Danu meperlakukan Nadira dengan kasar. Pria itu segera mencengkeram tangan Danu agar pria itu melepaskan tangannya dari Nadira.
“Apa yang sedang kamu lakukan orang asing? Berhentilah
untuk terus menerus ikut campur masalah keluargaku!” teriak Danu karena tidak terima Raka yang tiba-tiba mencegahnya.
“Aku tidak peduli kamu mau mengataiku orang asing atau apapun, yang pasti aku tidak akan membiarkan Nadira ikut denganmu. Bukankan tadi Nadira mengatakan kalau dia sedang mengurus perceraian kalian?” tanya Raka tanpa mempedulikan perkataan Danu.
Nadira terpaku sesaat karena tindakan Raka untuknya. Namun, itu hanya sesaat karena dia tentu tahu bagaimana cara menempatkan dirinya sendiri. Nadira tidak ingin terbawa suasana hanya karena sikap baik Raka.
"Mas Danu, keputusanku untuk bercerai darimu itu sudah bulat. Aku sudah tidak mau terus menerus jadi istri bodohmu!" bentak Nadira dengan tegas saat suaminya hendak menggusur dia lagi.
Danu terpaku mendengar perkataan Nadira. Kata-kata wanita itu sungguh sudah sangat berbeda dengan Nadira yang selama ini dikenalnya.
"Apa yang kamu katakan Nadira? Aku–"
"Sadarlah, Mas! Aku bukan boneka yang bisa terus kamu mainkan saat kamu sedang butuh, aku manusia biasa yang punya batas kesabaran!" bentak Nadira yang sudah terlalu geram dengan sikap suaminya.
Mendengar bentakan Nadira, seketika itu juga Danu melepaskan tangannya yang sebelah untuk menampar wajah wanita itu. Namun, tangan itu tidak sampai menyentuh pipi Nadira karena Raka yang sudah lebih dulu menahannya dengan sebelah tangan lainnya.
"Sikapmu benar-benar buruk, Pak. Rupanya keputusan Nadira untuk berpisah denganmu itu sudah tepat," ucap Raka seraya menghempaskan tangan Danu dan menarik Nadira ke tubuh belakangnya.
Danu terjerembab ke belakang, sementara Nadira sudah berlindung dibalik tubuh Raka.
"Danu!" pekik Ibu Susan saat melihat putranya jatuh dan mengenai sisi samping sofa. Tidak ada orang-orang yang menolong Danu untuk kembali bangun selain ibunya sendiri.
__ADS_1
"Nadira, apa kamu baik-baik saja?" tanya Raka yang khawatir terhadap keadaan wanita yang kini berada di belakangnya.
"Saya, saya baik-baik saja, Pak. Bapak tidak perlu mengkhawatirkan saya. Terima kasih karena sudah menolong," jawab Nadira.
"Tidak masalah. Lalu, apa yang mau kamu lakukan sekarang?"
Nadira menoleh ke arah Pak RT, Ibu Arum, serta Ibu Rumi yang masih berada di sana. "Sepertinya ... saya ingin pulang ke kosan saja, Pak. Saya tidak mau kembali ke kontrakan," jawabnya yang langsung dianguki oleh Raka.
"Baiklah. Aku akan antar kalian pulang ke kosan."
Mendengar niat Nadira yang akan kembali pulang ke kosannya, Danu kembali bangkit untuk mencegah wanita itu agar tidak pergi.
"Tidak, Nadira! Aku tidak akan membiarkan kamu pergi bersama pria lain!" pekik Danu.
"Gan, tolong halangi Mas Danu supaya tidak mengacau lagi!" pinta Pak RT pada salah satu pemuda yang ada di sana.
"Baik, Pak!"
Danu langsung dihalangi oleh pemuda itu dan memberikan jalan untuk ladira keluar dari rumah Pak RT. Setelah berpamitan dengan Pak RT dan Ibu Arum, Nadira pun keluar dari sana. Tidak lupa dia juga mengucapkan terima kasih karena mereka sudah membantunya.Dia keluar bersama Ibu Rumi karena Tiara masih berada di rumah wanita paruh baya itu.
"Semoga setelah ini Mbak Nadira bisa hidup tenang dan menjalani hari-harinya dengan baik," ucap Ibu Arum sebelum membiarkan Nadira pergi bersama Ibu Rumi.
"Terima kasih atas doanya, Bu."
***
Setelah menjemput Tiara dari rumah Ibu Rumi, Nadira pun lekas mengambil barang-barang miliknya yang masih tertinggal di kontrakan. Tidak banyak barang-barang yang diambil wanita itu karena dia hanya mengambil keperluan milik Tiara saja.
"Apa barang yang kamu bawa membawa hanya segini?" tanya Raka saat melihat Nadira yang membawa sebuah tas punggung dari dalam rumah kontrakannya.
"Iya, Pak. Saya hanya membawa barang-barang milik Tiara saja."
__ADS_1
"Oh, baiklah kalau memang seperti itu." Raka mengambil tas milik Nadira dan memakaikannya di depan. "Sekarang, ayo kita pulang!" tambahnya lagi.
Nadira mengangguk dan bergegas naik ke motor Raka. Ini kedua kalinya dia berboncengan dengan pria itu. Setelah memastikan Nadira duduk dengan nyaman dan aman sambil membawa Tiara, Raka pun mulai melajukan kendaraannya membelah jalanan yang kini sudah sepi karena hari sudah sangat larut. Beruntung hujan sudah reda sejak lama, jadi mereka tidak terlalu mengkhawatirkan Tiara yang akan kehujanan.