Serpihan Hati Yang Disia-siakan

Serpihan Hati Yang Disia-siakan
Bab 61


__ADS_3

"Apa maksudmu pernikahan kalian akan gagal?" tanya Nadira seraya kembali berbalik menatap Nera yang masih berdiri tak jauh di depannya.


"Andri ... dia–"


"Jangan katakan kalau dia menggunakan keberadaanku untuk menggagalkan pernikahan kalian?" potong Nadira yang langsung mendapat angkutan samar dari Nera. "Bagaimana bisa?" tanyanya lagi.


"Andri mengatakan kalau dia tidak siap menikahiku bulan depan karena perasaannya tiba-tiba berubah perubahan itu dipicu karena keberadaan Mbak Nadira di sini," jawab Nera sambil berusaha menahan tangisnya.


Nadira benar-benar dibuat bingung dengan jawaban yang diberikan oleh gadis itu. Bagaimana bisa kedatangannya ke kampung halaman sang nenek untuk menenangkan diri dan lari dari masalah, justru malah menimbulkan masalah baru untuknya.


Astaga ... sebenarnya apa yang sedang terjadi padaku? Kenapa tempat yang aku singgahi ini tidak bisa memberikan ketenangan? Padahal, hatiku benar-benar belum tenang karena urusanku juga belum selesai dengan Mas Danu, batin Nadira.


"Nera, aku sungguh tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Tapi, Jangan jadikan aku sebagai alasan bertanya pernikahan kalian karena aku termasuk orang baru di sini dan aku juga tidak mengenal kalian. Saranku, jika memang Andri benar-benar mencintaimu, dia tidak akan berpaling padaku atau wanita lain, tapi ... mungkin saja alasan itu dia jadikan karena dia tidak benar-benar mencintaimu dan berusaha untuk menghindarimu dengan cara seperti ini," ucap Nadira. Dia tidak bermaksud untuk menyalahkan Andri dan mengatakan kalau pria itu tidak pantas untuk Nera, Nadira hanya berusaha mencoba membuka pikiran wanita muda itu saja.


Mendengar penuturan Nadira, Nera langsung terdiam sejenak. Dia seketika berhenti menangis seolah berpikir kalau yang dikatakan oleh Nadira itu ada benarnya. Namun, masalahnya bukan hanya dia yang mencintai Andri, tapi itu adalah rencana perjodohan yang dirancang oleh papanya serta Pak Gahar, ayah Andri sendiri.


"Apa yang dikatakan Mbak Nadira memang ada benarnya. Tapi masalahnya, pernikahanku ini bukan hanya keinginanku saja," ucap Nera.


"Apa maksudmu?"


"Aku memang menginginkan pernikahan ini, tapi semua itu tidak akan terjadi kalau Pak Gahar dan Papa tidak menjodohkan kami," jawabnya sambil menundukkan kepala.


"Jadi? Apa kalian akan menikah karena perjodohan?" tanya Nadira. Kini wanita itu melangkah dekat menghampiri gadis di depannya.


Nera menganggukkan kepala dan membenarkan pertanyaan Nadira. "Iya. Kami dijodohkan."


"Akh ... aku mengerti." Nadira mengangguk-anggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Apa Mbak Nadira bersedia pergi dari sini?" tanya Nera ketika melihat Nadira seolah mengerti dengan apa yang disampaikannya.


"Tidak," jawab wanita itu dengan tegas.


"Kenapa?" Nera menatap Nadira dengan sedih karena ibu satu anak itu enggan untuk pergi dari kampung halamannya.


"Kenapa aku harus pergi dari sini? Itu pernikahanmu dan tidak ada hubungannya denganku. Apalagi kalian sudah dijodohkan dan aku juga tidak berniat untuk mendekati Andri. Seharusnya kamu tidak perlu berpikir negatif padaku karena aku tidak akan merebut Andri darimu," jawab Nadira.


"Tapi, keberadaan Mbak Nadira mengancam gagalnya pernikahanku dan Andri nanti!"


"Gagal atau tidaknya, itu takdirmu, Nera. Tidak ada sangkut pautnya denganmu. Apalagi kalau Andri tidak mempunyai perasaan padamu, percuma saja jika kalian menikah karena tidak akan hidup bahagia."


"Tapi–"


"Pada intinya aku tidak peduli dengan rencana pernikahan kalian, Nera! Aku tidak akan pergi dari sini. Jadi, jangan lagi pinta aku untuk pergi," potong Nadira sebelum ia benar-benar pergi dari hadapan Nera.


“Kenapa Mbak Nadira menolak pergi dari tempat ini? Padahal, aku bisa memberikan sejumlah uang yang mungkin dia butuhkan,”


gumam Nera sambil mencebik kesal.


“Akh! Sepertinya aku harus meminta tolong pada Mama supaya bisa mengusir Nadira dari sini. Lagipula, apa bagusnya dia yang sudah punya anak dengan aku yang masih gadis, sampai-sampai Andri tertarik padanya,” sambung gadis itu lagi. Dia pun masuk ke kamarnya setelah berpikir sesaat untuk meminta tolong pada kedua orang tuanya untuk menangani Nadira.


Berbeda dengan Nera, Nadira segera keluar dari rumah Nera setelah dia pergi begitu saja dari hadapan gadis itu. Nadira benar-benar tidak mengerti kenapa Nera sampai memintanya untuk pergi dari sana. Padahal, selama ini Nadira jarang sekali bertemu degannya secara langsung dan bahkan Nadira sendiri selalu menghindarinya.


“Sebenarnya apa yang dipikirkan Nera tentangku? Kenapa dia mengira aku akan tertarik pada Andri?” gumamnya.


Nadira segera mempercepat langkahnya saat sudah berada di luar rumah Nera. Dia harus segera pulang untuk menemui Tiara yang saat ini ada di rumah Ibu Nurul.

__ADS_1


Setelah berjalan beberapa saat, akhirnya Nadira sampai di depan rumah Ibu Nurul. Di sana dia melihat Andri yang sedang menggendong putrinya, Tiara. Nadira terlihat ragu untuk menghampirinya dan masih berdiri di balik pintu pagar yang hanya terbuka sedikit. Sesekali pemuda itu bersuara dengan menirukan anak kecil hingga membuat Tiara terkekeh lucu.


“Akh, apa yang harus aku lakukan? Kenapa aku harus melihatnya sekarang? Aku sungguh enggan bertemu dengannya saat ini,”


gumam Nadira sambil mengintip ke arah teras Ibu Nurul.


Sementara itu, Andri masih belum menyadari kehadiran Nadira di sana karena perhatiannya hanya terfokus pada bayi kecil yang masih ditimangnya. Pemuda itu merasa sangat senang kala bisa melihat putri dari wanita yang mengalihkan perhatiannya ada di sana. Jadi, Andri menawarkan dirinya sendiri untuk membantu ibunya menjaga Tiara.


“Ya Tuhan, Tia … kenapa kamu begitu menggemaskan?” tanya Andri tanpa menyadari jika ibu dari bayi itu ada di luar pagar rumahnya.


***


Saat Nadira masih terdiam di depan pintu pagar, tiba-tiba saja Pak Gahar datang dan mengejutkannya.


"Nad, apa yang sedang kamu lakukan?" tanya pria paruh baya itu. Dia ikut menengok ke arah rumahnya dan hanya melihat Andri sedang menggendong bayi Nadira.


"Eh , Pak Gahar ...." Nadira tampak terkejut saat mendapati Pak Gahar yang sedang berada di belakangnya.


"Kenapa tidak masuk?" tanya Pak Gahar lagi.


"Ti--tidak apa-apa, Pak. Saya baru saja datang dan melihat Andri sedang bersama Tiara, jadi saya memperhatikannya dulu," jawab wanita itu sedikit gugup.


Pak Gahar tampak mengangguk-anggukan kepalanya, tapi Nadira tidak bisa menebak apa yang dipikirkan pria paruh baya itu karena sikap dan sorot matanya tampak berbeda. Mungkin Pak Gahar tidak percaya dengan jawaban Nadira, tapi dia tidak berniat untuk bertanya lebih lanjut.


"Ya sudah, kalau begitu kita masuk saja. Ibu juga sepertinya sudah menunggu kita," ucap Pak Gahar yang hanya ditanggapi anggukan samar oleh Nadira.


"Iya, Pak. Silakan."

__ADS_1


__ADS_2