Serpihan Hati Yang Disia-siakan

Serpihan Hati Yang Disia-siakan
Bab 41


__ADS_3

“Bagaimana, apa kamu menyukai makanan yang aku bawakan ini?” tanya Danu pada wanita yang kini sedang duduk di depannya.


Ya, setelah tadi sempat berbincang dengan Beni, Danu segera meneruskan perjalanannya yang hanya tinggal beberapa meter saja. Saat itu Danu melihat kamar sang kekasih tampak sepi seperti tidak berpenghuni. Padahal, biasanya Anita selalu menyalakan lampu kosan itu dan tak pernah mematikannya kecuali saat siang dan saat sedang bepergian saja. Namun, yang Namanya cinta tetap tidak pernah menerima pikiran buruk. Danu sempat menggedor kamar itu hingga akhirnya Anita menyalakan lampu kamarnya serta membukakan dia pintu.


 “Kamu kenapa, sayang? Sepertinya selera makanmu malam ini sedang tidak bagus?” tanya Danu lagi karena melihat Anita seperti orang yang sedang dipaksa makan ketika wanita itu tidak menginginkannya.


“Eh, tidak, Mas. Maknanya enak. Tapi ….”


 “Ada apa? Apa kamu sedang ingin makan sesuatu yang lain?” tanya pria itu lagi saat Anita menghentikan perkataanya.


 “Mmmmh, iya, Mas. Aku sedang ingin makan sop buntut,” jawab Anita dengan wajah memelas hingga membuat Danu enggan untuk menolaknya.


 Padahal tanpa Anita ketahui saat ini Danu sedang tidak memegang uang lebih sebab sudah dibelikan makanan


kesukaannya, yaitu kebab spesial beserta ayam goreng dengan porsi besar. Anita meminta itu karena beralasan jika dia sedang tidak ingin makan nasi. Jadi, Danu membelikannya karena tidak ingin Anita serta bayi yang ada di dalam kandungannya kelaparan.


 “Mas!” panggil Anita saat Danu sedang melamun setelah mendengar permintaannya.


 “Eh, iya, Ta. Maaf, untuk sekarang Mas tidak bisa belikan makanan yang kamu mau. Mas sudah tidak ada uang


lebih. Ini tinggal sisa untuk beli bensin besok.” Danu memperlihatkan dompetnya yang hanya tinggal selembar uang berwarna hijau saja.


 Anita menatap tidak percaya dengan yang Danu katakana. Apalagi dia ingat kalau hari ini istri serta anak


pria itu sudah kembali ke kontrakan mereka, yang  itu Artinya Danu sudah Kembali Bersama dengan keluarganya.


“Kamu sedang membohongiku, Mas?” tanya Anita dengan pandangan menyelidik.


 Danu menautkan kedua alisnya dan balik bertanya, “Maksudmu, aku bohong bagaimana?”


 “Bukankah hari ini istri dan anakmu Kembali pulang ke rumah kontrakan kalian?”


 Danu menganggukan kepalanya. “Iya. Nadira ada di rumah Bersama Tiara. Ada apa?”


 “Kamu sudah membelikan istrimu apa saja?”


 “Tidak ada. Aku tidak membelikan apapun untuknya.”


 “Sungguh?”


 “Aku berani bersumpah, Anita sayang! Aku sama sekali tidak membelikan apapun untuk Tiara, apalagi Nadira,” jawab Danu dengan sungguh-sungguh karena dia memang sama sekali tidak memikirkan Nadira, maupun Tiara.

__ADS_1


 “Lalu, kenapa kamu sampai tidak punya uang? Apa hari ini kamu tidak bekerja?” tanya wanita itu lagi.


Kecerewetan Anita sungguh berbeda dengan Nadira. Istri sah Danu itu tak pernah sekalipun menuntut apa-apa. Jika ada keinginan pun Nadira tak pernah meminta untuk langsung dituruti oleh Danu.


“Iya, Anita. Maaf, hari ini aku sibuk menjaga Tiara karena Ibu tidak mau mengurusnya,” jawab Danu apa adanya.


“Ck.” Anita berdecak kesal karena ternyata dugaannya benar. Baru setengah hari saja menjaga Tiara, Mas Danu


sudah tidak bekerja. Lalu, bagaimana kedepannya nanti? batin Anita yang sudah was-was duluan. Dia takut kalau nanti Danu akan melupakannya dan memilih kembali bersama keluarga kecilnya itu. Tidak. Aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Aku harus segera menjauhkan Mas Danu dan keluarganya, sambungnya lagi.


 “Sayang, kamu pasti kesal, ya?” tanya Danu saat melihat wajah masam Anita.


“Iya. Aku kesal padamu karena kamu tidak mampu menuruti permintaanku,” sahut Anita seraya beranjak dari duduknya dan masuk ke kamar mandi. Dia kesal karena Danu tidak bisa dia andalkan.


 “Sayang, tolong jangan marah-marah seperti itu! Jika kamu sungguh menginginkannya sekarang, aku akan berusaha untuk mengabulkannya!” Seru Danu khawatir terjadi sesuatu pada kekasihnya yang sedang berada di kamar mandi itu.


“Pokoknya jangan datang dulu kemari sebelum kamu membawakan apa yang aku mau, Mas!” teriak Anita dari dalam kamar mandi. Dia ingin tahu apakah Danu sungguh akan datang lagi sambil membawakan makanan yang diinginkannya.


“Baiklah. Tapi janji padaku, kamu jangan berbuat sesuatu yang bodoh di dalam sana!” sahut Danu.


Anita keluar dari kamar mandi dan langsung mendapatkan sebuah pelukan hangat dari Danu.


“Tolong jangan buat aku khawatir, sayang. Aku akan melakukan apapun demi mengabulkan keinginanmu. Jadi, jangan marah


“Iya, Mas. Aku tidak akan melakukannya lagi. Tapi, kamu harus selalu mengabulkan semua keinginanku!”


“Iya. Aku akan melakukannya demi kamu dan anak kita.” Danu mengusap perut Anita dari balik baju dan menunduk untuk mengecupnya.


Ternyata mudah sekali membohongi kamu, Mas! batin Anita saat Danu sedang mencium perutnya. Anita yakin, kalau sekarang Danu sudah benar-benar jatuh ke dalam perangkapnya.


“Baiklah. Kalau begitu, aku pergi dulu sebentar, ya! Aku akan segera Kembali membawakan makanan yang kamu inginkan,” ucap Danu setelah ia selesai menyapa bayi yang ada dalam kandunganbAnita. Baru kali ini Danu menyapa bayi yang masih ada di dalam perut seorang wanita. Meskipun dia sudah menjadi seorang ayah, tapi hal seperti itu tidak pernah dia lalukan dulu pada Nadira. Entahlah … yang pasti saat itu Danu merasa benci pada istrinya itu.


“Iya, Mas. Aku akan menunggumu. Jadi, cepatlah Kembali!”


Sementara itu, Nadira terbangun dari tidurnya karena rasa perih pada perutnya. Dia lupa kalau dirinya sudah melewatkan makan malam.


Ya Tuhan … sudah berapa lama aku tertidur? gumam Nadira begitu ia membuka matanya.


Wanita menatap sekeliling yang tampak sepi. Dia bisa menebak kalau hanya ada dirinya dan Tiara saja di rumah itu. Nadira turun dari Kasur dengan perlahan agar tidak membangunkan Tiara yang


tengah terlelap. Dia berjalan keluar kamar menuju dapur untuk mencari sesuatu yang bisa menjadi pengganjal perutnya.

__ADS_1


Ya Tuhan … rasanya seperti De Ja Vu, mengulang hal yang pernah aku alami sebelumnya, batin Nadira saat


ingat beberapa bulan lalu dia mengalami hal ini juga. Langkah kaki wanita itu berhenti di depan sebuah ember yang dulu selalu ia gunakan untuk tempat penyimpanan beras, berharap masih ada isinya. Namun, lagi-lagi kejadian dulu kembali terulang, ember itu kosong tanpa isi di dalamnya.


“Kosong?” tanya Nadira tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Huh, memang apa yang aku harapkan, hah? Sudah tentu di rumah ini tidak akan ada makanan yang tersisa jika Mbak Nia datang kemari, batin Nadira lagi.


Karena tidak menemukan apa yang dicarinya, Nadira pun Kembali ke kamar untuk mengambil dompet dan ponselnya. Saat ini waktu baru menunjukkan pukul sembilan malam, jadi Nadira berharap


masih ada warung yang buka di sekitar sana. Baru saja Nadira akan memutar knop pintu, tiba-tiba saja pintu itu diorong seseorang dari luar.


“Mas Danu?” tanya Nadira yang terkejut dengan kedatangan suaminya.


“Mau ke mana kamu?” tanya pria itu sambil memperhatikan tangan Nadira yang membawa dompet serta ponsel.


“Aku ….”


“Kamu mau kabur, ya?” tuduh Danu seraya menggusur Nadira masuk ke kamar.


“Tidak, Mas. Aku hanya ingin ke warung sebentar. Aku lapar dan ingin membeli makanan,” jawab Nadira sambil berontak karena Danu mencengkeramnya dengan keras.


“Bohong! Kamu kira aku akan percaya, hah?” geram Danu yang kini sudah mencengkeram rahang Nadira.


“Mas, ampun, sakit,” lirih Nadira yang sudah tidak bertenaga, ditambah perutnya tiba-tiba saja kram.


“Sakit? Kamu mengeluh aku menyakitimu?”


“Ampun, Mas! Aku sungguh kesakitan. Aku juga lapar,” ucap Nadira memohon Danu untuk melepaskannya.


Namun, bukan Danu namanya jika langsung melepaskam Nadira begitu saja.


“Berikan uangmu, maka aku akan melepaskanmu!” sahut Danu seraya merebut dompet Nadira dengan menggunakan


sebelah tangannya yang lain.


‘Akh’


Nadira memekik kesakitan saat Danu mengempaskan tubuhnya dengan kasar dan mengenai sudut meja hingga membuat


kening wanita itu berdarah. Bahkan akibat kekacauan yang diperbuat Danu, Tiara terbangun dari tidurnya dan menangis keras.

__ADS_1


Tangisan Tiara yang menyayat hati membuat seorang pria yang berada tak jauh dari depan gang itu bergegas menghampirinya. Bahkan dia lupa dengan tatakerama dan langsung menerobos salah satu pintu yang sejak tadi terbuka.


“Nadira, Tiara!”


__ADS_2