Serpihan Hati Yang Disia-siakan

Serpihan Hati Yang Disia-siakan
Bab 55


__ADS_3

Sepeninggalan Faisal dan Ibu Risma, Nia langsung kembali berdiri di samping ibunya dengan sedikit gemetar, tampaknya kedua wanita itu cukup dibuat takut oleh ultimatum yang dikatakan


Faisal tadi.


“Bu, sekarang apa yang harus kita lakukan?” tanya Nia.


“Apa lagi selain waspada, Ni? Ini juga salah kamu! Untuk apa kamu mendorong wanita itu sampai terjatuh juga?” sahut Ibu Susan yang sedikit kesal dengan putrinya. Bagaimana tidak, dia yang mati-matian menahan diri agar tidak menyentuh Ibu Risma karena takut pada Faisal, tapi Nia justru melakukan hal itu. Bahkan Nia sepertinya melupakan perkataan awalnya yang tadi untuk tetap tenang.


“Aku juga tidak berniat melakukannya, Bu. Aku … hanya kesal saja karena dia terus memojokkan keluarga kita,” sahut Nia.


“Iya, Ibu tahu. Tapi, kalau sudah seperti ini, apa yang bisa kita lakukan?”


Nia terdiam setelah mendengar jawaban ibunya. Tadi dia terlalu terbawa emosi saat Ibu Risma yang terus menanyakan keberadaan Nadira dan perlakuan buruk yang mereka lakukan pada wanita itu. Ibu Risma juga menyalahkan sikap mereka yang keterlaluan terhadap Nadira hingga menyebabkan putrinya itu pergi dari sana.


“Aku … aku tidak tahu, Bu. Aku sungguh tidak berniat melakukan kekerasan seperti tadi,” jawab Nia lagi.


“Hah.” Ibu Susan menarik napas panjang dan berat, sebelum berlalu dari hadapan putri sulungnya. Dia sudah terlalu lelah untuk berpikir saat ini. Belum lagi para tetangga yang sejak tadi ada di luar pekarangan rumahnya, itu semakin menambah sakit di kepalanya, sementara dia tidak bisa mengeluh pada siapa pun karena anak dan menantunya hanya bisa menyusahkannya saja.


Astaga, apa yang harus aku lakukan sekarang? gumam Ibu Susan seraya mendudukan tubuhnya di pinggiran kasur. Semua yang dialaminya saat ini benar-benar diluar dugaannya. Seandainya dia bisa menghentikan Nadira yang pergi malam itu, sudah dipastikan sekarang mereka tidak akan mendapatkan masalah besar seperti ini.


“Nadira, kemana sebenarnya kamu pergi, hah? Apa kamu bahagia setelah menumpahkan semua masalah ini pada kami? Dasar menantu tidak berguna! Tidak tahu diuntung!” teriak Ibu Susan hingga membuat Nia yang masih berada di depan ruangan itu langsung menatap kamar ibunya.


“Bu, apa Ibu baik-baik saja?” tanya wanita itu dengan cemas sebab mendengar teriakan ibunya dari dalam kamar.

__ADS_1


‘Tok … tok … tok ….’


Nia terus mengetuk puntu kamar Ibu Susan karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari sang ibu.


Setelah beberapa saat Nia menggedor pintu itu, Ibu Susan masih tak kunjung membukanya, tentu saja hal itu membuat Nia khawatir. Sementara saat ini di rumah itu tidak ada seorangpun laki-laki, Erhan yang masih belum pulang dan Danu pergi entah ke mana.


"Bu, tolong jangan seperti ini! Biarkan aku masuk ke sana dan menemani Ibu," ucap Nia lagi yang tentunya sama sekali tidak digubris oleh Ibu Susan.


Di dalam kamar.


Ibu Susan menangis karena merasa pikirannya terlalu pusing memikirkan masalah yang tengah dihadapi oleh keluarganya itu. Padahal, selama bertahun-tahun ini tak ada lagi masalah berat yang menimpa keluarganya, tapi sekarang justru dia harus memikirkan masalah yang tiba-tiba datang ini.


Ya Tuhan ... apa yang harus aku lakukan? Aku benar-benar malu dengan keadaan keluargaku sekarang. Bagaimana aku bisa menghadapi para tetangga di sini, sedangkan mereka tahu kalau keluargaku kini sudah hancur, batin Ibu Susan sambil menyembunyikan wajahnya di atas kasur, sementara dirinya duduk di bawah tempat tidur itu.


"Bu, buka pintunya! Aku tahu Ibu mendengar ucapanku. Jangan buat aku pusing juga dong, Bu ...," ucap Nia dari luar kamar Ibu Susan.


"Apa dia pikir, hanya dia saja yang keadaannya sedang pusing sekarang?" sahut Ibu Susan yang tentunya tidak terdengar oleh Nia.


"Bu, kalau Ibu malah bersikap seperti ini, lalu bagaimana denganku? Aku juga tidak ingin terbawa masalah yang dibuat oleh Danu. Kalau tahu akan begini, lebih baik aku tinggal bersama mertuaku saja," ucap Nia sebelum gedoran pintu itu terhenti dan masih sempat terdengar oleh Ibu Susan dari dalam kamar.


Mendengar putrinya yang menggerutu seperti itu, mau tidak mau Ibu Susan pun akhirnya membukakan pintu kamarnya.


"Apa kamu juga berniat untuk meninggalkan Ibu sendirian, Nia?" tanya wanita paruh baya itu pada putrinya yang sedang berdiri membelakanginya.

__ADS_1


"Ibu sendiri yang bersikap seakan tidak mau aku berada di sini dengan mengunci diri di dalam kamar," sahut Nia dengan kesal sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


Ibu Susan menggelengkan kepalanya. Bagaimana bisa Nia tidak mengerti keadaannya saat ini dan justru menyalahkan dirinya?


"Nia, Ibu diam di kamar karena sedang pusing. Apa salah jika Ibu diam seperti itu?"


"Iya. Salah. Ibu bersikap seperti itu seakan tidak peduli padaku yang juga terbawa-bawa masalah Danu! Padahal, aku tidak ada urusan dengan anak itu."


"Kamu kakaknya, Nia. Dia juga bersikap seperti itu pada Nadira, bukan hanya keinginan saja, tapi karena kamu juga turut ikut campur. Ingat itu!"


Nia terdiam mendengar ucapan ibunya. Ya, dia sadar sudah membuat Danu kehilangan keluarganya, tapi lagi-lagi egonya menolak hal itu dan tetap menyalahkan Nadira yang tidak bisa bertahan dengan keluarganya sendiri.


"Jangan hanya menyalahkanku saja, Bu. Aku juga tidak akan bersikap seperti itu kalau aku tidak melihat bagaimana sikap Ibu padanya. Jadi, awal dari semua ini adalah salah Ibu. Ibu yang menghasutku untuk bersikap seenaknya pada Nadira!" sahut Nia yang enggan disalahkan sendirian.


"Kalaupun memang kamu tidak berniat untuk bersikap seperti itu, seharusnya kamu tidak usah mengikuti Ibu. Apa susahnya?"


Nia menggelengkan kepalanya pelan saat mendengar sahutan sang ibu. Aku tidak habis pikir, kenapa justru sekarang Ibu malah menyalahkanku? batin wanita itu.


"Sudahlah, Bu. Kalau memang Ibu tidak mau mengakui kesalahan ini, jangan terus menyeretku. Aku juga lelah!" putus Nia seraya berbalik dan masuk ke kamarnya meninggalkan Ibu Susan yang masih dalam keadaan emosi sendirian di ruang tengah rumah itu.


"Kurang ajar sekali Nia. Tega-teganya dia meninggalkanku dalam keadaan marah seperti ini dan lebih mementingkan dirinya sendiri!" geram Ibu Susan sambil menata pintu kamar putrinya yang sudah tertutup rapat.


Setelah perdebatan di antara ibu dan anak itu terhenti, Ibu Susan pun memutuskan untuk masuk kembali ke kamarnya. Dia tidak akan memperdulikan tetangga yang saat ini masih mengerubungi rumahnya dan dia juga tidak peduli dengan masalah putranya.

__ADS_1


__ADS_2