Serpihan Hati Yang Disia-siakan

Serpihan Hati Yang Disia-siakan
Bab 52


__ADS_3

"Saya tidak mempunyai alasan untuk menutup menutupi status saya, Bu. Justru karena sedang memperjuangkan status itu, saya datang kemari," jawab Nadira dengan tegas. Namun, masih tetap membuat Ibu Nurul menyimpan curiga terhadapnya.


"Maaf sebelumnya Mbak Nadira, tapi yang namanya perceraian itu tidak disukai oleh Tuhan. Lalu, apa maksud Mbak Nadira dengan memperjuangkan status itu?"


"Saya hanya ingin hidup bahagia bersama anak saja, Bu."


Jawaban Nadira kali ini cukup membuat Ibu Nurul bungkam. Rupanya wanita paruh baya itu mengerti dengan alasan Nadira pergi dari suaminya, tanpa harus wanita itu bercerita.


"Oh. Baiklah kalau memang begitu. Semoga kehidupan Mbak nandira dan anaknya di sini bisa lebih bahagia dari sebelumnya," ucap Ibu Nurul sambil mengusap kepala Tiara yang berada di pangkuan Nadira.


"Terima kasih atas doa yang sudah Ibu ucapkan untuk saya. Terima kasih juga untuk malam ini karena sudah memperbolehkan saya dan Tiara penumpang di sini."

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Lagi pula Ibu saya dan mendiang Ibu Endang mereka berteman cukup baik," sahut Ibu Nurul.


"Sekarang ... ayo Ibu antarkan ke kamar yang akan kalian tempati malam ini," sambung wanita paruh baya itu lagi sambil berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju salah satu pintu yang tak jauh dari ruang tamu itu. Dia bisa memperkirakan kalau saat ini Nadira juga sedang kelelahan setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh.


"Sekali lagi, terima kasih banyak, Bu. Semoga kebaikan ibu ini bisa terbalaskan oleh kebaikan lain yang Tuhan berikan untuk Ibu."


"Amiin."


"Silakan Mbak Nadira juga istirahat di sini. Panggil saya kalau perlu sesuatu!" pesan Ibu Nurul sebelum dia keluar dari kamar Nadira dan membiarkan tamunya itu beristirahat.


***

__ADS_1


Sementara itu di tempat lain, seorang pria tengah menatap derasnya air yang turun deras dari langit. Dia tidak menghiraukan semilir angin dingin yang begitu menusuk pori-pori kulitnya sejak beberapa menit yang lalu. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh pria itu karena tatapan hanya tatapan kosong yang terarah ke jalan raya.


"Raka, mau sampai kapan kamu di luar terus, Nak? Cepatlah masuk ke rumah sebelum kamu masuk angin nantinya!" seru Ibu Santi pada putranya, Raka.


Ya, pria yang tengah menatap derasnya hujan di malam itu adalah Raka. Dia sama sekali tidak bisa berpikir ini saat ini karena sejak tadi siang pikirannya tiba-tiba kacau, atau lebih tepatnya setelah mengetahui Nadira resign dari pabrik tempat mereka bekerja.


"Iya, Ma. Aku akan masuk nanti," jawab Raka tanpa mengubah posisi tubuhnya yang menyindir pada tiang teras.


Kepergian Nadira yang secara mendadak membuat dia seperti kehilangan semangat. Apalagi Nadira kemarin sama sekali tidak mengatakan kalau wanita itu akan pergi. Bahkan juga wanita itu bersikap seperti biasa seolah-olah dia akan tetap tinggal di sana.


Melihat putranya yang hanya termenung, Ibu Santi pun memilih masuk karena dia tidak kuat dengan angin dingin malam itu. Ini adalah cara Ibu Santi memberikan ruang khusus untuk putranya merenung. Tidak menyukai cara Raka menyampaikan emosinya, tetapi dia juga percaya kalau putranya itu tidak akan berbuat macam-macam.

__ADS_1


"Segeralah masuk ke rumah setelah pikiranmu kembali tenang, Raka! Mamanya tidak ingin kamu sakit saja," ucap wanita paruh baya itu.


__ADS_2