
Nadira masih terdiam mematung dalam dekapan Raka. Apa yang dilakukan oleh pria itu benar-benar membuat dirinya kehilangan kesadaran untuk beberapa saat, sebelum akhirnya dia tersadar dan segera melepaskan diri dari pelukan Raka.
"Ma–maaf, Pak. Kenapa Bapak melakukan itu?" tanya Nadira sambil memalingkan wajahnya kearah lain. Dia sungguh tak kuasa untuk menatap wajah Raka secara langsung.
Berbeda halnya dengan Raka yang tampak kecewa saat melihat Nadira yang terburu-buru melepaskan pelukannya.
"Aku tidak mempunyai maksud apa-apa. Aku hanya menuruti keinginan hatiku saja, Nadira," jawabnya.
"Keinginan?" ulang Nadira sambil menatap serius pria dihadapannya.
Raka mengangguk kepalanya. "Iya. Aku hanya mengikuti keinginan hatiku karena aku begitu bahagia bisa melihatmu berada dekat denganku. Apa itu salah?"
Nadira tidak menjawab pertanyaan Raka. Dia hanya terdiam tanpa melepaskan pandangannya dari pria itu, mencoba menyelami setiap kalimat yang keluar dari bibir Raka.
Aku tidak mengerti, kenapa Pak Raka jadi seperti ini terhadapku? Apa yang sebenarnya dia pikirkan? Tidak mungkin jika dia menyukaiku, 'kan? batin Nadira bertanya-tanya.
Wanita itu lekas menggelengkan kepalanya dengan segera dan menampik pemikiran tentang Raka yang kemungkinan menyukainya.
Tidak. Tidak mungkin Pak Raka menyukaiku, kilahnya.
__ADS_1
Melihat Nadira yang menggeleng-gelengkan kepala, Raka pun bertanya, "Ada apa, Nadira?"
"Ti–tidak, tidak ada apa-apa," sahut Nadira dengan segera.
Keduanya saling terdiam untuk beberapa saat. Raka juga kembali duduk di bangku panjang itu. Dia juga meminta Nadira agar duduk di sana.
Suasana sore yang sejuk dengan semilir angin lembut membuat keduanya sama-sama larut dalam pikiran mereka masing-masing. Hingga Raka menoleh dan menatap Nadira yang tertunduk di sampingnya.
"Nadira, sebenarnya ada yang ingin aku katakan padamu," ucap Raka secara perlahan. Sebenarnya dia ingin mengatakan perasaannya secara langsung pada wanita muda itu, tapi melihat sikap Nadira yang seolah menjaga jarak, akhirnya niatnya pun ia urungkan.
"Apa?" tanya Nadira dengan cepat.
Raka menarik napas panjang dan membenarkan posisi duduknya. Kini pria itu sudah menghadap Nadira sepenuhnya.
"Kenapa Ba–"
"Jangan panggil aku dengan panggilan itu lagi! Sekarang aku sudah bukan atasanmu," potong Raka yang sudah sangat panas telinganya saat Nadira memanggil dia dengan panggilan 'Bapak'.
"Maaf, M–mas." Nadira merasa sedikit kikuk dengan panggilan barunya. Sungguh, lidahnya merasa kurang nyaman saat dia harus menghilangkan panggilan biasanya untuk Raka.
__ADS_1
Raka menganggukan kepalanya sambil tersenyum. "Panggilan itu boleh juga," ucapnya. "Lanjutkan!"
"Kenapa M–mas berterima kasih? Dan ... apa alasan Mas mengkhawatirkan kami?" tanya Nadira dengan terbata.
"Aku berterima kasih karena kamu dan Tiara berada dalam keadaan yang baik-baik saja. Dan ... aku hanya mengkhawatirkan kalian tanpa alasan apapun. Aku merasa kehilangan saat kamu tiba-tiba pergi tanpa berpamitan," jawab Raka.
Mendengar jawaban Raka, Nadira lagi-lagi memalingkan wajahnya. Lagi-lagi ucapan pria itu membuat jantungnya berdebar tak karuan.
Tidak, aku mohon jangan seperti ini, batin Nadira yang berusaha untuk kembali menetralkan perasaannya. Dia tidak boleh merasa tersanjung ataupun terlena oleh perkataan pria di hadapannya.
"Nadira, aku tahu ... mungkin kamu berpikir kalau perkataanku hanya omong kosong. Tapi, demi apapun aku tidak pernah bersikap seperti itu padamu. Tolong percayalah padaku," kata Raka saat melihat Nadira yang seakan ragu untuk menanggapi perkataannya.
"Terima kasih karena Mas sudah mengkhawatirkan aka dan Tiara. Itu membuatku sedikit tersentuh. Mungkin karena sikap Mas dan sikap Danu jauh berbeda saat kalian memperlakukan kami. Maaf, aku tidak bermaksud untuk membandingkan keahlian berdua, hanya saja ...."
"Tidak apa-apa. Kamu tidak perlu menjelaskan apapun karena aku sudah paham dengan maksudmu," ucap Raka dengan cepat. Dia cukup paham dengan maksud Nadira. Jadi, dia tidak memerlukan penjelasan lagi.
"Maaf dan ... terima kasih karena sudah memahamiku."
"Tidak masalah. Justru, aku sangat ingin lebih bisa memahamimu dari ini."
__ADS_1
Raka tersenyum lembut saat Nadira menatapnya hingga membuat wajah wanita muda itu sedikit bersemu kemerahan. Namun, dengan segera Nadira membuang pandangannya ke arah lain agar mereka tidak mengetahui perubahan warna wajahnya itu. Kata-kata yang Raka ucapkan memang sederhana, tapi untuk wanita seperti Nadira yang pernah terluka, itu cukup membuatnya tersanjung. Akan tetapi, meskipun disisi hatinya dia merasa bahagia, tetap masih ada luka yang membekas dalam dan tidak mudah untuk terobati.
"Kumohon, jangan seperti itu, Mas. Aku merasa tidak cukup baik untuk bisa dipahami oleh mu lebih dalam. Mas masih bisa mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku. Seseorang yang mentalnya belum cacat karena pernikahan yang gagal."