Serpihan Hati Yang Disia-siakan

Serpihan Hati Yang Disia-siakan
Bab 29


__ADS_3

Setelah menghancurkan beberapa barang di rumah kontrakannya, Danu tampak terdiam. Pria itu memandang kosong ke arah jendela dengan kertas berisi surat gugatan cerai dari Nadira, masih berada di genggamannya. Ibu Susan lekas menghampiri putranya untuk menanyakan penyebab dia mengamuk hari ini.


"Danu, sebenarnya ada apa? Kenapa kamu sampai bersikap seperti ini?" tanya Ibu Susan saat dia sudah duduk di samping putranya.


"Cerai, Bu." Danu bergumam lirih.


"Cerai? Apa maksudmu? Siapa yang bercerai?" cecar Ibu Susi yang belum mengerti dengan arah pembicaraan putranya.


"Nadira, Bu. Nadira sudah menggugat cerai diriku. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Bukan ini yang aku mau. Yang aku inginkan adalah Nadira memohon padaku untuk tidak menceraikannya!" seru Danu sebelum pria itu kembali menangis. Dia tidak peduli dengan rasa malu karena sudah menangisi Nadira yang menggugat cerai dirinya.


Ibu Susan tampak membelalakkan matanya setelah mendengar ucapan Danu. Tentu saja dia juga terkejut karena tidak menyangka kalau menantunya akan menggugat cerai sang putra.


"A–apa? Nadira menceraikanmu? Bagaimana bisa? Bukankah dia tidak mempunyai uang?"


Danu menggelengkan kepalanya dan kembali berkata, "Aku juga tidak tahu, Bu. Yang aku tahu hanya ada tukang pos beberapa saat lalu dan memberikan amplop coklat padaku. Di sini tidak ada pengirimnya selain kantor kementerian agama."


Nia dan Erhan tidak ikut campur dengan urusan rumah tangga adiknya, sepasang suami istri itu memilih untuk pulang ke rumah sang ibu dan beristirahat di sana.


"Bu, kami pulang dulu. Lagi pula di sini juga tidak terjadi apa-apa," ucap Erhan pada mertuanya.


"Tapi, Han .... Adik iparmu baru saja terkena musibah. Seharusnya kamu diam dan menemaninya di sini!" sahut Ibu Susan yang tidak tega meninggalkan putranya sendirian.

__ADS_1


"Musibah apa, Bu? Dia hanya menerima gugatan cerai dari istrinya karena memang dan sudah gagal menjadi kepala keluarga. Lalu, apa masalahnya?"


"Erhan, tolong kasihani Danu untuk saat ini. Dia butuh seseorang untuk menghibur dan menyemangati dirinya!" Ibu Susan memohon pada menantunya agar tidak meninggalkan sang putra sendirian di rumah kontrakan. Namun, karena Erhan juga sudah merasa sakit hati atas ucapan Danu tadi pagi, dia tidak mempedulikannya dan lebih memilih untuk menggiring Nia serta Vino keluar dari rumah kontrakan Danu.


Kini tinggallah Ibu Susan dan Danu di rumah itu. Keduanya terdiam dengan pikiran mereka masing-masing. Ibu Susan dan Danu sibuk menyalahkan Nadira atas semua ini. Keduanya bahkan sama sekali tidak berpikir kalau semua ini kesalahan mereka. Sedikitpun tidak ada raut menyesal dari wajah Danu, justru pria itu hanya emosi karena dia merasa harga dirinya sudah dihancurkan oleh Nadira. Danu menganggap Nadira tidak lebih dari wanita yang sudah menyakiti hatinya dan membuat rumah tangga mereka berantakan.


Setelah beberapa saat hanya keheningan yang terjadi di rumah itu, Danu tiba-tiba bangkit dan menyobekkan surat gugatan cerai yang tadi digenggamnya. Dengan tatapan penuh amarah, Danu bertekad dalam hatinya akan segera menemukan Nadira dan menyeret wanita itu kembali ke keluarganya. Bukan untuk memperbaiki rumah tangga mereka, melainkan untuk menyiksa batin serta fisiknya. Itulah yang Danu rencanakan saat ini.


Aku harus segera menemukan wanita itu, batinnya.


Ibu Susan yang melihat putranya tiba-tiba pergi, lantas menghentikannya dan bertanya, "Danu, kamu mau ke mana?"


"Aku akan pergi mencari Nadira, Bu. Aku tidak bisa hanya diam saja di sini, bisa-bisa wanita itu kembali berulah dan pengadilan mengabulkan permohonannya untuk bercerai denganku," jawab Danu sambil meraih kunci motor yang ada di atas meja. Dia lekas keluar dan pergi meninggalkan Ibu Susan yang masih berdiam diri di dalam rumah.


Aku berjanji padamu Nadira, kalau kamu kembali lagi ke sini, aku akan mendidikmu dengan benar dan menjadikanmu menantu yang tidak berkutik di depan mertuanya, batin Ibu Susan dengan penuh tekad.


Tatapan wanita itu mengarah ke sebuah bingkai foto yang berisi foto pernikahan Nadira dan Danu hampir lima tahun lalu. Jika saja saat itu Danu tidak ngeyel untuk menikahi Nadira, mungkin yang saat ini menjadi menantunya adalah keponakan jauh dirinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu di tempat lain, Nadira dan Tiara baru saja keluar dari kamar kosan yang sekarang menjadi tempat tinggal mereka. Sepasang ibu dan anak itu hendak pergi ke cafe tempat dia dan pengacaranya mengadakan janji untuk bertemu. Nadira juga mendengar kabar kalau hari ini surat gugatan cerainya terhadap Danu sudah dikirim ke alamat suaminya.

__ADS_1


Kira-kira bagaimana reaksi Mas Danu saat melihat surat gugatan cerai yang aku layangkan? Apa dia akan langsung memenuhi keinginanku untuk bercerai darinya, atau dia akan mempersulitku? gumam Nadira di dalam hatinya.


Tetapi aku rasa dia akan setuju dengan gugatan cerai ini karena dia sendiri sudah mempunyai wanita lain yang saat ini sedang tidak mungkin dia akan mengabaikan kekasihnya, sambung wanita itu lagi.


Dia melirik Tiara yang sekarang sedang menatapnya. Bayi kecil manis itu tersenyum saat melihat sang mama yang menoleh padanya. Kini hiburan Nadira hanyalah Tiara. Bayi mungil itu selalu membuat Nadira tersenyum dan kembali bersemangat untuk menjalani hari-hari beratnya. Nadira juga merasa seminggu kemarin dia sudah hidup dengan tenang karena selama itu Danu tidak menemukannya.


"Terima kasih karena kamu sudah hadir dan menghibur hati Mama. Mama janji setelah semua ini berakhir, kita tidak akan lagi menderita. Mama akan senantiasa menjadi pelindungmu," ucap Nadira sambil mengusap kepala putrinya.


Saking fokusnya Nadira berjalan sembari menatap Tiara, dia sampai tidak sadar kalau sekarang sedang ada seseorang yang berjalan mengendarai motor di sampingnya.


"Hai Nadira, apa kabar?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Halo geng's! Mimin ada rekomendasi novel seru, nih! Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak, ya 😘😘


Mengisahkan perjuangan Zaki, putra ayah Yusuf dan bunda Fatima (dalam novel Ketulusan Cinta Nabila) untuk mendapatkan restu dari orang tua sang pujaan hati, Delia Zahwa, yang merupakan putri kyai pengasuh pondok pesantren (dalam novel Menjagamu Dengan Doa.


Sanggupkah Zaki menyelesaikan tantangan yang diberikan oleh orang tua sang gadis yang sudah lama di incar nya itu dengan tepat waktu, sehingga mereka berdua bisa bersama-sama?


Ikuti terus kisah Zaki dalam mengejar cinta, hanya di...

__ADS_1


**FINDING LOVE**



__ADS_2