Serpihan Hati Yang Disia-siakan

Serpihan Hati Yang Disia-siakan
Bab 31


__ADS_3

Nadira menghela napas lelah setelah berlari sambil membawa Tiara di pangkuannya. Dia sadar kalau Danu bisa saja menemukannya dengan mudah, tapi Nadira juga cukup terkejut karena hal itu terjadi secara tiba-tiba.


Ya Tuhan ... Apa Mas Danu masih mengejarku? tanya Nadira di dalam hatinya. Dia masih belum siap untuk bertemu dengan suaminya itu.


Masih dengan napas yang terengah-engah, Nadira menyembunyikan dirinya dibalik dinding ruko. Dia mengintip ke arah di mana tadi Danu berada. Namun saat mengetahuinya, Nadira merasa sedikit lega karena rupanya Danu sudah berputar arah.


Sepertinya sudah aman. Dia tidak lagi mengejarku, batinnya.


Nadira keluar dari tempat persembunyiannya dengan hati-hati. Dia lantas menuju jalan raya untuk kembali menyetop mobil angkot.


Hah, akhirnya untuk sekarang aku aman. Tapi, sekarang Mas Danu tahu di mana aku tinggal ... aku harus bagaimana? Nadira terus berpikir. Dia bukan tidak mau menyelesaikan masalahnya dengan Danu, tetapi Nadira khawatir suaminya akan melukai putri mereka, Tiara. Nadira juga yakin kalau Danu pergi mencarinya bukan untuk meminta maaf, melainkan untuk membalaskan dendam pria itu sendiri.


Sepanjang perjalanan menuju restoran tempat dia akan bertemu dengan pengacaranya, Nadira terus memikirkan di mana dia hendak menitipkan Tiara di tempat yang aman. Nadira tidak mau mengambil resiko dengan terus menitipkan Tiara di tempat penitipan biasa.


"Neng, kita sudah sampai!" seru sang sopir angkot menyadarkan Nadira dari lamunannya.


"Eh, oh, iya, Pak. Terima kasih."


Nadira pun turun dari mobil angkot setelah dia membayarnya. Dia lantas masuk ke area restoran dan mencari keberadaan pengacaranya itu. Sebenarnya Nadira agak keberatan kalau mereka harus bertemu di restoran. Bukan tanpa alasan Nadira merasa seperti itu, tapi dia merasa tidak nyaman karena setiap kali mereka bertemu di luar, pengacara itu yang akan selalu membiayai makan mereka. Padahal, Nadira tidak masalah kalau harus bertemu di kantor pengacara itu sendiri, tetapi pengacara itu tidak menuntutnya demikian karena dia tahu kliennya merupakan orang jauh.


"Maaf membuat Ibu menunggu lama," ucap Nadira saat dia menghampiri wanita paruh baya yang merupakan pengacaranya itu.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Mbak. Tapi ... apa Mbak Nad baik-baik saja?" tanya pengacara yang bernama Ibu Melani itu saat melihat penampilan Nadira yang cukup berantakan.


"Saya ... saya baik-baik saja, Bu. Tadi saya sempat dikejar oleh suami saya, dia maksa saya untuk ikut pulang bersamanya. Tapi, saya menolak karena dia melakukan hal itu dengan cara kasar." Nadira memperlihatkan pergelangan tangannya yang sedikit membiru. "Dia juga menyeret saya di jalan raya," sambungnya lagi.


Ibu Melani menutup mulutnya saat melihat memar yang ada di pergelangan tangan kliennya. "Oh, ya Tuhan ... bagaimana dia bisa melakukan hal ini, Mbak?" tanyanya.


"Saya juga tidak tahu, Bu. Dia datang secara tiba-tiba dan langsung menyeret saya untuk mengikutinya. Tapi, saya menolak karena takut dia akan melukai saya dan putri kami," jawab Nadira apa adanya.


Ibu Melani lekas mengambil ponselnya untuk memotret pergelangan tangan Nadira yang memar, itu akan dia gunakan sebagai tanda bukti tambahan kalau Danu juga melakukan kekerasan terhadap Nadira.


"Saya harap luka ini juga akan menjadi bukti di pengadilan nanti supaya proses perceraian kalian berjalan lancar," kata pengacara wanita paruh baya itu.


Nadira menganggukan kepalanya dan mempersilahkan Ibu Melani untuk memotret pergelangan tangannya. Setelah selesai mengumpulkan tanda bukti kekerasan, Ibu Melani pun meminta salah satu karyawan restoran itu untuk menyediakan air dingin serta lap handuk guna mengompres pergelangan tangan kliennya.


"Iya, Bu. Terima kasih."


Nadira mulai mengompres pergelangan tangannya, sementara Tiara dia simpan di samping tempat duduk. Beruntung Ibu Melani memilihkan restoran lesehan untuk mereka makan siang, jadi Nadira tidak kesusahan untuk menidurkan Tiara di sana. Keduanya mulai larut dalam obrolan mereka. Topik pembahasan kali ini tentang hak asuh anak.


"Mbak Nad yakin mau membawa Tiara bersama Anda?" tanya Ibu Melani pada Nadira.


"Iya, Bu. Meskipun hidup saya susah, tapi saya tidak ingin berpisah dengan Tiara karena saya juga merasa, mereka tidak akan memperlakukannya dengan baik. Saya khawatir mereka justru akan melukai Tiara demi menekan saya. Mereka adalah orang-orang yang sangat nekad, jadi tidak menutup kemungkinan kalau mereka juga akan melakukan berbagai cara untuk membuat saya mengikuti keinginan mereka," jelas Nadira.

__ADS_1


Ibu Melani mengangguk-anggukan kepalanya setelah dia mendengar penjelasan Nadira. "Baiklah kalau memang seperti itu, saya akan mengusahakannya agar hak mengurus anak jatuh ke tangan Anda," ucapnya.


"Sungguh? Terima kasih, Bu!" seru Nadira dengan bahagia. Ya, dia bahagia karena tidak akan pernah berpisah dengan putrinya.


"Oh, ya ... minggu depan adalah sebuah jadwal sidang pertama kalian. Kalian akan diberi waktu untuk melakukan mediasi. Jika memang kalian sudah tidak bisa lagi bersama, maka hakim akan memutuskan perceraian kalian," ucap Ibu Melani.


"Apa tidak bisa langsung bercerai saja, Bu? Saya ... enggan untuk kembali bertemu dengannya," kata Nadira dengan suara lirih.


"Tentu tidak bisa, Mbak. Semuanya harus sesuai dengan prosedur yang ada," sahut Ibu Melani yang langsung membuat bahu Nadira turun.


"Baiklah kalau memang seperti itu. Saya akan memenuhi setiap panggilan pengadilan," putus Nadira setelah berpikir beberapa saat. Keputusannya untuk bercerai dengan danau sudah bulat dan dia sudah tidak mau mengundur-undur waktu lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Halo, guys! Ada rekomendasi novel bagus hari ini. Jangan lupa mampir ke sana, ya! Ceritanya juga seru dan bikin nagih 👍🏻


Harap bijak dalam memilih bacaan, terdapat adegan kekerasan, Kata-kata vulgar dan kotor


spin of novel Mr. Arogant


lanjutan dari Mr. Arogant... perjalanan kisah hidup dan cinta Alexander Yudista Miller putra sulung Xavier dan Nesa.

__ADS_1



__ADS_2