Serpihan Hati Yang Disia-siakan

Serpihan Hati Yang Disia-siakan
Bab 78


__ADS_3

Mendengar pernyataan Andri, Nadira terdiam. Wanita itu sempat tampak terkejut sebelum akhirnya memilih abai dan pergi dari hadapan Andri. Namun, baru beberapa langkah Nadira berjalan, tiba-tiba tangannya dicekal oleh pria itu.


"Nad, aku juga sungguh-sungguh tertarik padamu. Tapi aku tidak bisa memiliki kamu karena aku tahu, kamu masih jadi istri orang," ucap Andri.


Nadira melepaskan tangannya. "Kalau kamu tahu aku masih jadi istri orang, seharusnya kamu lebih menghargaiku dan jangan melakukan hal yang di luar batas!" sahutnya dengan tegas.


Andri menundukkan kepalanya dan berkata, "Maaf. Maaf jika apa yang aku lakukan itu membuatmu tidak nyaman."


"Hmmm. Sudahlah. Aku hanya ingin mengatakan itu saja. Jangan sampai ada kesalahpahaman lain terjadi lagi karena kamu berlama-lama di sini," usir Nadira secara halus.


Andri tidak menyahuti ucapan Nadira dan hanya mengangguk samar. Dia tidak menyangka kalau Nadira akan menegurnya secara langsung atas sikapnya serta ucapannya pada Nera.


Apa mulai sekarang Nadira akan mulai membenciku? batin Andri sambil mulai berjalan menjauh dari rumah Nadira. Tampak sesekali ia masih menoleh ke belakang untuk melihat Nadira.


Sementara itu, Nadira tampak menghela napas panjang saat Andri sudah menjauh dari rumahnya. Sebenarnya Nadira tidak berniat menegur pria itu seperti tadi. Hanya saja setelah pengakuan Andri padanya, dia berpikir kalau hal itu harus dilakukannya.


"Semoga saja Andri mengerti dengan apa yang aku katakan tadi dan dia tidak lagi membandingkan Nera denganku," gumamnya sambil masuk ke rumah.


......................


Semua pekerjaan rumah sudah Nadira selesaikan. Hari pun sudah beranjak siang. Nadira memutuskan untuk mengisi perutnya lebih dulu karena sejak pagi dia belum memakan makanan apapun kecuali teh hangat untuk mengganjal rasa laparnya. Nadira melihat sisa nasi uduknya yang tersisa sepiring lagi. Dia pun memutuskan untuk memakannya saja karena merasa tidak mungkin ada orang yang akan membeli dagangannya lagi sementara hari sudah siang.


"Kamu tunggu di sini dulu, ya, Nak!" ucap Nadira pada putrinya sambil membaringkan Tiara di teras rumah.


Baru saja Nadira hendak mengambil piring ke dalam, tiba-tiba ada suara ibu-ibu yang terdengar asing di telinganya.

__ADS_1


"Assalamualaikum, Nadira!" sapa wanita paruh baya itu.


"Wa'alaikum salam." Nadira berbalik dan kini bisa melihat siapa orang yang baru saja menyapanya. "Lho, Ibu Santi?" Dia terkejut saat melihat wanita paruh baya yang kemarin ditolongnya datang ke rumah.


"Mari masuk, Bu." Nadira mempersilahkan Ibu Santi untuk masuk ke rumah kontrakannya.


"Terima kasih, Nadira." Ibu Santi mengikuti langkah Nadira sambil sesekali memperhatikan tempat tinggal wanita muda itu.


"Silakan duduk dulu, Bu! Saya pamit ke belakang untuk mengambil air minum," ucap Nadira lagi setelah ia selesai menggelar tikar untuk alas Ibu Santi duduk di sana.


"Seharusnya kamu tidak perlu repot-repot, Nadira. Ibu juga datang kemari bukan untuk merepotkanmu. Ibu datang ke sini karena ingin mengucapkan rasa terima kasih Ibu yang sebesar-besarnya," kata Ibu Santi.


"Tidak apa-apa, Bu. Lagi pula itu sudah menjadi kewajiban saya untuk membantu Ibu," jawab Nadira sambil tersenyum.


Ibu Santi tersenyum tipis. Namun, perlahan senyuman itu seakan menghilang saat dia baru menyadari kalau wanita muda yang ada di hadapannya sudah bukan wanita single lagi.


"Iya, Bu. Ini putri saya," jawab wanita muda itu lagi.


"Ya Tuhan, lucunya ...." Ibu Santi mendekat berniat untuk meminta izin Tiara. "Boleh Ibu gendong dia?" tanyanya.


"Oh, iya, silakan, Bu."


Ibu Santi menerima Tiara dan langsung membawanya untuk duduk bersama. Dia membiarkan Nadira pergi ke belakang sendirian sementara dirinya yang akan menjaga Tiara dulu. Tak lama kemudian, Nadira pun kembali dengan sebuah nampan yang berisikan dua gelas minuman hangat serta kue basah tadi pagi sempat dibuatnya.


"Silakan dinikmati, Bu. Maaf, hanya seadanya," ucap Nadira sambil mempersilahkan Ibu Santi untuk menikmati suguhannya.

__ADS_1


"Terima kasih, Nadira. Padahal, kamu tidak perlu melakukan ini semua."


"Tidak apa-apa, Bu."


Nadira segera kembali mengambil alih Tiara dari pangkuan Ibu Santi karena dia tidak ingin wanita paruh baya itu merasa kerepotan.


Rupanya dia sudah menikah, batin Ibu Santi saat melihat Nadira yang mulai memberikan botol susu untuk Tiara. Ada sedikit rasa kecewa di hatinya saat mengetahui kalau Nadira sudah menikah.


"Apa Ibu baik-baik saja?" tanya Nadira saat melihat Ibu Santi yang hanya diam sambil menatapnya.


"Eh, i–iya ... Ibu tidak apa-apa. Ibu baik-baik saja," jawab Ibu Santi dengan sedikit terbata.


"Oh. Baiklah. Bagaimana dengan keadaan Ibu sekarang? Apa lukanya masih terasa sakit?"


"Sudah tidak apa-apa. Hanya tinggal sedikit lagi, sampai benar-benar sembuh."


"Syukurlah ...."


"Iya. Oh, ya ... apa dagangan itu milikmu?" tanya Ibu Santi sambil menunjuk barang dagangan Nadira yang masih tersisa sedikit lagi.


"Iya, Bu. Itu daganganku. Aku tidak bisa pergi bekerja karena ada putriku yang harus aku perhatikan, sementara aku juga untuk penghasilan. Jadi, aku memilih untuk memulai usaha kecil-kecilan di sini," jawab Nadira sambil tersenyum dan menundukkan kepala.


Ibu Santi mengangguk-anggukan kepalanya. "Hmmmm, maaf jika Ibu lancang, tapi di mana suamimu, Nadira?"


Mendengar pertanyaan sensitif dari Ibu Santi, membuat nandini semakin menundukkan kepala sambil menatap putrinya. Pertanyaan seperti inilah yang membuat dia enggan dapatkan dari orang lain. Namun, ia juga tidak ada alasan untuk menutup-nutupi statusnya sekarang.

__ADS_1


"Aku ... aku hanya seorang janda, Bu."


__ADS_2