
“Maaf, apa maksud Ibu berkata seperti itu?” tanya Nadira karena dia tidak mengerti dengan maksud Ibu Nurul tadi.
Seperti orang yang baru tersadar degan ucapannya, Ibu Nurul langsung terdiam. Astaga … bagaimana bisa aku mengatakan
hal itu? Bagaimana kalau sampai Nadira jadi merasa tidak nyaman? batin wanita paruh baya itu.
Dengan senyum kaku, Ibu Nurul pun berkata, “Maaf, Nad. Ibu tidak bermaksud apa-apa. Ibu harap kamu tidak memikirkan ucapan Ibu tadi. Ibu benar-benar tidak mempunyai maksud apapun.”
Setelah mendengar jawaban Ibu Nurul, Nadira pun hanya menganggukan kepalanya pelan. Dia juga tidak mengerti kenapa
wanita paruh baya itu berkata demikian. Namun, seperti yang diminta Ibu Nurul tadi, Nadira memilih untuk tidak mempedulikannya.
“Jadi, bagaimana, Nad? Apa kamu mau bantu masak-masak di rumah Nera?” tanya Ibu Nurul yang berusaha kembali ke topik pembicaraan mereka agar perhatian Nadira juga ikut teralihkan.
“Maaf, Bu … memang acaranya kapan?”
“Besok lusa. Maka dari itu Ibu datang ke sini sekarang,” jawab Ibu Nurul disertai tarikan napas lega. Ya, sepertinya dia merasa lega karena Nadira tidak lagi mempertanyakan ucapan tadi.
“Lusa?”
“Iya. Kamu tidak perlu khawatir, Ibu akan membantumu menjaga Tiara. Jadi, kamu bisa melakukan pekerjaan itu dari pagi sampai selesai. Kamu hanya perlu menyiapkan semua keperluan Tiara supaya kami tidak mengganggumu,” jawab Ibu Nurul.
Nadira tampak berpikir sesaat. Tentu saja dia tidak mau kehilangan kesempatan itu karena upah yang didapatkan saat
memasak nanti akan jauh lebih besar dari hasil berjualannya, tapi dia bingung dengan Tiara. Nadira merasa terlalu khawatir jika menitipkan Tiara pada orang lain lagi. Dia sungguh trauma akan hal itu. Meskipun kemungkinan kedatangan Danu dan keluarganya ke sana tidak ada, tapi tetap saja rasa khawatir itu tidak bisa dia abaikan begitu saja.
“Jadi, bagaimana? Apa kamu bisa membantu?” Ibu Nurul Kembali bertanya.
“Akan aku usahakan, Bu,” jawab Nadira dengan suara pelan. Mungkin mulai sekarang dia harus belajar kembali mempercayai orang lain.
“Ya sudah … karena kamu sudah berbicara seperti itu, nanti Ibu akan kabari keluarga Nera lagi supaya mereka tidak menawarkan pekerjaan ini pada orang lain,” ucap Ibu Nurul setelah mendengar jawaban Nadira.
Sementara itu, Nadira sendiri hanya mengangguk samar dan tidak lagi menyahuti ucapan Ibu RT itu. Setelah selesai berbenah, Nadira menghampiri Ibu Nurul yang masih duduk di dekat Tiara,
nampaknya wanita paruh baya itu menyukai putrinya.
“Nad, apa Ibu boleh tanya sesuatu?” tanya Ibu Nurul saat melihat Nadira yang sudah duduk di dekatnya.
__ADS_1
“Tanya apa, Bu?” Nadira terlihat heran saat Ibu Nurul terdengar akan berbicara serius degannya.
“Bagaimana proses perceraianmu dengan mantan suamimu, apa masih belum ada kejelasan?”
Kali ini tatapan heran Nadira benar-benar tidak bisa ia sembunyikan lagi dari Ibu Nurul. Namun, Nadira juga tidak berniat menanyakan maksud dari pertanyaan Ibu Nurul itu. Nadira hanya
berpikir, sebagai Ibu RT yang baik, dia wajar mengetahui status warganya.
“Nadira, kamu jangan merasa tersinggung dengan pertanyaan Ibu tadi. Ibu hanya ingin mengetahui status jelasmu saja,” sambung Ibu Nurul karena melihat Nadira yang hanya diam saja.
“Tidak, Bu. Aku tidak tersinggung,” sahut Nadira disertai senyuman tipis. “Sebenarnya sampai sekarang pengacaraku
masih menguruskan masalah itu. Dia mengatakan kalau Mas Danu sangat sulit untuk ditemui. Jangankan untuk dating sendiri kepengadilan, dia bahkan pulang kerumahnya saat malam hari dan akan segera pergi di pagi buta. Aku tidak tahu cerita pastinya karena aku juga hanya mendengar hal itu dari pengacaraku dan
dia pun hanya mendapatkan info itu dari Ibu mertuaku saja,” jawab Nadira yang kini menundukkan kepalanya. Dia bahkan merasa sudah tidak peduli lagi dengan statusnya saat ini karena sikap Danu yang tidak jelas terhadapnya.
Ibu Nurul menatap Nadira dengan sedih. Meskipun wanita muda itu hanyalah warga baru di sana, tapi karena keramahan dan
sikap hormat yang ditunjukkan padanya membuat Ibu Nurul sulit untuk menolak kasih saying yang tumbuh dihatinya terhadap Nadira. Apalagi usia Nadira hampir sama dengan putra sulungnya, Andri. Selain hal itu, Ibu Nurul juga merasa harus
menyayangi Nadira karena rupanya keluarga sang suami dulu perna berhutang budi pada keluarga Nadira.
“Terima kasihh atas dukungannya, Bu.”
Setelah percakapan ringan diantara keduanya usai dan Ibu Nurul selesai mengutarakan pembicaraannya, wanita paruh baya itupun pamit undur diri pada Nadira.
“Ibu pamit pulang, ya, Nad. Kamu dan Tiara baik-baik di sini. Besok pagi Ibu dating lagi,” ucap Ibu Nurul sebelum beliau benar-benar pergi dari halaman rumah kontrakan Nadira.
“Iya, Bu. Terima kasih atas infonya juga,” jawab Nadira yang langsung diangguki oleh Ibu Nurul.
“Iya. Sama-sama, Nad!”
Selepas kepargian Ibu Nurul, Nadira pun menutup pintu rumah kontrakannya dan segera menidurkan Tiara agar ia bisa segera melakukan pekerjaan lainnya.
Nadira tidak bisa berleha-leha. Dia harus mengerjakan sesuatu dengan cepat agar quality time–nya bersama Tiara tidak terganggu. Namun, baru saja dia menyimpan Tiara di kasur, tiba-tiba ponsel jadulnya yang sudah beberapa hari ini sepi, terdengar berdering, menandakan adanya panggilan masuk.
Tumben ada yang menghubungiku, siapa, ya? gumam Nadira seraya bangkit perlahan dari tempat tidur agar tidak menggangu Tiara. Ditatapnya layar ponsel itu. Deretan nomor tidak dikenal membuat Nadira ragu untuk menerima panggilan tersebut, hingga akhirnya dering panggilan itu berakhir di tangan Nadira tanpa menjawabnya.
__ADS_1
Aku tidak mau diganggu siapapun saat ini. Aku belum siap untuk kembali berkomunikasi dengan Mas Danu ataupun keluarganya, batin wanita itu lagi sambil menyimpan ponsel di atas meja, setelah sebelumnya me–nonaktifkan ponsel tersebut supaya tidak ada yang menghubunginya lagi.
***
Sementara itu, Danu menghela napas kasar saat panggilannya terhadap Nadira, tidak dijawab oleh istrinya itu. Padahal, susah payah dia mendapatkan nomor ponsel baru Nadira dari pengacara wanita itu.
"Akh, sial sekali! Kenapa dia tidak menjawab panggilanku?" geram Danu seraya melemparkan ponselnya ke atas meja. Dia menghubungi Nadira untuk mendapatkan persetujuan menikah dengan Anita karena kehamilan kekasihnya itu diketahui oleh keluarga Anita sendiri.
Pak Santo dan Ibu Mina selaku kedua orang tua Anita menyayangkan sikap Danu yang sudah menjalin hubungan dengan putrinya dibelakang Nadira. Ya, tentu saja mereka marah pada kedua orang itu karena hubungan mereka adalah persepupuan. Meskipun jauh, tapi mereka masih berada di satu lingkup keluarga besar. Dan, betapa kecewanya Pak Santo saat mengetahui pria yang sudah menghamili putrinya itu adalah pria beristri yang tidak lain merupakan keponakan jauhnya sendiri.
"Bagaimana, Danu, apa kamu sudah bisa menghubungi Nadira?" tanya Pak Santo pada keponakannya itu.
Danu menggelengkan kepalanya pelan. "Belum, Om. Nadira menolak panggilan dariku," jawabnya.
"Aku tidak mau tahu, kamu harus segera menghubungi Nadira dan meminta izin darinya untuk kembali menikah. Meskipun kalian sudah berpisah, tetapi secara negara kalian masih sepasang suami istri. Aku tidak akan memberikan kalian restu menikah, sebelum Nadira sendiri yang mengiyakannya!" ucap Pak Santo dengan tegas.
"Tapi, Om ... kalau kami tidak segera menikah, mungkin Om sendiri yang akan menanggung malu karena Anita hamil tanpa suami," bela Danu yang tidak ingin disalahkan sendiri.
"Aku tidak peduli. Kalian yang sudah membuatku malu, jadi kalian juga yang harus turut menanggung rasa itu!" sahut pria paruh baya itu.
Sementara itu Ibu Mina sendiri hanya bisa menatap putrinya yang kini sedang menunduk dalam dengan penuh rasa kecewa. Dia tidak menyangka kalau Anita sampai tega menjadi orang ketiga dalam pernikahan sepupunya sendiri.
"Nita, Ibu benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiranmu. Bagaimana bisa kamu menjadi penghancur rumah tangga sepupumu sendiri," ucap Ibu Mina dengan lirih.
"Ini semua bukan hanya kesalahanku, Bu. Kalau saja Mas Danu tidak memberikanku celah, mungkin aku juga tidak akan sampai berada di posisi seperti ini," jawab Anita tanpa mengangkat kepalanya.
"Iya. Yang itu berarti kau memang yang terlebih dulu menggodanya!" sahut Pak Santo dengan geram pada putrinya sendiri. "Di mana kamu menaruh pikiranmu saat itu, hah? Aku benar-benar tidak habis pikir denganmu," sambungnya lagi.
Danu tidak berani angkat bicara saat melihat orang tua Anita sedang memarahi sang kekasih. Dia sendiri sadar dengan apa yang dilakukannya, tapi Danu sama sekali tidak merasa bersalah akan hal itu.
Akh, mungkin keputusanku dulu menikahi Nadira memang salah. Tetapi kenapa aku baru menyadari perasaanku pada Anita saat ini, bahkan setelah aku menjalani pernikahan dengan Nadira selama lima tahun lamanya, batin pria itu tanpa perasaan bersalah untuk Nadira.
"Danu, jika kamu tidak mendapatkan izin menikah dari Nadira, makasih siap-siap kamu akan aku penjarakan!" ancam Pak Santo.
Danu langsung tercengang dan tersadar dari lamunannya saat mendengar ancaman dari Pak Santo. Bagaimana tidak, perselingkuhannya dengan Anita tidak hanya dilakukan oleh satu pihak, dia dan Anita sama-sama sadar dengan kesalahan yang mereka perbuat, tapi hanya dirinya sendiri yang bukan dipenjarakan oleh pria paruh baya itu.
"Om, Om tidak bisa menghukumku seorang diri. Anita juga turut bersalah dalam hal ini!"
__ADS_1
"Aku tahu. Untuk masalah hukuman Anita, aku sendiri yang akan menanganinya."