Serpihan Hati Yang Disia-siakan

Serpihan Hati Yang Disia-siakan
Bab 63


__ADS_3

Setelah panggilan telpon diakhiri oleh Nadira, ibu satu anak itupun kembali terdiam dalam lamunan, hingga tidak menyadari kalau putri kecilnya sudah terlelap dalam pangkuannya.


Maafkan aku, Bu. Aku hanya tidak ingin semakin menyusahkan kalian saja. Apalagi dengan keadaanku yang sekarang. Mungkin ini adalah balasan atas apa yang menjadi pilihanku dulu, batin Nadira meratapi nasibnya.


Jauh dari keluarga dengan membawa seorang bayi bukanlah perkara mudah. Siapa pun pasti tidak ingin berada di posisi Nadira saat ini. Namun, Nadira tidak punya pilihan lain selain pergi dari keluarganya untuk membuktikan kalau dia bukanlah wanita yang lemah. Biarlah dia bersusah payah sendiri saat ini, sampai dirinya menemukan seseorang yang benar-benar bisa merangkulnya dengan tulus nanti.


Entah berapa lama Nadira terdiam, yang pasti dia baru sadar saat ada seseorang di luar kontrakan mengetuk pintunya.


“Nad! Nadira, apa kamu sedang ada di dalam?” tanya orang itu yang ternyata Ibu Nurul. Sepertinya Ibu Nurul segera menyusul Nadira saat mengetahui Tiara sudah diambil oleh ibunya.


“Nad, ini Ibu!” ucap Ibu Nurul lagi karena Nadira masih belum membukakannya pintu.


“Iya, Bu. Aku ada di dalam. Sebentar!” sahut Nadira setelah mengetahui kalau itu adalah Ibu RT yang sudah memberikan


pekerjaan hari ini padanya. Nadira lekas membukakan pintu dengan tangan yang masih menggendong Tiara.


‘Ceklek’


Pintu terbuka dan Ibu Nurul sedang berdiri di depannya.


“Maaf, Bu. Tadi aku bawa pulang Tiara karena sedikit tidak nyaman kalau harus menyus*inya di sana,” ucap Nadira


sambil mempersilakan Ibu Nurul masuk ke kontrakannya.


“Iya. Tidak apa-apa, Nad. Ibu juga minta maaf karena sudah menitipkan Tiara pada Andri. Tadi pekerjaan Ibu belum sepenuhnya selesai,” jawab Ibu Nurul.

__ADS_1


“Kalau memang Ibu sedang sibuk, lebih baik aku bawa saja Tiara bersamaku, Bu. Aku—”


“Tidak perlu, Nad. Sekarang pekerjaan Ibu sudah selesai. Ibu bisa jaga Tiara sendirian!” potong Ibu Nurul dengan cepat.


“Tapi, aku tidak ingin merepotkan Ibu.”


“Ibu sungguh tidak repot, Nad. Tadi Ibu hanya membereskan pekerjaan rumah sedikit saja. Sekarang kamu bisa kembali lagi ke rumah orang tua Nera dan menyelesaikan pekerjaanmu,” ucap Ibu Nurul. Sepertinya dia sedang berusaha meyakinkan Nadira untuk menitipi Tiara lagi padanya.


“Apa Ibu yakin, Ibu sedang tidak sibuk?” Nadira sedikit ragu.


“Iya. Kalau kamu tidak percaya, kita pergi ke rumah Nera. Ibu akan menjaga Tiara di sana. Lagi pula Ibu harus bertemu dengan Bu Kamila,” jawab Ibu Nurul.


Mendengar jawaban Ibu Nurul, Nadira semakin khawatir, dia tidak ingin keberadaan Tiara justru malah membuat pertemuan Ibu Nurul dan calon besannya itu berantakan.


“Aduh … bagaimana, ya, Bu. Aku sungguh tidak bisa membiarkan Tiara bersama Ibu. Apalagi Ibu juga berencana untuk bertemu Ibu Kamila. Aku hanya takut Tiara akan mengganggu pertemuan kalian saja,” tolak Nadira lagi.


“Nad, Ibu tahu kalau kamu sedang berusaha menjaga jarak kita, tapi tolong jangan lakukan itu. Ibu hanya ingin membantumu karena Ibu tulus menyayangi Tiara. Ya … meskipun kita baru saling mengenal, tapi Ibu tidak ingin jauh darinya. Tolong kamu percaya pada Ibu,” kata Ibu Nurul lagi.


Nadira sempat terkejut sesaat ketika mendengar perkataan Ibu Nurul. Namun, hatinya juga merasa terharu karena ternyata ada orang lain yang sungguh-sungguh menerima keberadaannya di sana saat ini, meski ada sedikit keraguan juga. Ya, Nadira ragu karena mungkin saja hal ini ada sangkut pautnya antara dia dan Andri.


“Tapi, Bu—”


“Ibu tahu, kamu pasti sedikit keberatan karena berpikir kalau ini ada kaitannya dengan Andri, ‘kan?” tanya Ibu Nurul lagi. Nadira terdiam dan tidak menjawab pertanyaan wanita paruh baya itu. “Nak, kamu jangan berpikir seperti itu. Meskipun memang, Ibu sedikit berharap padamu, tapi Ibu tidak akan memaksamu jika kamu merasa kebaratan.”


Lagi-lagi ucapan Ibu Nurul membuat Nadira terkejut. Rupanya wanita paruh baya itu sempat berpikir kalau dirinya akan

__ADS_1


menjadikan Nadira sebagai menantunya.


“A—apa maksud Ibu?”


"Seperti yang kamu ketahui, Andri dan Nera itu dijodohkan oleh Ayahnya. Awalnya Andri sempat menolak perjodohan itu, tapi karena suatu hal, dia tidak bisa membatalkannya. Andri juga sempat mengatakan pada Ibu, kalau dia tertarik padamu. Tapi, karena melihat sikapmu yang mengacuhkannya, jadi dia pun mengurungkan niatnya mendekatimu," terang Ibu Nurul.


Ada rasa heran di hati Nadira. Bagaimana bisa Ibu Nurul mengungkapkan hal itu dengan santai padanya, sedangkan dia saja tidak terlalu mengerti dengan apa yang disampaikannya. Untuk Nadira, saat ini dirinya masih enggan kembali menjalin suatu hubungan baru, jadi dia akan menolak siapapun yang berusaha mendekatinya. Nadira tidak akan segan-segan untuk langsung menjauh saat mengetahui kalau orang itu punya tujuan tertentu ketika mendekatinya ataupun mendekati Tiara.


"Ibu, aku tidak bermaksud mengatakan hal yang tidak sopan dan menyakitkan hati Ibu. Aku senang saat Ibu mengatakan kalau Ibu menyayangi Tiara, putriku. Tapi, setelah mengetahui Ibu sempat menaruh harapan padaku, aku jadi sedikit merasa kurang nyaman." Nadira menundukkan kepalanya. "Aku tidak ingin menjadi saingan siapapun. Apalagi aku hanya wanita pengembara yang sudah mempunyai seorang putri, rasanya tidak cocok untukku jika harus bersaing dengan wanita yang lebih muda dariku."


"Ibu mengerti, Nad. Seperti yang kamu katakan ... Ibu tidak akan memaksamu. Jadi, cukup kamu jaga jarak saja dengan Andri, tapi tidak dengan Ibu," ucap Ibu Nurul lagi dengan yakin.


Nadira menatap wanita paruh baya itu dalam diam. Dia benar-benar merasa bingung saat ini karena harus dihadapkan dengan masalah yang menurutnya sangat tidak penting di posisinya yang sekarang.


Ya Tuhan ... jika sudah seperti ini, apa yang harus aku lakukan? gumam wanita itu dalam hatinya.


"Nad?" panggil Ibu Nurul saat melihat Nadira yang hanya terdiam.


"Eh, i–iya, Bu?" tanya Nadira terbata-bata.


"Apa perkataan Ibu tadi membuatmu semakin tidak nyaman? Maaf, Ibu tidak bermaksud untuk membuatmu seperti itu, Ibu hanya tidak ingin kamu menjauhkan Ibu dengan Tiara saja." Ibu Nurul menggenggam tangan Nadira. "Ibu mohon, Nad!" sambungnya lagi.


Nadira merasa sedikit tidak nyaman saat melihat Ibu Nurul yang memohon padanya untuk tidak menjauhkan putrinya. Di satu sisi, dia merasa sangat tidak ingin berhubungan lagi dengan keluarga wanita paruh baya itu, tapi di sisi lain Nadira juga merasa tidak tega saat melihat orang lain memohon-mohon padanya.


"Baiklah. Aku tidak akan menjauhkan Ibu dari Tiara, tapi ... aku harap Ibu juga tidak berpikiran untuk membuatku dekat dengan Andri," jawab Nadira setelah wanita itu berpikir sejenak.

__ADS_1


"Tidak akan, Nad. Ibu tidak akan memaksamu jika memang kamu tidak menginginkannya," sahut wanita paruh baya itu dengan cepat disertai dengan senyuman lebar karena bisa kembali menghabiskan waktu bersama bayi kecil yang sudah dia anggap seperti cucunya sendiri itu.


__ADS_2