
Perkataan Ibu Susan sangat menyakiti hati Nadira. Dia tidak menyangka kalau pengabdiannya selama lima tahun ini tidak ada apa-apanya di mata wanita paruh baya itu. Padahal selama lima tahun itu pula, Nadira selalu mengalah dan selalu menuruti apa yang menjadi kehendak mertuanya. Tak pernah sekalipun dia menggunjing ataupun mencibir wanita yang merupakan ibu dari suaminya itu. Akan tetapi, saat ini keadaannya sudah berubah. Nadira sudah terlalu lelah untuk terus menerus mengalah pada kenyataan yang ada. Dia akan memilih jalan hidupnya sendiri dan berbahagia dengan Tiara, putrinya.
"Bu, aku hanya ingin memastikan perkataanmu saja. Apa perkataan Ibu itu bersungguh-sungguh?" tanya Nadira dengan tatapan yang sulit diartikan. Bahkan, rasa-rasanya aura berwarna merah gelap itu baru saja menyeruak keluar dari tubuhnya.
Sesaat Ibu Susan tampak membeku atas reaksi yang ditunjukkan oleh Nadira. Dia cukup terkejut karena menantu yang biasanya tertunduk menangis, kini menampakan ekspresi lain di wajahnya. Bahkan, bulu kuduknya sendiri tampak meremang saat menatap Nadira.
"K–kenapa kamu meragukan ucapanku?" tanya Ibu Susan sambil sesekali melirik wajah menantunya.
"Aku harap Ibu tidak menyesali perkataan Ibu ini. Silakan sekarang pulang dan jangan pernah menginjakkan kaki Ibu lagi di sini!" usir Nadira dengan tegas sehingga membuat mata Ibu Susan membelalak terkejut.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Nadira berlalu dari hadapan ibu mertuanya dan lekas menutup pintu kontrakannya dengan kasar. Lagi-lagi hal itu membuat Ibu Susan terperanjat kaget.
Apa-apaan sikap itu? Sungguh dia sudah tidak memiliki rasa sopan santun terhadapku, batin Ibu Susan sambil mengepalkan kedua tangannya dan menatap tajam ke arah pintu yang sudah tertutup rapat itu. Baginya ini adalah penghinaan yang amat sangat. Sebelumnya hal ini tidak pernah sekalipun terjadi. Aku sangat-sangat terkejut dengan perubahan sikapnya. Dari mana dia mendapatkan keberanian seperti itu? tanya Ibu Susan lagi dalam hatinya.
Setelah beberapa saat berdiam diri di depan pintu rumah Nadira yang tertutup rapat, akhirnya Ibu Susan pun pergi dengan raut wajah yang sama sekali tidak ramah.
Hah, entah kenapa akhir-akhir ini banyak sekali masalah yang datang menghampiriku dan keluargaku. Putraku yang berselingkuh dengan wanita lain sampai mengandung anaknya dan menantuku yang terus membuatku tidak senang. Benar-benar menjengkelkan! Wanita paruh baya itu terus menggerutu disepanjang jalan pulang. Dia tidak mempedulikan beberapa tetangga yang berbisik karena aneh melihatnya yang mengomel sendirian.
"Bu Susan, tunggu!" seru Ibu Kokom sambil menghampiri Bu Susan.
"Ada apa, Bu Kokom? Kenapa suruh saya berhenti?" tanya Ibu Susan karena merasa kesal langkahnya sudah dihentikan oleh tetangganya yang selalu ingin tahu urusan orang lain.
"Ibu Susan dari mana? Kenapa wajahnya suram begitu? Seperti orang yang sedang kesal saja?"
"Iya. Saya memang sedang kesal. Maka dari itu, Bu Kokom jangan ganggu saya dulu!" sahut Ibu Susan dengan menunjukkan wajah garangnya. Wanita itu berharap tetangganya mau mengerti dan tidak lagi mengganggu dirinya.
"Ya Tuhan, Bu ... jangan galak-galak seperti itu sama tetangga. Nanti akan repot kalau Ibu butuh sesuatu!"
__ADS_1
"Memangnya saya peduli? Sudah, sana. Pergi jauh-jauh!" usir Ibu Susan dengan tegas. Setelah mengatakan hal itu, ia pun langsung pergi begitu saja dari hadapan Ibu Kokom.
Dasar pengganggu! batinnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu di tempat lain, Danu sedang duduk sambil menikmati kopi dan rokok yang disuguhkan oleh Anita, selingkuhannya. Ya, Danu lebih memilih berdiam diri di sana daripada pulang dan meminta maaf pada istrinya. Bahkan, Danu juga tidak mengetahui apa yang sudah terjadi di kontrakannya. Pria itu merasa enggan untuk pulang dan memperbaiki hubungannya dengan Nadira.
"Mas, kamu mau sampai kapan berada di sini?" tanya Anita begitu ia keluar dari kamar mandi. Dia baru saja menyelesaikan ritual mandinya. Anita sengaja berpenampilan menggoda dengan hanya menggunakan bathrobe mini dan handuk kecil yang ia lilitkan untuk menutupi rambutnya yang masih basah.
"Entahlah, Nit. Rasanya aku enggan untuk pulang ke rumah dan bertemu dengan Nadira. Aku lelah selama beberapa minggu ini harus bersikap baik padanya. Aku tidak bisa berpura-pura lebih lama lagi," jawab Danu sambil menghampiri Anita dan merengkuhnya ke dalam pelukan.
"Kenapa seperti itu, Mas? Bukankah kamu sudah berjanji mau berubah terhadapnya, asalkan dia memperbolehkanmu menikahiku? Atau jangan-jangan kamu belum membicarakan hal ini padanya?" tanya Anita lagi sambil melepaskan dirinya dari pelukan Danu.
Anita tidak memungkiri kalau dirinya termasuk wanita nakal dan suka menggoda suami orang, tapi dia juga tidak ingin terus-menerus menjalin hubungan gelap tanpa ada kepastian. Apalagi saat ini dirinya sudah berbadan dua.
"Kenapa, Mas? Jangan bilang kalau kamu takut padanya?"
"Takut? Untuk apa aku takut pada wanita lemah seperti dia, sayang? Kamu jangan berpikir seperti itu. Saat ini aku sedang mencari cara untuk berpisah dengannya, tapi dengan menuduhnya kalau dialah yang berselingkuh. Aku tidak mau nama kita buruk di mata tetanggaku yang lain," jelas Danu sambil kembali menarik Anita.
"Aku ingin hidup selamanya denganmu. Jadi sebisa mungkin aku harus menyingkirkan Nadira tanpa menodai nama kita," ucap Danu lagi. Kini pria itu mulai menyusuri leher Anita hingga membuat wanita yang ada di depannya menggelinjang kegelian.
Anita memikirkan ucapan Danu dengan baik-baik. Apa yang dikatakan oleh pria itu memang ada untungnya. Jika memang dia mau mengakhiri permainan cinta mereka, setidaknya mereka harus mempunyai nama yang bagus di mata masyarakat agar tidak dicibir oleh para tetangga.
"Apa kamu sudah menemukan caranya, Mas?" Anita menarik kepala Danu dari lehernya dan menatap mata pria itu secara langsung.
"Kamu tenang saja, sayang. Meskipun sekarang belum ada, tapi aku akan tetap berusaha mencarinya. Aku yakin, dia bukan wanita yang benar-benar baik yang tahan dengan sentuhan pria. Apalagi sudah berbulan-bulan ini aku tak pernah menyentuhnya. Dia pasti akan mudah tergoda," jawab Danu sambil membayangkan bagaimana kalau dia menghadirkan pria lain untuk menggoda istrinya itu.
__ADS_1
Sepertinya rencana ini akan bagus. Daripada aku harus mencari-cari kesalahan dia, lebih baik aku datangkan saja kesalahan itu, batinnya sambil tersenyum sini sehingga membuat Anita penasaran dengan apa yang dipikirkan oleh pria di hadapannya.
"Apa yang sedang kamu rencanakan, Mas?"
"Kamu akan tahu nanti. Sekarang, lebih baik kita nikmati waktu yang kita lalui bersama ini," jawab Danu sambil mendorong Anita ke tempat tidur dengan perlahan. Dia sudah tidak bisa main kasar karena ada seseorang yang harus dijaganya di dalam perut wanita itu.
"Pelan-pelan, Mas!"
"Tentu, sayang."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Halo manteman 👋👋 aku ada rekomendasi novel teman nih. Jangan lupa mampir, ya!
Janji hati Raditya dan Andhini, sampai pada kebahagiaan pernikahan, paska Andhini di wisuda mereka melangsungkan pernikahan mewah yang di cita-citakan.
Berjalannya waktu tak ada yang lain selain kebahagiaan dan kedua orangtua mereka yang bangga dengan keharmonisan rumah tangga anaknya, Tahun berganti, Andhini mulai gelisah dengan keadaan dirinya yang belum menunjukkan adanya perubahan di tubuhnya, Andhini menginginkan anak dan semua itu membuatnya begitu cemas hingga jatuh sakit.
Dalam keadaan sakit Andhini dirawat seorang perawat yang di ambil dari yayasan yatim-piatu bernama Karina. Dari kedekatan mereka timbul niat Andhini menjodohkan suaminya dengan Karina, dan menghasilkan satu kesepakatan diatas kertas.
Terkadang cinta memang tak ada logika, sanggup melawan arus dan menerjang rintangan apapun, apalah artinya kekayaan kalau tak memberinya kenyamanan.
Apa Karina juga mau menerima tawaran untuk mengubah kehidupannya?
~ Andhini : 'terkadang atas nama cinta seseorang harus rela berkorban, walaupun itu sesuatu yang sangat dicintainya.'
~ Raditya : sanggupkah aku menjalani apa yang diminta istri tercintanya? walaupun itu di luar kewajaran.'
__ADS_1