
Embusan angin serta rintik hujan mulai turun, menyadarkan Raka dari lamunannya. Setelah berbicara dengan Nadira dan mendengar kata-kata wanita itu, Raka termenung sendiri. Kini dia bisa menyimpulkan bahwa Nadira mengalami trauma yang cukup berat akibat pernikahan sebelumnya. Sebenarnya, Raka sendiri sudah bisa menebak Nadira akan langsung menolaknya. Namun, dia hanya berpikir kalau Nadira sedang tidak percayalah diri saja. Akan tetapi, rupanya perkiraannya salah karena bukan masalah kepercayaan diri saja yang membuat Nadira menolak perasaan Raka, tapi juga ikatan pernikahan yang ditakuti oleh Nadira.
Sial! umpatnya secara tidak sadar sembari menendang angin. Raka mendadak kesal saat mengingat bagaimana keadaan Nadira dulu saat masih bersama mantan suaminya, Danu. Tak ada satu pun yang Raka lupakan dari perlakuan Danu terhadap Nadira.
"Aku baru sadar, rupanya kamu masih sangat terluka dengan masa lalumu itu, Nadira. Aku tidak menyangka kalau dia benar-benar menghancurkan mentalmu sampai seperti ini," gumam Raka seraya mengepalkan tangannya dengan erat, pertanda jika dirinya sedang menahan emosi yang sangat kuat.
Tak ada yang bisa Raka lakukan dulu untuk saat ini selain membuat Nadira merasa nyaman dan terlepas dari rasa
traumanya. Raka sungguh tidak ingin kehilangan jejak Nadira lagi. Jadi, ia akan memutuskan untuk mendekati Nadira secara perlahan, ditambah dia pun yakin kalau sang mama pasti tidak akan keberatan.
Setelah merasa lebih tenang, Raka pun kembali masuk ke rumah. Sebenarnya ia sedikit penasaran dengan apa yang akan dibicarakan oleh mamanya dan juga Nadira, tapi ia ragu untuk melihat kedua wanita itu.
Sementara itu, saat ini Nadira sedang duduk berdua bersama Ibu Santi di kamar. Ya, tadi Ibu Santi segera menghampiri Nadira saat melihat ibu muda itu masuk ke rumah dengan terburu-buru dalam keadaan mata yang sedikit sembab. Entah apa alasannya, yang pasti Ibu Santi hanya bisa menebak kalau itu karena luka hati Nadira.
“Nadira!” panggil Ibu Santi yang langsung membuat Nadira mengdongakkan kepalanya sambil menatap wajah wanita paruh baya itu.
“Iya, Bu?”
“Apa kamu baik-baik saja?” Ibu Santi menyentuh wajah Nadira.
Pertanyaan Ibu Santi membuat hati Nadira sedikit menghangat karena selama ini tak ada yang terlalu memperhatikan perasaannya. Itu membuat kedua mata Nadira semakin berembun. Namun, sebelum air hangat itu meluncur di wajah, ia segera mengusapnya dengan kasar.
“Aku … aku baik-baik saja, Bu,” lirih Nadira.
“Kamu yakin?”
__ADS_1
Nadira menundukkan kepalanya tanpa bisa menjawab pertanyaan Ibu Santi.
Melihat reaksi Nadira yang demikian, Ibu Santi pun langsung merangkul Nadira seraya berkata, “Jangan menahan hatimu. Jika kamu ingin menangis, maka menangislah ….”
Setelah mendengar ucapan Ibu Santi, seketika itu juga tangis Nadira pecah hingga ia membasahi baju wanita paruh
baya itu dengan air matanya. Dia benar-benar meluapkan kesedihan seta rasa sakit itu di bahu Ibu Santi.
Sebenarnya apa yang membuat kamu sampai seperti ini, Nak? Dari tangisanmu ini, Ibu bisa merasakan luka hati yang amat pedih, gumam Ibu Santi dalam hatinya.
Setelah sekitar sepuluh menit berlalu, barulah Nadira mengangkat kepalanya dari bahu Ibu Santi.
"Bagaimana perasaanmu saat ini, Nadira?" tanya wanita paruh baya itu. Dia sungguh tidak memedulikan bajunya yang basah karena air mata Nadira.
"Jangan hiraukan baju Ibu. Sekarang minumlah dulu!" Ibu Santi memberikan gelas minum pada Nadira.
Nadira menerima gelas itu dan meminumnya. Setelah merasa lebih baik dia pun kembali mengatur napas dan membenarkan posisi duduknya.
Setelah melihat Nadira yang tampak kembali tenang, Ibu Santi pun mulai mengajukan pertanyaan.
"Nadira, sebelumnya apa Ibu boleh bertanya sesuatu padamu?" katanya Ibu Santi dengan sangat hati-hati.
"Silakan, Bu. Aku pasti akan menjawab pertanyaan Ibu sebisaku," jawab Nadira sambil tersenyum tipis.
Mendengar persetujuan Nadira, Ibu Santi pun mulai menarik napas sebelum ia berkata, "Mungkin pertanyaan ini sedikit membuatmu tidak nyaman, tapi Ibu harap kamu bisa menjawabnya dengan jujur."
__ADS_1
Nadira kembali menganggukkan kepalanya. "Iya, Bu."
"Bagaimana perasaanmu terhadap Raka?"
"Ya?" Nadira cukup terkejut dengan pertanyaan yang diajukan oleh Ibu Santi.
"Ibu bertanya seperti ini hanya ingin memastikan perasaanmu saja." Ibu Santi menundukkan kepalanya. "Sebenarnya, Ibu merasa kalau Raka menyukaimu. Dari cara dia berbicara dan gerak-geriknya, Ibu bisa melihat itu," sambungnya lagi.
Nadira sungguh tidak menyangka kalau ternyata Ibu Santi juga bisa melihat dan merasakan perasaan Raka terhadapnya. Namun, dia juga tidak tahu harus menjawab apa karena perasaannya saat ini masih belum siap untuk mengatakan iya ataupun tidak.
"Nadira?" panggil Ibu Santi lagi saat melihat Nadira yang hanya terdiam.
"A–aku ...."
"Apa kamu tidak menyukai Raka?"
"Ti–tidak, Bu. Bukan seperti itu. Hanya saja ...."
"Kamu belum sepenuhnya percaya pria lagi?" tebak Ibu Santi.
Kepala Nadira mengangguk samar. "Maaf," ucapnya.
Mendengar permintaan maaf Nadira, Ibu Santi pun langsung mengulurkan tangannya dan mengusap bahu wanita muda itu.
"Jangan meminta maaf karena itu bukan salahmu. Wajar saja jika kamu belum sepenuhnya percaya pada Raka. Tapi ... jika Ibu boleh meminta, tolong jangan jauhi Raka lagi!"
__ADS_1