Serpihan Hati Yang Disia-siakan

Serpihan Hati Yang Disia-siakan
Bab 87


__ADS_3

Hari mulai sore, Nadira juga sudah mulai melakukan pekerjaan rumah di tempat tinggal Ibu Santi. Dia tidak terlalu kesulitan karena selama Nadira mengerjakan tugasnya, Ibu Santi mengambil alih Tiara dan mengajaknya bermain. Seperti saat ini, Nadira sibuk membantu Bi Rusmi memasak, sementara Tiara sedang bersama Ibu Santi di ruang keluarga.


"Mbak, tolong berikan ini ke Ibu, ya! Tadi beliau memintanya," ucap Bi Rusmi sambil memberikan nampan berisi secangkir teh manis beserta toples cemilan.


"Oh, iya, Bi." Nadira mengambil nampan itu dan berlalu meninggalkan Bi Rusmi.


Dari pintu masuk ruang keluarga, Nadira melihat Ibu Rusmi tengah menggoda putri kecilnya, sehingga bayi itu tertawa renyah.


Ya Tuhan ... rasanya bahagia sekali melihat putriku tertawa seperti ini, batin Nadira.


Untuk sesaat, wanita muda itu terpaku melihat kedekatan keduanya, hingga tiba-tiba bahunya ditepuk seseorang dari belakang.


"Nadira?" Suara seorang pria di belakangnya itu langsung menarik kesadaran Nadira dari lamunannya.


Seperti terpaku karena terkejut, Nadira hanya bisa diam mematung setelah seseorang yang menepuknya itu berdiri di hadapannya.


“Nadira, apa aku sedang bermimpi bertemu denganmu di sini?” tanya Raka tanpa menghiraukan raut wajah Wanita muda di hadapannya.


“Wah … aku sungguh tidak menyangka jika wanita yang dimaksud Mama itu adalah kamu,” sambung Raka lagi.


“P—pak Raka?” gumam Nadira pelan. Sungguh, saat ini hatinya benar-benar terkejut. Meskipun tadi Nadira sudah melihat foto keluarga Ibu Santi dan mengetahui kalau Raka adalah putranya, tapi tetap saja dia masih tidak bisa berkata-kata setelah bertemu langsung.


“Iya. Ini Aku. Apa ada yang salah?” tanya Raka yang terheran-heran dengan reaksi yang diberikan oleh Nadira. Sebenarnya Raka juga terkejut karena kehadiran Nadira di rumahnya. Tadinya, dia berpikir kalau sang mama menceritakan Nadira yang lainnya karena dia tidak mengetahui kedekatan kedua wanita itu.


“Ba—bagaimana Bapak bisa ada di sini?” tanya Nadira dengan terbata.


“Bukankah pertanyaan itu seharusnya dariku? Bagaimana bisa kamu berada di rumahku? Bagaimana bisa kamu kenal dengan Mamaku?” tanya Raka sambil menatap lekat wanita di hadapannya.


Mendengar pertanyaan dari Raka, Nadira terdiam kembali. Dia baru menyadari kalau pertanyaan yang tadi dilontarkannya itu salah.

__ADS_1


Ya Tuhan … bagaimana bisa aku melemparkan pertanyaan bodoh tadi? Sudah pasti dia ada di sini karena ini rumahnya, rutuk wanita muda itu dalam hati.


“Ma—maaf,” gumam Nadira seraya menundukkan kepalanya untuk menghindari tatapan Raka.


“Kenapa kamu bersikap seperti itu? Apa kamu merasa terganggu dengan pertemuan kita lagi?” Raka Kembali bertanya karena melihat sikap Nadira yang masih berusaha menghindarinya.


“Hah? Bu—bukan seperti itu, Pak,” kilah Nadira dengan cepat. “Sa—saya hanya … sedang terburu-buru untuk memberikan minuman ini pada Ibu,” lanjutnya seraya memperlihatkan nampan berisi pesanan Ibu Santi.


“Kamu yakin, kamu sedang tidak menghindariku?”


Nadira menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Te—tentu saja tidak!” sahutnya dengan suara bergetar.


"Syukurlah kalau kamu merasa pertemuan kita kali ini tidak mengganggu." Raka mengangguk-anggukan kepalanya, sebelum ia kembali berkata, "Hmmm ... lebih baik kamu berikan minuman itu pada Mamaku dulu. Setelah itu aku ingin berbicara denganmu!"


"Berbicara denganku?" tanya Nadira lagi.


Setelah kepergian Raka, Nadira mengatur ekspresi wajahnya terlebih dahulu agar lebih tenang saat menemui Ibu Santi. Tentu saja dia tidak ingin membuat wanita paruh baya yang sudah menolongnya itu berpikir macam-macam tentangnya karena tadi sempat bertemu dengan sang putra.


Huft, semoga Ibu Santi tidak melihat percakapanku dengan Pak Raka tadi. Karena aku belum siap untuk menjelaskan apapun kepada beliau, batinnya.


setelah merasa lebih tenang, Nadira pun melanjutkan kerjaannya yang tadi sempat tertunda, yaitu memberikan minuman pesanan Ibu Santi.


"Permisi, Bu. Ini minuman pesanan Ibu," ucap Nadira sambil menyimpan nampan yang tadi dibawanya di atas meja.


"Oh, iya .... Terima kasih, Nadira." Ibu Santi tersenyum sambil mengambil teh hangat dan meminumnya.


"Oh, ya ... apa kamu sudah bertemu dengan putraku, Nadira? Kalau belum, aku akan memperkenalkannya padamu sekarang," tanya Ibu Santi seraya hendak bangkit dari tempat duduknya.


Namun, sebelum Ibu Santi bangkit dari tempat duduk, Nadira segera menahan lengannya dan berkata, "Ibu tidak perlu melakukan itu. Tadi aku sudah bertemu dengannya sebentar. Kami juga sudah berkenalan."

__ADS_1


"Sungguh?"


"I–iya, Bu. Beliau sangat ramah padaku," jawab Nadira lagi.


Ibu Santi kembali menganggukan kepalanya sesaat. "Wah, aku tidak tahu dia bisa bersikap ramah pada orang baru. Seingatku, dia orang yang cukup sinis terhadap orang yang baru dikenalnya," ucap Ibu Santi.


Nadira hanya menanggapi ucapan Ibu Santi dengan senyuman samar. Tentu saja apa yang dikatakan Ibu Santi itu ada benarnya karena dulu saat pertama kali Nadira bertemu dengan Raka di pabrik, pria itu terlihat sinis padanya. Akan tetapi, setelah bekerja lebih dari tiga bulan lamanya, sikap pria itu pun berubah dan menjadi lebih ramah.


"A–aku pikir juga seperti itu," gumam Nadira pelan.


"Hmmmm. Tapi, syukurlah kalau dia tidak sinis padamu, itu berarti kamu cocok dengannya," sahut Ibu Santi yang langsung membuat Nadira terheran-heran.


"Maksudnya, Bu?"


"Hmmmm?"


"Apa maksud perkataan Ibu tadi?"


Seperti yang baru tersadar dari lamunan, Ibu Santi segera menggelengkan kepalanya dan meralat ucapannya.


"Ti–tidak. Maksudku ... kamu cocok untuk bekerja di sini dengannya," ucap Ibu Santi sambil memalingkan wajahnya.


"Oh ...."


Setelah percakapan singkat itu berakhir, Nadira pun berniat pamit kembali ke dapur bersama dengan Tiara yang terlihat sudah mengantuk. Dia akan membawa gadis kecilnya untuk beristirahat dulu di kamar.


"Baiklah, Bu. Kalau begitu saya akan membawa Tiara untuk beristirahat di kamar, sepertinya dia sudah mengantuk," kata Nadira.


"Hmmmm. Iya. Silakan kamu bawa dia untuk beristirahat."

__ADS_1


__ADS_2