Serpihan Hati Yang Disia-siakan

Serpihan Hati Yang Disia-siakan
Bab 65


__ADS_3

Keributan yang terjadi di antara Danu dan Anita baru selesai saat wanita hamil itu memaksa dan untuk pergi dari kosannya dan segera menghubungi pengacara Nadira dalam waktu 24 jam lamanya. Jika Danu tidak melakukan hal itu, maka dia tidak akan segan-segan melaporkan sang kekasih pada pihak berwajib.


"Akh, sial sekali aku harus menemui wanita itu. Padahal aku belum mau melepaskan Nadira untuk sekarang. Apalagi setelah kupikir-pikir Nadira lebih menurut daripada Anita," gumam Danu sambil menaiki sepeda motornya.


Pria itu segera beranjak dari halaman kosan Anita dan menuju kantor pengacara Nadira. Dia tidak memiliki nomor telepon pengacara itu, jadi harus menemuinya secara langsung ke alamat yang pernah diberikan olehnya.


Semoga saja pengacara itu tidak mempersulit ku mendapatkan nomor ponsel Nadira tanpa harus menandatangani surat perceraian saat ini juga, aku harus mengatur strategi dan memancing Nadira kembali ke sini, pikirnya lagi.


Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam lamanya, akhirnya Danu sampai di sebuah bangunan ruko yang disulap menjadi kantor pengacara. Suasana di sana tampak sepi karena hari sudah mulai beranjak sore. Pria itu segera turun dari kendaraannya dan memasuki bangunan ruko itu. Baru saja Danu hendak menarik handle pintu, rupanya orang yang dicarinya juga bermaksud untuk keluar dari bangunan tersebut.


"S–selamat sore, Bu ...," sapa Danu sedikit gugup.


"Iya, sore. Apa kamu–"


"Saya Danu, Bu. Saya suaminya Nadira," potong Danu dengan segera memperkenalkan namanya.


"Oh, iya. Ada perlu apa?" tanya wanita paruh baya itu pada suami kliennya.


"Aku ... aku berniat untuk meminta nomor ponsel atau alamat Nadira saat ini karena ada beberapa urusan pribadi kami yang belum benar-benar selesai. Aku juga merindukan putriku dan sangat ingin menemuinya. Bisakah Ibu memberikan apa yang aku minta?" tanya Danu dengan wajah memelas berharap dia bisa mengelabui pengacara itu.

__ADS_1


"Baik. Saya akan memberikan itu semua, asalkan kamu segera menandatangani surat perceraian kalian saat ini juga," jawab wanita paruh baya yang bernama Ibu Anira itu.


"Tapi, Bu ... saya–"


"Jika kamu tidak berniat untuk menandatangani perceraian kalian saat ini juga, memberikan apa yang kamu minta. Itu terserah kamu mau menandatanganinya sekarang atau kamu tidak akan bertemu dengan putrimu karena semuanya hanya permintaan klienku saja," jawab Ibu Anira dengan sedikit acuh.


Tangan Danu sedikit terkepal di samping tubuhnya, dia merasa kesal karena wanita paruh baya itu rupanya lebih mendengarkan Nadira daripada permintaan dirinya.


"Bu, apa Ibu tidak mengerti dengan kerinduanju terhadap Tiara, putri kami? Aku janji, aku akan segera menandatangani surat perceraian kami setelah aku bertemu dengan putriku. Aku mohon!" Lagi-lagi Danu menentukan wajah sedihnya sambil dengan tangan yang ia katupkan di depan dada, berharap Ibu Anira merasa iba padanya dan memberikan apa yang dia inginkan.


Namun, apa yang Danu harapkan rupanya tidak terjadi karena saat ini Ibu anirah hanya menggelengkan kepalanya pelan dengan wajah dingin sambil menatap Danu.


Danu mulai tidak bisa mengendalikan emosinya, dia justru menetap kesal pada wanita paruh baya yang ada di hadapannya.


"Bu, memangnya Ibu dibayar berapa oleh wanita itu, hah? Sampai-sampai Ibu tidak mau memberitahukan alamatnya atau bahkan nomor telepon wanita itu sendiri. Padahal, aku sudah mengatakan kalau aku merindukan putriku sendiri!" ucap Danu dengan suara lantang. Suasana yang sepi bahkan membuat suaranya menggema di bangunan ruko itu.


Ibu Anira tampak sedikit terkejut dengan suara lantang Danu. Akan tetapi, dia masih tetap kukuh tidak akan memberikan apa yang pria itu inginkan sebelum dia memenuhi keinginan kliennya.


"Beraninya kamu berbicara dengan lancang seperti ini padaku! Dia membayarku berapapun itu bukan alasan kamu! Kamu hanya perlu menandatangani surat perpisahan kalian dan urusannya pun selesai, tapi kenapa kamu malah mempersulit dirimu sendiri dengan tidak menandatangani perceraian kalian dengan cepat!"

__ADS_1


"Itu juga bukan urusan Ibu. Aku mempunyai alasan yang kuat menunda perceraian kami," sahut Danu dengan tegas.


"Baiklah, jika kamu terus memaksa untuk kembali menunda perceraian kalian. Maka sekarang pergilah dari sini karena aku juga tidak akan memberikan informasi apapun tentang klienku. Terima kasih," ucap wanita paruh baya itu sambil berlalu dari hadapan Danu dan segera keluar dari ruko tempatnya bekerja. Dia juga segera memanggilkan satpam yang ada di luar pintu untuk mengusir Danu dari sana, khawatir pria itu akan menggila saat didiamkan sendirian.


"Pak, jika urusan Anda sudah selesai, silakan keluar dari sini!" ucap satpam itu setelah menerima perintah dari Ibu Amira untuk mengusir Danu dari kantornya.


"Urusan saya belum selesai dengan Ibu Anira. Saya tidak akan pergi dari sini, sebelum dia memberikan alamat atau nomor telepon istri saya," jawab Danu.


Satpam itu tampak menoleh ke arah dimana atasannya berada. Sementara itu, Ibu Anira segera menggelengkan kepala saat mendengar perkataan Danu.


"Kalau memang kamu mau mendapatkan nomor teleponnya Nadira, maka seperti yang aku ucapkan tadi, segera tanda tangani surat perceraian kalian!" sahutnya.


Lagi-lagi Ibu Anira meminta Danu untuk menandatangani surat perceraian mereka. Pria itu tampak berpikir sesaat karena jika dia tidak segera mendapatkan nomor telepon Nadira dan menyelesaikan masalah mereka, maka bisa saja Anita juga melancarkan niatannya untuk melaporkan Danu ke kepolisian.


Aku tidak mungkin pulang tanpa membawa apapun. Apalagi Anita masih menyimpan video kami. Jika aku mengabaikannya sekarang, maka bisa saja dia bertindak nekat dan mengirimkan polisi untuk menjemputku besok, batinnya.


"Bagaimana? Apa kamu setuju untuk menandatangani surat perceraian kalian saat ini juga, atau kamu bisa pergi dari sini tanpa mendapatkan apapun yang kamu inginkan?" tanya Ibu Anira lagi karena melihat Danu yang hanya terdiam.


"Baiklah. Aku akan menandatangani surat perceraian kami. Sekarang, bisakah Ibu memberikan surat itu?"

__ADS_1


__ADS_2