Serpihan Hati Yang Disia-siakan

Serpihan Hati Yang Disia-siakan
Bab 76


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan selama sepuluh menit, akhirnya Nadira sampai di depan rumah kontrakannya. Dia segera membaringkan Tiara untuk segera menata belanjaan yang tadi belum sempat dibereskannya. Sepertinya ibu satu anak itu lupa kalau dirinya belum sempat sarapan karena dia tidak segera mengambil makanannya dan justru memilih untuk mengerjakan pekerjaannya lebih dulu. Entah sudah berapa lama Nadira hanyut dalam kegiatannya hingga membuat dia tidak menyadari waktu. Ditambah lagi Tiara yang tampak anteng dengan mainannya, hingga tiba-tiba ….


‘Tok … tok … tok ….’


Suara ketukan itu cukup membuat Nadira sadar dari kegiatannya. Wanita itu menoleh pada putrinya masih asyik bermain sendiri.


“Ya Tuhan … kenapa aku masih sempat-sempatnya melamun?” gumam Nadira seraya mengusap wajahnya.


Suara ketukan kembali terdengar. Bahkan, kini terdengar dengan cukup nyaring dan tidak sabar.


“Sebentar!” teriak Nadira sambil memangku Tiara. Ibu satu anak itu lekas menghampiri orang yang sedang menunggunya di luar.


“Siapa—”


‘PLAK’


Belum sempat Nadira menyelesaikan pertanyaannya, bahkan dia belum benar-benar melihat siapa orang yang datang mengunjunginya, tapi sudah lebih dulu menerima tamparan yang cukup membuat kulit wajahnya sedikit mati rasa sesaat, sebelum pada akhirnya terasa kebas.


Nadira yang masih terkejut dengan apa yang dialaminya, hanya bisa diam sambil menatap dua orang Wanita yang kini sedang berdiri angkuh di hadapannya, siapa lagi kalau bukan Ibu Kamila serta putrinya, Nera.


“Ke—kenapa kalian tiba-tiba menamparku?” tanya Nadira sambil memegangi wajahnya. Kini di wajah itu tampak jelas cap lima jari milik Ibu Kamila.


"Kamu masih berani bertanya? Apa kamu pura-pura lupa dengan apa yang sudah kamu lakukan?" tanya Ibu Kamila dengan suara lantang.

__ADS_1


"Tapi ... saya sungguh tidak tahu dengan maksud kalian. Memangnya apa yang sudah aku lakukan? Aku bahkan baru pulang tadi malam," jawab Nadira bingung dengan perlakuan kasar Ibu Kamila.


"Jangan pura-pura lupa ingatan kamu, Nadira! Apa kamu lupa kalau putriku pernah memintamu untuk menjauhi keluarga calon besan saya?" tanya Ibu Kamila lagi dengan suara yang lebih lantang hingga membuat beberapa tetangga yang sedang lewat menoleh pada mereka.


Nadira terdiam sesaat. Dia mulai paham kenapa Ibu Kamila datang dan tiba-tiba menamparnya.


"Oh, jadi karena kalian melihatku keluar dari rumah Ibu Nurul, kalian menganggap aku masih berusaha mendekati mereka?" tanya Nadira yang langsung diangguki Nera dengan semangat, sementara Ibu Kamila hanya diam sambil menatap Nadira tajam.


"Iya. Memangnya apa lagi?" Nera turut bersuara.


"Kalian salah. Bahkan, dari awal aku tidak pernah berusaha untuk mendekati mereka," ucap Nadira tegas.


"Bohong! Kalau memang kamu tidak pernah mendekati mereka, Andri tidak mungkin membandingkan putriku denganmu yang statusnya 'Janda'. Apalagi kamu sudah punya anak!" seru Ibu Kamila sambil menunjuk wajah Nadira.


Mendengar perkataan Ibu Kamila, Nadira tersenyum tipis. Menurutnya, apa yang dikatakan wanita paruh baya itu tidak lebih dari sekedar lelucon yang terdengar sangat mustahil. Jikalau pun Andri membandingkannya dengan Nera, dia sama sekali tidak peduli.


"Perlu Ibu ketahui, aku tidak peduli dengan apa yang Andri lakukan, selama itu tidak merugikanku. Jika memang dia membandingkanku dengan Nera, seharusnya kalian bertanya langsung padanya, apa yang kurang dari Nera. Jangan hanya menyudutkanku dengan hal yang sama sekali tidak aku mengerti," ucap Nadira.


"Dan untukmu, Nera ... bukankah aku sudah pernah mengatakan 'Jika laki-laki itu memang mencintaimu, dia tidak mungkin membandingkanmu. Apalagi dengan aku yang sudah punya anak'. Seharusnya kamu mengerti saat aku berkata seperti itu, bukan malah menyalahkan orang-orang yang berhubungan dekatnya!" sambung Nadira lagi yang langsung ditunjukkan untuk Nera.


Ibu Kamila tampak mengepalkan kedua tangannya saat mendengar ucapan Nadira untuk putrinya.


"Ibu seharusnya lebih menasihati Nera, jika memang Andri tidak mencintai Nera, seharusnya Ibu membuat Nera sadar kalau pria itu bukan pria yang terbaik untuknya. Jangan memaksakan kehendak seseorang demi kesenangan sendiri!" ucap Nadira tegas, berharap sepasang ibu dan anak itu mengerti kalau dirinya sama sekali tidak tertarik pada Andri dan berhenti mengganggunya.

__ADS_1


"Aku tidak ingin berdebat lagi dengan kalian. Silakan pergi dari sini karena aku ingin beristirahat!" kata Nadira lagi karena dia berbalik masuk kembali ke rumahnya, meninggalkan Ibu Kamila dan Nera yang masih mematung.


"Ma, bagaimana ini? Mama tidak akan memintaku untuk benar-benar meninggalkan Andri 'kan?" tanya Nera, tepat setelah melihat Nadira yang menutup pintunya rapat.


Ibu Kamila masih diam dan tidak menanggapi pertanyaan dari putrinya. Tentu saja dia juga tidak ingin pernikahan antara Andri dan Nera gagal begitu saja. Apalagi Ibu Kamila tahu kalau putrinya itu benar-benar mencintai dan sangat ingin memiliki Andri sebagai calon suaminya.


"Kamu tenang saja, Ner. Mama tidak akan membuat Andri menjauhimu. Bagaimanapun caranya, Mama akan pastikan dia tetap menikahimu!" jawab Ibu Kamila yang langsung membuat Nera tersenyum lebar.


"Apa mama bersungguh-sungguh?"


"Tentu saja Mama sungguh-sungguh, Ner. Mama juga tidak ingin sampai kehilangan kesempatan untuk menjadi besan Ibu Nurul. Kamu tahu itu 'kan?"


Nera menganggukkan kepalanya dengan semangat. "Tentu saja aku tahu, Ma. Aku juga ingin punya ibu mertua kaya seperti Ibu Nurul. Ya ... meskipun mereka hanya orang terkaya di kampung ini, tapi setidaknya aku tidak akan hidup kesusahan seperti teman-temanku yang lain," sahut Nera sambil tersenyum licik. Sepertinya kedua wanita itu lupa kalau mereka masih berada di kawasan orang lain saat sedang merencanakan niat buruk mereka.


Perkataan dari Nera membuat Nadira yang masih berdiri di belakang pintu hanya bisa menggelengkan kepala. Ya, dia belum benar-benar pergi meninggalkan Nera dan Ibu Kamila.


"Rupanya mereka bukan orang yang benar-benar tulus ingin menjadi bagian keluarga Ibu Nurul," gumam Nadira sambil mengusap dadanya.


"Sudahlah, sepertinya itu bukan urusanku. Lebih baik aku tidak mencari masalah lagi dengan dua keluarga itu," sambungnya lagi. Nadira pun kini berlalu menjauh dari daun pintu dan tidak mempedulikan obrolan Ibu Kamila serta Nera yang masih berdiri di depan terasnya. Dia lebih memilih untuk kembali melakukan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda.


Sementara itu, Ibu Kamila langsung membekap mulut Nera saat dia baru menyadari kalau keberadaan mereka masih berada di depan rumah Nadira.


"Shut! Seharusnya kita tidak membicarakan hal ini di sini. Bagaimana kalau Nadira mendengar perkataan kita tadi? Bisa-bisa dia langsung menyampaikannya pada Bu Nurul!" ucap Ibu Kamila sambil berbisik tepat di telinga putrinya.

__ADS_1


"Akh, iya, Ma ... aku lupa kalau kita masih berada di sini," sahut Nera.


"Sebaiknya kita segera pulang, ayo!" Ibu Kamila pun menari tangan Nera untuk pergi dari rumah kontrakan Nadira dan pulang ke rumah mereka. Kedua wanita itu berniat untuk kembali membicarakan rencana yang akan mereka lakukan ke depannya.


__ADS_2