
Setelah puas membuat Nadira terkulai lemah di atas lantai, Danu pun pergi dari rumah kontrakannya itu. Dia akan pergi ke rumah ibunya untuk menjemput Tiara. Danu juga berniat menjemput Anita supaya wanita itu tinggal di rumah Ibu Susan bersama Nia dan Erhan. Sebenarnya Danu ingin tinggal bersama Anita di rumah kontrakannya, tapi pasti orang-orang akan mencurigainya. Ditambah masalahnya dengan Nadira pun masih panas serta masih banyak para tetangga yang membicarakannya.
"Mas, kamu mau ke mana?" tanya Nadira seraya menahan tangan suaminya itu yang hendak pergi ke luar rumah.
"Lepas!" pekik Danu yang tidak ingin dirinya di sentuh Nadira.
'Akh'
Nadira terhempas ke belakang saat Danu menepis tangannya.
"Mas, kamu mau ke mana? Aku hanya ingin tahu keberadaan Tiara saja, Mas! Cepat kembalikan putriku!" pinta Nadira lagi. Dia sama sekali tidak menghiraukan rasa sakit yang dirasakannya di tangan. Nadira hanya ingin bertemu dengan Tiara saja.
"Ck. menyusahkan saja." Danu membanting pintu rumah kontrakan itu tanpa menjawab pertanyaan Nadira.
"Dasar wanita yang hanya bisa menyusahkan saja," gerutu Danu sambil terus melangkah lebar dengan kaki panjangnya.
***
Sementara itu, Nadira segera bangun dari duduknya. Dia harus segera menyusul Danu. Nadira benar-benar khawatir. Dengan langkah yang terseok-seok, wanita itu menggapai pintu rumah. Namun, Nadira harus kecewa karena ternyata Danu tidak lupa mengunci pintunya.
"Sial! Kenapa Mas Danu mengunci pintunya juga?" geram wanita itu.
Tidak patah semangat, Nadira berusaha mencari kunci cadangan yang ia simpan di tempat yang mungkin tidak pernah Danu duga, yaitu di dapur, lebih tepatnya di tempat bumbu kering.
"Alhamdulillah, rupanya masih ada."
Setelah mendapatkan apa yang dicarinya, Nadira pun bergegas kembali menuju pintu depan untuk segera menyusul Danu yang ia perkirakan pergi ke rumah ibu mertuanya, Ibu Susan. Akan tetapi, gerakan tangan wanita itu terhenti sebelum anak kunci yang digenggamnya masuk ke lubang.
__ADS_1
"Seharusnya aku tidak buru-buru pergi seperti ini. Aku pasti akan memerlukan anak kunci ini lain kali. Kalau aku gunakan sekarang, bisa-bisa Mas Danu mengambilnya," gumam Nadira. Akhirnya ia pun urung untuk menyusul Danu dan memilih duduk menunggu kedatangan suaminya itu. Nadira juga berharap Danu membawa Tiara bersamanya.
***
Di rumah Ibu Susan.
Sesampai di rumah sang ibu, Danu segera berjalan menuju kamar lamanya. Tadi dia membaringkan Tiara di sana sendirian karena ibunya enggan mengurusi Tiara. Danu melihat Tiara yang sedang mengemu* jarinya.
"Sepertinya dia haus," gumamnya.
Danu lantas segera menggendong Tiara untuk ia bawa pulang ke kontrakan dan memberikannya pada Nadira untuk disusui.
"Dan, kamu mau bawa Tiara ke mana?" tanya Nia yang baru saja keluar dari kamar.
"Aku mau bawa Tiara pulang, Mbak," jawab Danu seraya melangkah menuju pintu keluar.
"Ada, Mbak. Nadira sudah aku kurung di rumah. Dia tidak akan bisa kabur lagi."
"Oh, ya sudah kalau memang begitu. Lagi pula aku kerepotan kalau ada anakmu di sini," ucap Nia dengan enteng tanpa mempedulikan raut wajah adiknya yang tiba-tiba berubah.
"Anakmu juga tidak kalah merepotkanku, Mbak. Jadi, jangan asal bicara kalau kamu masih membutuhkan tenagaku!" seru Danu dengan kesal. Dia membanting pintu itu dengan cukup keras hingga membuat Tiara terkejut dan menangis.
Berbeda halnya dengan Nia yang masih terdiam di tempatnya karena dia lupa kalau saat ini keadaan Danu sedang tidak baik-baik saja dan bahkan bisa dikatakan sedang sensitif cenderung kejam.
"Astaga, apa yang baru saja aku katakan? Semoga Danu tidak memasukannya ke dalam hati. Jangan sampai dia tidak mau memenuhi tunjangan hidupku lagi nanti," gumamnya.
Ibu Susan keluar dari kamar saat mendengar suara keras. Namun, dia hanya melihat putrinya yang sedang terbengong.
__ADS_1
"Ni, tadi suara apa?" tanya wanita patuh baya itu seraya menepuk pundak Nia.
"Ibu?" Nia terkejut dengan sang ibu yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya.
"Siapa tadi yang membanting pintu, Ni? Apa suamimu marah-marah lagi?" tanya Ibu Susan.
"Eh, tidak, Bu. Itu Danu yang marah-marah."
"Danu? Kenapa dia marah-marah? Apa Nadira masih belum datang? Padahal ini sudah malam. Seharusnya dia sudah ada di sini kalau memang wanita itu menyayangi anaknya," ucap Ibu Susan yang merasa kesal dengan menantu perempuannya yang satu itu.
"Si Nadira sudah datang, Bu," sahut Nia yang turut kesal karena mendengar ibunya mengoceh terus. "Bahkan dia juga sudah membawa Tiara pulang ke kontrakan mereka," sambungnya lagi.
"Oh, ya? Lalu, kenapa Dnu marah-marah?" tanya Ibu Susan.
Nia terdiam karena tidak berani mengatakan alasan kenapa adiknya marah pada sang ibu karena pasti dia akan menerima ocehan yang panjang lebar. Maka dari itu dia hanya diam dan mengangkat bahunya sesaat.
"Aku tidak tahu, Bu. Mungkin Nadira yang sudah membuat dia kesal," jawabnya.
Ibu Susan terdengar mendengus kesal saat putrinya menyebut nama Nadira. Dia benar-benar membenci wanita yang merupakan menantunya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam, all. Mampir yu ke novel rekomendasiku 😊 ceritanya juga seru lho
"Anak laki-laki, walaupun sudah menikah ia tetap menjadi milik ibunya."
Namaku, Adhira Ulya. Ibuku pernah mengingatkan kata-kata itu padaku. Itulah yang membuatku berusaha menuruti keinginan ibu mertuaku. Lantas, haruskah selamanya kehidupan rumah tanggaku berdasarkan apa yang beliau inginkan?
__ADS_1