
Keesokan harinya, Nadira memulai aktivitas seperti biasa. Dia akan bangun saat pukul tiga dini hari dan segera memasak bahan dagangan yang sudah disiapkannya malam tadi. Meskipun kedua matanya masih teramat berat karena menahan kantuk, tapi ibu muda satu anak itu tetap berusaha untuk terjaga.
Ya Tuhan ... jangan sampai aku terlelap, gumamnya dalam hati.
Terkadang Nadira berpikir, kehidupannya yang dulu dan sekarang itu tidak ada bedanya. Dia baru menyadari kalau Danu rupanya sudah mendidiknya agar mandiri dalam situasi apapun. Terbukti, saat ini Nadira sudah mulai terbiasa dengan semua kesendiriannya. Rasa sakit yang ditorehkan oleh Danu dan keluarganya mampu membuat hati wanita itu kuat serta terus menerus menuntut dirinya supaya lebih baik.
Beberapa masakan termasuk dagangan utamanya, yaitu nasi uduk serta lauk pauknya sudah selesai dimasak saat Nadira menoleh ke arah jam yang menunjukkan pukul setengah enam. Dia segera mengangkut dagangannya itu ke meja yang ada di depan teras serta menata menu dagangan di sana, sementara untuk makanan yang di goreng, Nadira akan memasaknya di luar.
"Assalamualaikum, Nad!" sapa seorang pria muda yang tampaknya baru pulang dari mesjid. Itu terlihat karena dia masih mengenakan baju koko serta kain sarung yang jadi bawahnya, tidak lupa juga dengan kopiah yang masih terpasang rapi di kepala pria itu.
"Wa'alaikum salam, Ndri. Ada apa?" tanya Nadira sambil mengangkat tubuhnya yang baru saja selesai memasangkan tabung gas.
__ADS_1
"Apa kamu sudah mulai berjualan?" tanya Andri basa basi.
"Iya. Aku baru saja selesai dengan daganganku," sahut Nadira sambil menunjuk dagangannya.
Andri menganggukkan kepalanya. "Oh. Apa aku sudah bisa memesan?" tanyanya lagi.
"Silakan!"
Setelah dipersilahkan oleh Nadira, Andri pun segera mendekat dan mulai memilih makanan yang dia inginkan sambil diam-diam memperhatikan Nadira. Meskipun saat ini ibu muda itu dalam keadaan yang sangat sederhana, tapi tak mengurangi nilai kecantikannya di mata Andri.
Ya, Andri masih belum mengetahui status jelas Nadira karena Nadira meminta Ibu Nurul untuk tidak membicarakannya pada siapapun. Jadi, orang-orang yang ada di sana hanya mengetahui kalau Nadira masih jadi istri.
__ADS_1
"Kenapa kamu dari tadi terus menatapku seperti itu?" tanya Nadira saat dia merasa kalau pemuda di hadapannya memperhatikan gerak-geriknya.
"Hah? Oh, ti–tidak," jawab Andri sedikit gugup karena rupanya Nadira menyadari apa yang dia lakukan.
"Sebaiknya kamu jaga pandanganmu itu, Ndri. Aku tidak ingin Nera serta Mamanya mengira kalau aku menggodamu!" Nadira memberikan pesanan Andri yang baru selesai dibungkusnya sambil kembali berkata, "Jika memang kamu kurang cocok dengan kekasihmu, setidaknya bicarakan baik-baik dan jangan pernah bawa nama wanita lain untuk dibandingkan dengannya!"
Andri tampak terkejut dengan perkataan terakhir Nadira. Hal itu terlihat saat dia hampir menjatuhkan kantong kresek yang tadi diberikan Nadira padanya.
"A–apa maksudmu, Nad?" tanya Andri dengan terbata-bata. "Aku tidak mengerti," sambungnya lagi sambil membuang pandangannya ke arah lain.
"Jangan berpura-pura hilang ingatan, Ndri. Kamu memang tidak mengatakan apapun padaku, tapi gara-gara kamu membandingkanku dengan Nera, dia jadi salah paham dan mengira kalau kamu tertarik padaku. Sungguh, demi apapun ... aku tidak ingin dibenci oleh siapapun," ucap Nadira panjang lebar dengan mata yang menatap serius Andri.
__ADS_1
Sementara itu, Andri juga terdiam karena apa yang dikatakan Nadira ada benarnya. Dia merasa tidak cocok bersama Nera dan dia salah menggunakan Nadira untuk menghindari gadis itu.
"Maaf kalau aku sudah membawamu dalam urusanku. Tapi aku juga bersungguh-sungguh kalau aku memang tertarik padamu!"